TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Angka permasalahan kesehatan mental di Indonesia, khususnya pada kelompok usia remaja dan dewasa awal, menunjukkan tren peningkatan yang menuntut perhatian serius.
Di tengah darurat psikologis dan kuatnya belenggu stigma di masyarakat, kehadiran tenaga profesional yang mumpuni bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan sebuah keniscayaan.
Panggilan kemanusiaan inilah yang kini berada di pundak 55 lulusan Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog Angkatan II, Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY).
Pada Jumat (12/6/2026), 55 lulusan tersebut resmi mengucap Sumpah Profesi Psikolog dalam sebuah prosesi khidmat yang tidak hanya menandai akhir dari masa studi, tetapi juga awal dari pengabdian panjang merawat kejiwaan masyarakat.
Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog UMBY, Dr. Sheilla Varadhila Peristianto, M.Psi., Psikolog, menggarisbawahi bahwa para lulusan ini diterjunkan langsung untuk merespons realitas sosial yang kian kompleks.
"Tantangan utamanya adalah kita melihat banyak sekali kasus peningkatan permasalahan kesehatan mental secara signifikan. Permasalahan ini terjadi baik pada usia remaja maupun dewasa awal, dan hal ini membutuhkan penanganan yang tepat dari seorang psikolog umum. Psikolog umum hadir untuk mengatasi permasalahan yang memang riil dan dekat dengan masyarakat," ujar Sheilla.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa profesi psikolog bersinggungan langsung dengan sisi paling rentan dari seorang manusia. Pengambilan sumpah ini dihayati sebagai titik tolak kematangan emosional dan moral para lulusan.
"Hari ini bukan sekedar seremoni akademik, melainkan menjadi penanda lahirnya tanggung jawab profesional dan moral sebagai seorang psikolog umum. Bukan hanya karena rekan-rekan akan mengucapkan sumpah profesi, tetapi karena hari ini menjadi penanda dari sebuah perjalanan panjang. Perjalanan tentang belajar memahami manusia, mendengar luka yang tidak selalu terlihat, memahami emosi yang tidak selalu mampu diucapkan, serta belajar hadir untuk orang lain dengan empati dan penuh tanggung jawab. Gelar dan profesi yang disandang bukan hanya tentang kompetensi keilmuan, tetapi juga tentang amanah untuk hadir sebagai manusia dengan empati, integritas, dan penghormatan terhadap martabat individu," ujarnya.
Baca juga: Indonesia Insurance Summit 2026 di Yogyakarta, Respons Terhadap Ancaman Risiko Baru Global
Di Indonesia, hambatan terbesar dalam penanganan kesehatan mental kerap kali bukan berasal dari ketiadaan fasilitas, melainkan stigma.
Ketakutan dan rasa malu masyarakat untuk berkonsultasi ke psikolog masih menjadi tembok tebal yang harus diruntuhkan. Menjawab persoalan ini, UMBY telah merancang kurikulum yang memaksa mahasiswanya turun tangan secara langsung.
"Terkait stigma di masyarakat, hal tersebut justru menjadi tantangan yang kami jawab melalui program ini. Dalam kurikulum perkuliahan dan praktik, mahasiswa melaksanakan Layanan Praktik Profesi Psikologi Umum. Di sana, mereka melakukan berbagai upaya secara promotif, preventif, dan kuratif. Rangkaian upaya tersebut pada dasarnya dilakukan untuk mengatasi stigma-stigma yang masih melekat di masyarakat. Dengan langkah tersebut, masalah-masalah kesehatan mental yang saya sebutkan di awal tadi bisa lebih dijangkau dan ditangani secara langsung oleh para calon psikolog umum ini," papar Sheilla.
Untuk memastikan kualitas para lulusan dalam menghadapi dinamika sosial tersebut, sistem pengawasan yang ketat diberlakukan selama masa studi.
Sekretaris Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog, Dr. Martaria Rizky Rinaldi, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa predikat psikolog yang disandang ke-55 lulusan ini telah melalui validasi terukur.
"Program pendidikan profesi psikologi umum kami memang sangat menekankan pada profesionalisme, empati, serta etika psikologis. Kami membentuk mahasiswa agar menjadi psikolog yang siap terjun ke masyarakat. Selama pendidikan, praktik kerja profesi mereka tersupervisi dengan ketat. Artinya, mereka yang lulus dan mengikuti sumpah hari ini benar-benar telah melalui penilaian secara terukur dan dinyatakan mampu. Jadi, yang mereka dapatkan bukan sekadar gelar atau titel psikolog, tetapi di dalamnya tertanam kompetensi dan profesionalitas yang membuat mereka siap mengabdi di tengah masyarakat," jelas Mertaria.
Lahirnya tenaga-tenaga psikolog baru ini sejalan dengan visi besar universitas. Rektor UMBY, Dr. Ir. Agus Slamet, S.TP., M.P., MCE., menyatakan harapannya agar para lulusan ini mampu berkontribusi pada skala yang lebih luas.
"Ini merupakan sumpah profesi yang kedua kalinya untuk Program Studi Pendidikan Profesi Psikologi. Pada siang hari ini, sebanyak 55 calon psikolog akan mengambil sumpah. Harapan kami ke depan, bertambahnya psikolog-psikolog baru ini dapat membantu masyarakat dan negara, khususnya dalam mengatasi berbagai permasalahan bangsa yang berkaitan dengan psikologi di Indonesia," tutur Agus Slamet.
Untuk mempertahankan reputasi UMBY yang dikenal unggul dalam mencetak lulusan psikologi, Agus Slamet menegaskan bahwa pihak kampus terus melakukan pembenahan fundamental dari sisi sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur.
"Langkah pertama, kami terus meningkatkan kualitas sumber daya dosen hingga ke jenjang S3. Pada tahun ini, sudah banyak dosen kami yang kembali ke kampus setelah menyelesaikan studinya, baik lulusan dari dalam negeri maupun luar negeri. Selanjutnya, kami terus mendorong para dosen untuk meningkatkan jabatan fungsionalnya agar ke depan sumber daya manusia (SDM) di kampus ini bisa lebih maju dan berkembang.
Peningkatan SDM ini merupakan hal yang sangat krusial guna menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Hal yang kedua adalah terkait fasilitas. Kami akan terus melakukan penambahan dan peningkatan fasilitas di lingkungan kampus," tambahnya.
Prosesi pengukuhan 55 psikolog baru tersebut berlangsung secara khidmat, sebagai bentuk legalitas dan pengakuan atas kompetensi yang telah diraih.
Dalam agenda tersebut, penyerahan Sertifikat Kompetensi diberikan secara langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (PP HIMPSI), Dr. Andik Matulessy, M.Si., Psikolog. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan Surat Keterangan Lulus (SKL) oleh Dekan Fakultas Psikologi UMBY, Reny Yuniasanti, M.Psi., Ph.D., Psikolog.
Sebagai simbol pengesahan gelar, prosesi pemakaian selempang gelar psikolog kepada para lulusan dipimpin langsung oleh Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog, Dr. Sheilla Varadhila Peristianto, M.Psi., Psikolog.
Pada pelantikan angkatan kedua ini, penghargaan lulusan terbaik diraih oleh Annisa Rifki Damayanti, S.Psi., Psikolog. (*)