TRIBUNNEWS.COM - Kemenangan 2-0 tuan rumah Meksiko atas Afrika Selatan pada laga pembuka Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Jumat (12/6/2026) tak cukup mengejutkan.
Banyak pihak yang menilai El Tri memang cukup diunggulkan di Grup A mengingat status mereka sebagai tuan rumah.
Football Enthusiast Bayu Ajianto dalam podcast SUPER TAKTIK di Youttube Tribunnews beberapa waktu lalu mengungkapkan pandangannya.
"Meksiko paling diunggulkan ke 16 besar karena tuan rumah, siapa yang menemani ini yang seru, bisa Korea Selatan, atau Ceko yang mungkin membuat kejutan, dan ada juga peluang lewat jalur peringkat tiga terbaik," kata dia.
Sorotan atas hasil laga pembuka yang lebih besar tertuju kepada sosok pencetak gol pertama turnamen, Julian Quinones.
Pemain yang kini bermain di Liga Arab Saudi dengan membela Al Qadsiah itu mencetak gol pada menit ke-9' sebelum akhirnya Meksiko menggandakan di menit 67' melalui Raul Jimenez.
Gol pertama yang lahir pada menit kesembilan itu ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih menarik dibanding sekadar statistik pertandingan.
Di baliknya terdapat kisah tentang naturalisasi, perjalanan panjang dari Kolombia ke Meksiko, hingga jejak Liga Arab Saudi yang kini mulai terasa di panggung sepak bola dunia.
Baca juga: Fakta Laga Pembuka Piala Dunia 2026: Meksiko Tak Cuma Menang, Rekor Langka dan Sejarah Baru Tercipta
Quinones membuka keunggulan Meksiko setelah memanfaatkan bola hasil perebutan Erik Lira di depan kotak penalti Afrika Selatan.
Dengan tenang, ia melewati kawalan lawan sebelum melepaskan tembakan yang melewati sela kaki kiper Ronwen Williams.
Gol tersebut langsung masuk buku sejarah.
Menurut Squawka, Quinones menjadi pemain pertama dari kawasan CONCACAF yang berhasil mencetak gol pertama dalam sebuah edisi Piala Dunia.
Catatan tersebut cukup spesial mengingat sepanjang sejarah turnamen, gol pembuka biasanya lahir dari pemain-pemain Eropa atau Amerika Selatan.
Tak hanya itu, golnya juga menjadi yang tercepat dalam laga pembuka Piala Dunia sejak Philipp Lahm mencetak gol untuk Jerman pada edisi 2006.
Penampilan Quinones pun sangat dominan. Ia mencetak satu gol, menciptakan dua peluang, melepaskan lima tembakan, serta menjadi pemain dengan jumlah dribel sukses terbanyak dalam pertandingan tersebut.
Penyernag berusia 29 tahun ini akhirnya dinobatkan sebagat player of the match di laga pembuka antara Meksiko vs Afrika Selatan ini.
"Saya senang dan bersemangat bisa mencetak gol pertama saya di Piala Dunia, di stadion yang luar biasa dengan dukungan suporter yang fantastis," ujar Quinones usai pertandingan.
Ada fakta lain yang membuat gol Quinones semakin menarik.
Pemain berusia 29 tahun itu saat ini memperkuat Al Qadsiah di Liga Pro Arab Saudi.
Menurut catatan media Arab Saudi, Quinones menjadi pemain pertama dalam sejarah yang berstatus pemain Liga Arab Saudi yang berhasil mencetak gol pada laga pembuka Piala Dunia.
Prestasinya bukan datang secara tiba-tiba.
Sejak bergabung dengan Al Qadsiah pada 2024, performanya terus menanjak.
Dalam dua musim terakhir, ia menjadi salah satu penyerang paling produktif di Timur Tengah.
Musim 2025/2026 menjadi puncaknya. Quinones keluar sebagai top skor Liga Pro Arab Saudi dengan koleksi 33 gol dari 31 pertandingan.
Ia juga unggul atas sejumlah nama besar yang bermain di kompetisi tersebut seperti Cristiano Ronaldo yang mencetak 28 gol untuk Al Nassr dan striker Inggris, Ivan Toney yang membuat 32 gol untuk Al Ahli.
Berkat gelontoran gol-golnya, Quinones membantu Al Qadsiah finis di peringkat empat besar klasemen Liga Arab Saudi.
Produktivitas itulah yang kemudian terbawa ke tim nasional Meksiko.
Baca juga: Raul Jimenez: Dari Cedera Mengancam Nyawa ke Gol Bersejarah di Piala Dunia 2026
Namun bagian paling menarik dari kisah Quinones justru berada jauh sebelum gol bersejarah itu tercipta.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa ia sebenarnya lahir di Magui Payan, Kolombia.
Saat berusia 17 tahun, bakatnya ditemukan pemandu bakat klub Meksiko dan sejak saat itu hidupnya berubah.
Ia merantau ke Meksiko, membangun karier profesional, hingga akhirnya merasa negara tersebut sebagai rumah keduanya.
Ketika tampil gemilang bersama klub-klub Meksiko, federasi sepak bola Kolombia sempat menghubunginya untuk memperkuat tim nasional.
Akan tetapi, pada saat yang sama Meksiko juga mengajukan tawaran serupa.
Pilihan Quinones ternyata tegas.
Ia menolak Kolombia dan memilih mengenakan seragam El Tri.
Dalam sebuah wawancara, Quinones mengaku keputusan tersebut diambil karena rasa terima kasihnya kepada Meksiko.
"Ketika saya berusia empat tahun, saya datang ke Meksiko dan tidak pernah kembali ke Kolombia. Saya tinggal di sini karena saya merasa damai dan nyaman. Orang-orang telah memperlakukan saya dengan sangat baik," ujarnya, dikutip dari Arriyadiyah.
"Meksiko memberi saya segalanya. Saya mendapatkan ketenangan, kesempatan, dan kehidupan yang saya impikan. Cara terbaik untuk berterima kasih adalah dengan membela tim nasional Meksiko,
Bahkan ketika federasi Kolombia kembali menghubunginya, jawabannya tetap sama, yakni tidak.
Di era modern, naturalisasi sering memunculkan perdebatan. Namun kisah Quinones menunjukkan sisi lain dari proses tersebut.
Ia bukan pemain yang berpindah negara karena proyek jangka pendek. Sebaliknya, ia tumbuh, berkarier, dan membangun hidupnya di Meksiko selama hampir satu dekade sebelum akhirnya resmi menjadi warga negara dan membela tim nasional.
Kini, keputusan itu terbayar lunas. Di hadapan lebih dari 80 ribu penonton yang memadati Stadion Azteca, pemain kelahiran Kolombia tersebut justru menjadi orang pertama yang membawa Meksiko masuk sejarah Piala Dunia 2026.
Ironis sekaligus indah. Gol pertama turnamen terbesar sepak bola dunia tahun ini lahir dari kaki seorang pemain yang lahir di Kolombia, bersinar di Meksiko, berkembang di Liga Arab Saudi, dan kini menjadi pahlawan bagi tuan rumah Piala Dunia.
(Tribunnews.com/Tio)