Pengurus NU NTT ke PBNU: Jangan Lupakan Kami yang Berjuang di Timur
Seno Tri Sulistiyono June 12, 2026 02:33 AM

 


TRIBUNNEWS.COM, KUPANG - Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di Nusa Tenggara Timur (NTT) berharap agar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ke depan lebih memberi perhatian kepada wilayah-wilayah luar Jawa yang menghadapi tantangan organisasi jauh lebih berat.

Harapan tersebut mengemuka dalam dialog antara kandidat calon Ketua Umum PBNU KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam dengan jajaran PWNU dan PCNU se-NTT di Hotel Neo Aston Kupang.

Dalam forum tersebut, para pengurus cabang NU dari berbagai daerah kepulauan di NTT menceritakan kondisi yang mereka hadapi, mulai dari tantangan geografis, keterbatasan akses transportasi, hingga kebutuhan penguatan pendidikan keagamaan melalui pondok pesantren.

Baca juga: Gus Salam Bertemu PWNU Bengkulu, Dorong PBNU Lebih Serius Dampingi Daerah

Ketua PCNU Kabupaten Alor, Kiai Latif Daka, mengatakan NU di NTT membutuhkan dukungan yang lebih besar dari PBNU agar organisasi dapat berkembang dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Menurutnya, pengurus NU di kawasan timur Indonesia sering menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan daerah-daerah di Pulau Jawa.

"Kami berharap PBNU memiliki perhatian yang lebih besar terhadap NU di luar Jawa, khususnya NTT. Harapan kami, suatu saat NU di NTT juga memiliki lebih banyak pondok pesantren sebagaimana yang berkembang di Jawa," ujarnya dalam keterangan yang diterima, Kamis (11/6/2026).

Harapan serupa disampaikan perwakilan PCNU Malaka, Kiai Zainal Muttaqin. Zainal berharap kepemimpinan PBNU mendatang mampu merangkul seluruh cabang NU tanpa membedakan wilayah.

Menurutnya, penguatan sektor pendidikan menjadi salah satu kebutuhan utama bagi NU di daerah perbatasan dan kepulauan.

"Kepemimpinan PBNU ke depan diharapkan dapat memperkuat kebersamaan dan mendukung pengembangan program pendidikan di daerah-daerah luar Jawa," katanya.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Gus Salam menegaskan pentingnya pondok pesantren sebagai pusat pendidikan, pembentukan karakter, sekaligus benteng ideologis masyarakat.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang itu, pesantren selama ini telah melahirkan banyak tokoh masyarakat serta menjadi ruang pembinaan generasi muda yang mencintai agama dan bangsa.

"Pesantren tidak hanya mendidik ilmu keagamaan, tetapi juga menanamkan kemandirian, kepedulian sosial, serta semangat menjaga persatuan dan kebangsaan," kata Gus Salam.

Dia menilai penguatan pesantren menjadi salah satu strategi penting dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi NU di wilayah perbatasan maupun kepulauan.

Sejumlah pengurus PCNU juga menyampaikan dukungan atas pendekatan yang dibangun Gus Salam selama berdialog dengan kader NU di NTT, di mana pemaparan yang disampaikan lebih menekankan persatuan organisasi dan penguatan program pendidikan daripada menyerang pihak lain.

Di akhir pertemuan, Gus Salam mengajak seluruh kader dan warga NU di NTT untuk terus menjaga kerukunan serta menjadi teladan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman.

Dia menegaskan NU harus tetap berada di garis depan dalam merawat toleransi, memperkuat persaudaraan, dan menjaga kebhinekaan yang menjadi karakter masyarakat Nusa Tenggara Timur.

"NU harus terus hadir sebagai perekat sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Semangat toleransi dan kebersamaan harus terus kita jaga bersama," tandas dia.

Muktamar ke-35 NU

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026, setelah sebelumnya PBNU menetapkan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) digelar pada April 2026. 

"Terkait agenda organisasi, rapat menetapkan Munas dan Konbes NU 2026 akan digelar pada bulan Syawal 1447 H atau April 2026, sementara Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026," kata Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.

Agenda ini menjadi forum tertinggi dalam organisasi NU untuk menentukan arah kebijakan, kepemimpinan, serta konsolidasi jam’iyyah di tengah dinamika sosial, politik, dan keagamaan nasional.

Muktamar NU merupakan momentum penting karena di forum inilah dilakukan evaluasi terhadap program kerja PBNU, pembahasan isu-isu strategis umat, serta pemilihan kepemimpinan baru, khususnya posisi Rais Aam dan Ketua Umum Tanfidziyah. 

Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, keputusan yang dihasilkan dalam Muktamar biasanya memiliki dampak luas, tidak hanya bagi warga nahdliyin, tetapi juga bagi arah kebijakan keagamaan dan sosial di tingkat nasional.

Selain aspek kepemimpinan, Muktamar ke-35 NU juga akan menjadi ajang pembahasan isu-isu aktual yang dihadapi umat Islam dan bangsa Indonesia. 

Tema-tema seperti moderasi beragama, peran NU dalam menjaga persatuan nasional, serta respons terhadap tantangan global seperti disrupsi teknologi dan geopolitik diperkirakan akan menjadi bagian dari agenda pembahasan. 

Dengan basis kultural yang kuat melalui jaringan pesantren dan organisasi masyarakat, NU diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan zaman.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.