Sulitnya Ekonomi di Jakarta, Emak-emak Sampai Rela Punguti Sampah Sayuran di Pasar demi Lauk Makan
Ferdinand Waskita Suryacahya June 12, 2026 03:52 PM

 

TRIBUNJAKARTA.COM, TANAH ABANG - Sulitnya kondisi ekonomi saat ini dirasakan masyarakat menengah ke bawah di Jakarta. 

Demi memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, sejumlah emak-emak bahkan harus memunguti sisa sayuran dan buah-buahan dari tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

Aktivitas itu menjadi rutinitas yang dijalani Zubaidah dan Siti Nurhayati. Keduanya merupakan warga Rusun Mulya Jaya, Bambu Apus, Jakarta Timur.

Mereka hampir setiap hari datang ke Pasar Induk Kramat Jati menggunakan transportasi JakLingko untuk mencari bahan makanan yang masih layak konsumsi.

Zubaidah dan Siti menyusuri tumpukan sampah pasar untuk mencari sayuran maupun buah yang masih bisa dimanfaatkan.

"Di pasar kan banyak sayuran sama buah yang pada dibuangin, nah itu saya pungutin dicari yang masih bagus," ujar Zubaidah saat ditemui TribunJakarta.com di kantor Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta di kawasan Cideng, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026).

Menurut dia, berbagai jenis sayuran seperti sawi putih, sawi hijau, wortel, kentang hingga cabai sering ditemukan di lokasi tersebut. 

Bahkan, kentang yang sudah mulai membusuk pun masih dipilah untuk mengambil bagian yang masih bagus.

"Kadang wortel, kentang yang udah busuk saya korek lagi, yang bagus saya ambil. Kadang cabai, buah-buahan kayak jeruk juga," katanya.

Tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri, sebagian hasil temuannya terkadang dijual kembali untuk memenuhi kebutuhan lain. 

Uang hasil penjualan sayuran bekas itu digunakan untuk membeli gas elpiji agar bisa memasak.

"Kadang-kadang saya udah dapat sayuran di induk, saya mau masak gas enggak ada, saya jual sayuran Rp 5000 per kantong buat beli gas," ungkapnya.

Kondisi ekonomi yang sulit juga membuat Zubaidah kerap berutang untuk membeli beras. Ia mengaku tidak selalu memegang uang setiap hari karena penghasilan suaminya tidak menentu.

"Beras kadang-kadang saya ngutang, biarpun setengah liter saya ngutang," tuturnya.

Nasib serupa dialami Siti Nurhayati. Ia mengaku harus berjuang mencari tambahan penghasilan karena pendapatan suaminya sebagai sopir bajaj terus menurun.

Menurut Siti, kehadiran layanan transportasi lain membuat penghasilan suaminya tidak lagi mencukupi kebutuhan keluarga. 

Dalam sehari, suaminya terkadang hanya membawa pulang uang sekitar Rp 50.000 setelah dikurangi biaya operasional.

Untuk menyambung hidup, Siti menerima pekerjaan serabutan seperti mencuci dan menyetrika pakaian milik tetangga. 

Selain itu, ia juga ikut mencari sayuran bekas di Pasar Induk Kramat Jati demi memastikan ketiga anaknya tetap bisa makan.

"Karena kan saya harus bertahan untuk anak-anak saya yang tiga ini. Ya sebisanya saya nyari buat makan anak-anak saya," ujarnya.

Di tengah perjuangan ekonomi tersebut, Siti juga menghadapi persoalan lain. 

Ia mengaku tiga anaknya belum bisa mengakses pendidikan karena terkendala administrasi kependudukan. 

Nomor Induk Kependudukan (NIK) miliknya disebut dibekukan sehingga proses pendaftaran sekolah anak-anaknya terhambat.

Hal itulah yang membuat dirinya bersama sejumlah warga Rusun Mulya Jaya mendatangi Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman agar mereka bisa mendapatkan dokumen kependudukan.

"Anak saya pada kagak ada yang sekolah. Yang nomor tiga umur 8 tahun harusnya sekolah, enggak bisa didaftarin karena NIK saya dibekukan," ujarnya.

BERITA TERKAIT

    • Baca juga: Aksi Heroik Emak-emak di Cengkareng Gagalkan Pencurian Motor Meski Ditodong Senjata Api

    • Baca juga: Ujung Tombak Keuangan, Emak-emak Sudah Keluhkan Kenaikan Sembako Imbas Melemahnya Rupiah

    • Baca juga: Bawa Speaker dan Mic, Aksi Berbahaya Emak-emak Bikin Ricuh Konser Afgan, Penonton Teriak

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.