Rupiah Ditutup ke Rp17.865 per Dolar AS, BI Optimistis Nilai Tukar Makin Menguat 
Sanusi June 12, 2026 07:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan, nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan signifikan dalam sepekan terakhir. 

Penguatan tersebut didorong oleh respons positif pasar terhadap berbagai kebijakan yang ditempuh BI untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Ibu Destry Damayanti rupiah pada Jumat (12/6/2026) ditutup di level Rp17.865 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat sekitar 0,84 persen dibandingkan posisi penutupan pada 5 Juni 2026 yang berada di kisaran Rp18.010 per dolar AS.

Baca juga: Bank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi RI, Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp 17.860

Menurut Destry, penguatan rupiah terjadi setelah BI menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,50 persen dan memperkuat berbagai instrumen kebijakan moneter lainnya.

"Perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia," ujar Destry dalam keterangannya, Jumat.

Selain kenaikan BI-Rate, BI juga memperkuat struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), memberikan insentif lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing, membuka akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta meningkatkan operasi moneter di pasar rupiah dan valuta asing.

Destry menjelaskan, setelah kenaikan BI-Rate, minat investor asing terhadap aset keuangan Indonesia meningkat. Hal ini terlihat dari derasnya aliran modal asing yang masuk ke instrumen domestik.

Pada 10 Juni 2026, aliran dana asing yang masuk ke SRBI tercatat mencapai Rp15,11 triliun. Sementara pada 11 Juni 2026, dana asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp3,91 triliun.

Tidak hanya itu, obligasi internasional yang diterbitkan oleh Danantara Indonesia juga mendapat sambutan positif dari investor global. Penjualan perdana obligasi tersebut berhasil menghimpun dana sebesar Rp26,9 triliun.

"Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," tegas Destry.

Di sisi lain, BI juga memperkuat ketahanan sektor eksternal melalui kerja sama dengan People's Bank of China dan Hong Kong Monetary Authority.

Kerja sama tersebut menghasilkan tiga kesepakatan utama, yakni memperkuat stabilitas keuangan regional, memperkuat perjanjian pertukaran mata uang bilateral (Bilateral Currency Swap Agreement/BCSA), serta memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Menurut BI, langkah tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar, mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur, serta memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia," ucap Destry.

"Dengan berbagai perkembangan diatas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap USD menuju ke level fundamentalnya," imbuhnya menegaskan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.