Bima Sakti Beber Tantangan Berat Latih Persela, Dari Krisis Mental hingga Prestasi
Wiwit Purwanto June 12, 2026 07:32 PM

 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Musim pertama bersama Persela Lamongan menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam perjalanan kepelatihan Bima Sakti.

Datang saat tim berada dalam situasi sulit, ia dihadapkan pada tantangan membangkitkan kembali mentalitas pemain yang tengah diliputi keraguan dan ketidakpastian.

Mantan pelatih Timnas Indonesia itu bergabung dengan Persela pada akhir Desember 2025 ketika kompetisi Liga 2 musim 2025/2026 sedang berlangsung. Saat itu, kondisi tim disebut tidak ideal karena motivasi pemain menurun dan muncul berbagai pertanyaan mengenai kondisi manajemen klub.

“Tidak mudah. Saya masih ingat tanggal 28 Desember saya datang, kemudian tanggal 30 mulai latihan. Saya pikir itu enggak ada di pelajaran kursus kita dari mulai lisensi C sampai A Pro,” kata Bima Sakti, Jumat (12/6/2026).

Menurut Bima, situasi yang dihadapinya kala itu menjadi ujian tersendiri yang belum pernah ia pelajari dalam pendidikan kepelatihan formal.

Baca juga: Alasan Bima Sakti Terima Kembali Tawaran Menjadi Pelatih Persela, Dukungan Suporter 

“Biasanya kita diajarkan bagaimana memaintain sebuah tim. Tapi yang kemarin ini benar-benar saya mendapat satu ujian yang menurut saya berat," tambahnya.

Bangkitkan Mental Pemain di Tengah Keraguan

Bima menjelaskan, persoalan utama yang harus segera diselesaikan bukan hanya aspek teknis di lapangan, melainkan kondisi psikologis para pemain.

“Karena motivasi pemain menurun, kemudian trust pemain terhadap manajemen juga waktu itu belum tahu bagaimana. Gaji juga belum tahu lancar atau tidak, jadi mereka banyak bertanya-tanya.”

Untuk mengatasi situasi tersebut, ia memilih melakukan pendekatan secara personal kepada para pemain. Langkah itu dilakukan agar mereka kembali memiliki keyakinan terhadap tim dan fokus menghadapi kompetisi.

“Saya masuk perlahan-lahan memberikan masukan buat mereka sehingga mereka bangkit," katanya.

Seiring berjalannya waktu, suasana di dalam tim mulai berubah. Kekhawatiran yang sebelumnya membebani para pemain perlahan menghilang setelah manajemen menunjukkan komitmen penuh dalam mendukung kebutuhan tim.

Baca juga: Gerak Cepat Persela Jelang Musim 2026/2027, Rekrut Pemain Sesuai Kebutuhan Bima Sakti

“Ternyata apa yang mereka khawatirkan selama ini tidak terjadi. Tim semakin baik, manajemen memberikan support yang luar biasa.”

Menurut Bima, ketepatan pembayaran gaji dan bonus menjadi salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap meningkatnya kepercayaan diri para pemain.

“Gaji yang mereka takutkan bakal terlambat, ternyata tidak pernah terlambat," katanya.

“Mereka selalu diberikan tepat waktu, bahkan bonus juga begitu. Setelah pertandingan, langsung dibayar. Artinya keringat belum kering sudah dibayar. Akhirnya mereka tumbuh rasa kepercayaan diri.”

Belajar Mengelola Klub Profesional

Selain menghadapi tantangan membangun kembali mental tim, Bima juga mendapatkan pengalaman baru dalam mengelola skuad klub profesional. Sebelumnya, ia lebih banyak menangani tim nasional kelompok usia muda.

Di Persela, ia dituntut beradaptasi cepat dengan komposisi pemain yang sudah terbentuk saat kompetisi berlangsung.

“Yang pertama saya harus bisa mengombinasi pemain-pemain yang sudah ada. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Coach Aji yang sebelumnya memegang Persela," ujarnya.

“Bahkan sebelum hadir ke Lamongan saya sempat bertemu beliau untuk meminta saran dan masukan.”

Bima mengungkapkan banyak mendapat dukungan dari para mantan pelatih Persela. Mereka menilai klub berjuluk Laskar Joko Tingkir tersebut merupakan tempat yang tepat bagi pelatih untuk berkembang.

“Banyak pelatih yang mantan pelatih Persela men-support saya. Mereka bilang, kalau mau banyak belajar dan berkembang sebagai pelatih, coba di Persela karena support-nya sangat luar biasa,” ujarnya.

Tantangan berikutnya adalah menyatukan pemain senior, pemain muda, dan legiun asing sesuai kebutuhan tim di tengah jadwal kompetisi yang padat.

“Apalagi saya mengenal mereka saat kompetisi sudah berjalan. Ini tidak mudah, karena membangun tim itu harus tahu karakter pemain sejak awal. Sementara kami hanya latihan empat atau lima hari lalu langsung kompetisi,” jelasnya.

Ia menilai pendekatan terhadap pemain senior berbeda dibandingkan saat menangani pemain usia muda.

“Kalau di junior mungkin kita lebih detail untuk hal-hal kecil. Tapi kalau di senior, mereka sudah dituntut oleh performanya. Saya pikir mereka sudah mengerti, sudah dewasa, dan tahu apa yang harus mereka lakukan,” katanya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Bima bersyukur mendapat dukungan penuh dari pemain senior maupun pemain asing yang menjadi bagian penting perjalanan Persela sepanjang musim lalu.

“Alhamdulillah di Persela ada Hendro, kemudian ada Titan yang sempat kami pinjam dari Bhayangkara, dan pemain-pemain asing juga sangat men-support. Sehingga kita bisa berprestasi lebih baik di tahun kemarin,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.