Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Pelaksanaan Kirab Suro Keraton Solo masih menunggu keputusan dari pihak internal keraton.
Menjelang agenda budaya tahunan tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menegaskan hanya akan berfokus pada aspek pengamanan dan tidak akan mencampuri keputusan terkait pelaksanaan kirab oleh masing-masing kubu.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo, Budi Murtono, mengatakan hingga saat ini Pemkot Solo belum menjadwalkan pertemuan untuk mempertemukan dua kubu yang ada di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta.
“Itu yang kita menunggu itu (keputusan dua kubu). Intinya kita menunggu pihak mereka. Kita membantu dalam hal pengamanan saja. Belum (mengagendakan rapat dengan dua kubu),” jelasnya saat ditemui, Jumat (12/6/2026), di kantornya.
Menurut Budi, Pemkot Solo berharap prosesi Kirab Suro dapat berjalan lancar dan khidmat.
Namun, terkait apakah kirab akan dilaksanakan bersama atau terpisah oleh masing-masing kubu, keputusan sepenuhnya berada di tangan pihak keraton.
“Pemkot ingin agar pelaksanaan Kirab Suro di Keraton bisa berjalan dengan baik. Sementara ini kami belum mengadakan rapat atau pertemuan dulu. Kami menunggu pihak di sana,” jelasnya.
Sebelumnya, Pelaksana Keraton Solo KGPHPA Tedjowulan meminta agar pertemuan yang difasilitasi Pemkot Solo digelar pada Sabtu-Minggu (13-14/6/2026).
Namun hingga kini belum ada agenda resmi yang disiapkan pemerintah daerah terkait permintaan tersebut.
“Intinya kami Pemkot ingin mengamankan jalannya pelaksanaan kirab. Perkara dari pihak Keraton Kasunanan akan melaksanakan kirab atau siapa kita masih menunggu. Belum,” ujar Budi.
Baca juga: Dua Kubu Keraton Solo Gelar Kirab Suro, Tedjowulan Khawatir Masing-masing Kelompok Saling Bertemu
Budi mengungkapkan seluruh pihak yang terlibat telah berkomunikasi dengan Pemkot Solo terkait pelaksanaan Kirab Suro.
Mereka di antaranya KGPHPA Tedjowulan, Pakubuwono XIV Hangabehi (Mangkubumi), dan Pakubuwono XIV Purboyo.
Menurutnya, sebagian komunikasi dilakukan melalui surat resmi, sementara sebagian lainnya dilakukan secara lisan.
“Dari pihak keraton mengirim surat ke kami. Tapi sampai saat ini masih menunggu dulu. Yang mengirim surat ke kita kan semua pihak ada yang dari pihaknya Tedjowulan ngirim, Mangkubumi juga. Komunikasi secara lisan (Purboyo),” terang Budi.
(*)