Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat memahami keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate di tengah penguatan dolar AS dan tingginya ketidakpastian ekonomi global.
Meski kebijakan tersebut menambah beban dunia usaha, stabilitas ekonomi dinilai tetap menjadi kebutuhan utama bagi pelaku usaha.
Ketua Apindo Jawa Barat, Ning Wahyu, mengatakan kenaikan BI-Rate merupakan instrumen kebijakan yang memang perlu ditempuh untuk menjaga nilai tukar rupiah dan kepercayaan pasar.
Baca juga: Tahan Dulu Kredit Baru, Ini Saran Pengamat Ekonomi untuk Masyarakat saat BI-Rate Naik
“Pada prinsipnya Apindo memahami keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate di tengah penguatan dolar AS dan tingginya ketidakpastian global. Kami melihat langkah ini sebagai instrumen kebijakan yang memang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan pasar,” kata Ning saat dihubungi, Jumat (12/6/2026).
Ia mengakui bahwa keputusan tersebut bukan pilihan yang mudah. Pemerintah dan Bank Indonesia harus menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi makro dan keberlangsungan sektor riil.
“Tentu ini bukan keputusan yang mudah karena di satu sisi diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi makro, namun di sisi lain juga menambah beban bagi dunia usaha,” ujarnya.
Menurut Ning, yang paling dibutuhkan pelaku usaha bukan hanya bunga yang rendah, melainkan kepastian dalam menjalankan kegiatan bisnis.
“Bagi dunia usaha, yang terpenting bukan hanya tingkat suku bunga, tetapi juga terciptanya stabilitas dan kepastian dalam menjalankan kegiatan usaha,” katanya.
Ia menilai, apabila kenaikan BI-Rate mampu menjaga stabilitas rupiah dan meredam gejolak pasar, maka manfaatnya juga dapat dirasakan oleh sektor riil.
“Jika kenaikan BI-Rate mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengurangi volatilitas pasar, dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam menyusun perencanaan bisnis, maka manfaatnya juga akan dirasakan oleh sektor riil,” tutur Ning.
Namun demikian, ketidakpastian global membuat banyak pelaku usaha mulai bersikap lebih hati-hati dalam mengambil keputusan bisnis.
Baca juga: BI-Rate Naik, Debitur Diminta Bersiap: Cicilan KPR Berpotensi Bertambah
“Potensi tersebut tentu ada di tengah biaya pinjaman yang meningkat dan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, sebagian pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi maupun ekspansi. Banyak pengusaha memilih untuk wait and see sambil mencermati perkembangan ekonomi dan pasar,” ujarnya.
Menurut dia, perusahaan kini lebih fokus menjaga daya tahan usaha.
“Banyak perusahaan saat ini lebih fokus menjaga likuiditas, meningkatkan efisiensi, menunda penerimaan karyawan baru, serta memastikan keberlangsungan usaha tetap terjaga,” katanya.
Ke depan, Apindo berharap pemerintah dan Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan agar stabilitas ekonomi tetap terjaga tanpa mengorbankan pertumbuhan sektor usaha.
Apindo juga mendorong sejumlah langkah strategis, mulai dari menjaga stabilitas nilai tukar, meningkatkan efisiensi biaya logistik, mempercepat deregulasi dan kemudahan berusaha, memperkuat industri hulu dalam negeri, hingga memberikan dukungan bagi sektor yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.
Pada akhirnya, kata Ning, kepastian menjadi faktor terpenting bagi dunia usaha untuk kembali percaya diri mengambil keputusan investasi.
“Bagi dunia usaha, suku bunga tentu penting karena berpengaruh terhadap biaya pembiayaan dan investasi. Namun yang lebih penting bagi kami adalah kepastian. Kepastian nilai tukar, kepastian kebijakan, dan kepastian arah perekonomian. Dengan kepastian tersebut, pelaku usaha akan lebih percaya diri untuk berinvestasi, melakukan ekspansi, meningkatkan produksi, dan pada akhirnya menciptakan lebih banyak lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.