TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara telah menyalurkan sebanyak 2.870.112 liter MinyaKita dalam program bantuan pangan pemerintah hingga pertengahan Juni 2026.
Jumlah tersebut merupakan sekitar 40,84 persen dari total alokasi bantuan minyak goreng yang mencapai 7,22 juta liter untuk masyarakat penerima manfaat di Sumatera Utara.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Sumut, Budi Cahyanto, mengatakan penyaluran MinyaKita dilakukan bersamaan dengan bantuan beras kepada keluarga penerima manfaat.
Dalam program bantuan pangan tersebut, setiap penerima memperoleh 20 kilogram beras dan empat liter minyak goreng secara gratis.
“Setiap masyarakat penerima bantuan mendapatkan dua sak beras dengan total 20 kilogram dan juga empat liter minyak. Jadi tidak beras dulu atau minyak dulu, tetapi diberikan secara bersamaan,” kata Budi di Kantor Wilayah Bulog Sumut, Jalan Gatot Subroto Medan, Rabu (10/6/2026).
Baca juga: Minyak Goreng 1.000 Rupiah untuk Pejuang Kecil: Ternyata Ada Kejutan di Baliknya
Ia menjelaskan, total alokasi minyak goreng dalam program bantuan pangan mencapai 7.227.000 liter lebih. Hingga saat ini, Bulog telah menyalurkan 2.870.112 liter kepada masyarakat.
Menurutnya, stok minyak yang dibutuhkan untuk menyelesaikan program tersebut telah tersedia dan siap didistribusikan.
“Target kami minggu kedua, minggu ketiga, dan minggu keempat Juni ini seluruh bantuan pangan bisa diselesaikan sehingga masyarakat yang memiliki hak menerima bantuan dapat segera mendapatkannya,” ujarnya.
Budi mengakui sempat terjadi sejumlah kendala dalam proses distribusi bantuan pangan, mulai dari faktor cuaca hingga gangguan pasokan listrik akibat robohnya jaringan transmisi yang memengaruhi proses pengemasan.
Namun demikian, seluruh kendala tersebut telah berhasil diatasi sehingga penyaluran bantuan dapat kembali berjalan normal.
“Memang kemarin ada beberapa kendala berkaitan dengan plastik, penyediaan minyak dan beras, ditambah faktor cuaca. Tapi hari ini semuanya sudah bisa kita atasi,” katanya.
Selain untuk program bantuan pangan, Bulog juga mendapat penugasan dari pemerintah dalam distribusi MinyaKita ke pasar.
Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2025, Bulog bersama ID Food mendapat porsi distribusi MinyaKita minimal 35 persen dari total penugasan pemerintah.
Sejak Januari hingga Juni 2026, Bulog Sumut telah memperoleh penugasan distribusi sebanyak 9.994.728 liter MinyaKita. Dari jumlah tersebut, sekitar 9,1 juta liter telah disalurkan ke pasar dan jaringan pengecer.
Budi memastikan MinyaKita yang didistribusikan tidak disimpan dalam gudang, melainkan langsung disalurkan kepada pengecer mau pun masyarakat melalui berbagai saluran distribusi yang telah ditetapkan pemerintah.
“Saya bisa pastikan minyak itu langsung kepada pengecer. Tidak ada yang kami simpan di gudang. Seluruhnya disalurkan sesuai ketentuan yang berlaku,” pungkasnya.
Pengantaran Langsung ke Mitra
Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara mengakui distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kepada pedagang Rumah Pangan Kita (RPK) masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama tingginya jumlah mitra yang harus dilayani setiap hari.
Pimpinan Wilayah Bulog Sumut, Budi Cahyanto, mengatakan, saat ini terdapat lebih dari 900 RPK di wilayah Medan yang menjadi mitra penyaluran beras SPHP.
Kondisi tersebut membuat Bulog harus mengatur sistem distribusi secara bertahap agar seluruh kebutuhan mitra dapat terpenuhi.
“Memang hari ini perlu ada upaya dari kami untuk teman-teman RPK. Pelayanannya sedang tinggi-tingginya,” ujar Budi di Medan, Rabu (10/6/2026).
Pernyataan itu menanggapi keluhan sejumlah pedagang RPK yang mengaku harus mengambil beras SPHP ke Gudang Bulog Medan Labuhan setelah distribusi dipusatkan di lokasi tersebut.
Menurut para pedagang, kebijakan tersebut meningkatkan biaya operasional karena jarak tempuh yang lebih jauh dibanding gudang-gudang Bulog lainnya.
Budi menjelaskan, saat ini Bulog tetap membuka opsi pengambilan langsung bagi RPK yang membutuhkan pasokan secara cepat. Namun untuk layanan pengantaran, penyaluran harus mengikuti jadwal distribusi yang telah disusun oleh masing-masing cabang.
“Kalau hari ini pesan dan ingin langsung dapat barang, silakan diambil. Tapi kalau menunggu pengantaran sesuai jadwal cabang, maksimal sekitar tiga hari,” katanya.
Ia menyebut, tingginya jumlah RPK menjadi tantangan tersendiri dalam proses distribusi. Setiap hari, Bulog harus melayani ratusan mitra yang mengajukan kebutuhan beras SPHP secara bergantian.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Bulog berencana memperkuat sistem distribusi melalui pola canvassing atau pengantaran langsung ke mitra.
Melalui sistem itu, Bulog akan mengirimkan beras menggunakan armada distribusi secara terjadwal sehingga pedagang tidak perlu selalu datang ke gudang untuk mengambil stok.