Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Aliansi NTT Menggugat menggelar demonstrasi di bundaran El Tari atau di sekitar kawasan Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang, Jumat (12/6/2026). Mahasiswa menuntut agar Pemerintah segera menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Mahasiswa yang dari berbagai kelompok itu membawa sejumlah spanduk bertuliskan desakan agar Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka agar tidak menindas rakyat.
Mahasiswa menyerukan adanya konsolidasi masyarakat agar melawan kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Mereka berorasi bergantian mengkritik kondisi perekonomian nasional yang semakin membebani masyarakat.
Koordinator Umum Aliansi NTT Menggugat, Ama Makin, menyoroti lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang disebut telah mencapai Rp 16.250 per liter dan mendesak pemerintah segera mengambil langkah untuk meringankan beban rakyat.
Dia menilai tahun 2026 menjadi periode yang buruk bagi perekonomian Indonesia. Menurutnya, penderitaan rakyat semakin meningkat seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berdampak pada kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.
Ia menilai pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, termasuk situasi geopolitik internasional, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak dunia dan menekan ekonomi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Aliansi NTT Menggugat mengklaim nilai tukar rupiah telah mencapai Rp 18.197 per dolar AS. Kondisi tersebut, menurut Ama Makin, berdampak langsung terhadap kenaikan harga barang impor dan bahan baku industri yang masih didominasi impor.
“Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS telah membawa dampak yang luas dalam kehidupan masyarakat. Harga barang-barang impor naik sehingga mendorong lonjakan harga barang-barang lain,” ujar Ama Makin membacakan pernyataan sikap.
Baca juga: Aliansi Rakyat Menggugat Gelar Aksi di Kejati NTT, Tuntut Hentikan Perampasan Tanah di Rote Ndao
Ia menambahkan, masyarakat kini mulai kesulitan memperoleh sejumlah kebutuhan pokok. Selain daging, bawang, minyak goreng dan beras, harga BBM juga disebut mengalami lonjakan signifikan.
“Masyarakat kesulitan mendapatkan daging, bawang, minyak goreng, beras hingga BBM yang melejit naik mencapai Rp 16.250,” katanya.
Menurut Ama Makin, kenaikan harga BBM memiliki efek berantai terhadap seluruh sektor ekonomi karena meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang. Kondisi itu kemudian mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok yang semakin menekan daya beli masyarakat.
Selain persoalan ekonomi, Aliansi NTT Menggugat juga mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, Proyek Strategis Nasional (PSN), serta pembangunan Batalyon Teritorial Pembangunan. Aliansi menilai berbagai program tersebut tidak menjawab persoalan utama yang sedang dihadapi rakyat.
Dia berkata, ada 27 tuntutan yang disuarakan mahasiswa. Desakan itu, bagi dia semata ingin adanya keberpihakan pemerintah terhadap suasana nasional yang kian tertekan.
"Turunkan harga BBM dan kebutuhan pokok rakyat. Hentikan seluruh Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai merugikan rakyat," kata dia mengutip dua dari puluhan tuntutan mahasiswa.
Aliansi NTT Menggugat juga meminta pemerintah untuk keluar dari keanggotaan BOP dan ATR serta menghentikan segala bentuk kerja sama internasional yang dianggap tidak menguntungkan rakyat.
Demikian juga, ujar dia, perlu ada penghentian pembangunan Batalyon Teritorial Pembangunan dan penolakan terhadap pembangunan SPPG di kampus.
Ama Makin menegaskan tuntutan tersebut merupakan bentuk respons atas kondisi ekonomi dan sosial yang dinilai semakin membebani masyarakat.
Menurutnya, pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret untuk mengendalikan harga BBM dan kebutuhan pokok yang saat ini menjadi persoalan paling dirasakan rakyat. (fan)