BMKG Ungkap Penyebab Suhu Udara Dingin saat Ini di NTT, Suhu Minum Capai 9,4 Derajat di Manggarai
Hilarius Ninu June 12, 2026 07:42 PM

 

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Juni 2026 mengalami fenomena penurunan suhu pada malam hari sehingga terasa lebih dingin dari biasanya.

Saat ini sejumlah wilayah NTT sudah masuk musim kemarau, yang ditandai dengan pengurangan curah hujan secara signifikan. Berdasarkan penjelasan BMKG, periode ini sering kali berhubungan dengan fenomena penurunan suhu udara yang kerap disebut sebagai bediding. 

Bediding merujuk pada fenomena suhu udara yang terasa lebih dingin, khususnya pada malam hingga menjelang pagi hari di daerah dataran tinggi termasuk beberapa wilayah di NTT.

BMKG mencatat suhu minimum mencapai 9,4 derajat Celcius pada tanggal 7 Juni di wilayah Manggarai NTT dan Tambi Wonosobo yang mencapai 16,9 derajat Celcius pada tanggal 8 Juni 2026. 

Baca juga: Musim Kemarau di Indonesia Tahun 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang Dibanding Normalnya

Fenomen udara lebih dingin ini dipengaruhi oleh Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin, sehingga menyebabkan minimnya tutupan awan dan langit cenderung cerah. 

Minimnya tutupan awan tersebut membuat suhu udara pada malam hari terasa lebih dingin, karena panas permukaan bumi yang diserap pada siang hari lebih mudah dilepaskan ke atmosfer pada malam hari.

Meskipun demikian, minimnya pembentukan awan juga menyebabkan radiasi matahari yang mencapai permukaan menjadi lebih optimal pada siang hari, sehingga dapat meningkatkan suhu udara maksimum di beberapa wilayah. 

Berbeda dengan wilayah Indonesia bagian selatan yang cenderung lebih kering, sebagian wilayah Indonesia bagian utara masih mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat. 

Selain itu, sirkulasi siklonik yang terpantau di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra turut membentuk pola konvergensi dan belokan angin di sebagian wilayah Sumatra. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dinamika atmosfer regional masih berperan dalam meningkatkan pertumbuhan awan konvektif, sehingga mendukung terjadinya hujan signifikan di wilayah-wilayah terdampak.

Baca juga: Puncak Musim Kemarau di NTT Terjadi di Juli- September, Masyarakat Diminta Siap Hadapi El Nino

Dinamika Atmosfer

Pengamatan hingga akhir Mei 2026, sebanyak 28,6 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, dan diprediksi mengalami peningkatan pada Bulan Juni 2026, dengan sifat hujan musim kemarau yang cenderung dibawah normal. 

Kondisi ini didukung oleh indikator El-Niño Southern Oscillation (ENSO) yang diprediksi menunjukkan kecenderungan fase hangat di Samudra Pasifik tropis bagian tengah hingga timur, ditandai dengan indeks Niño 3.4 sebesar +0,81 dan Southern-Oscillation Index (SOI) sebesar -22,3.

Kondisi tersebut mendukung pengurangan potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia. Meski demikian, hujan masih tetap berpeluang terjadi karena dinamika atmosfer regional dan faktor lokal masih dapat mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.

Untuk periode sepekan mendatang, Madden-Jullian Oscillation (MJO) masih diperkirakan berada pada fase 8 hingga 1 atau di wilayah Western Hemisphere-Africa, sehingga pengaruh langsungnya terhadap Indonesia relatif tidak dominan. 

Kombinasi antara sinyal MJO, aktivitas gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik, serta dukungan labilitas udara lokal, peluang terjadinya hujan masih cukup signifikan di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya bagian utara, dalam beberapa hari ke depan. (BMKG/Tribun Flores)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.