SURYA.co.id, SURABAYA - Motor yang dikendarai Edy Parlin (65) membonceng sang istri, EL (69) terperosok ke dalam lubang proyek gorong-gorong di Jalan Margorejo Indah, Wonocolo, Surabaya atau tepat di sisi barat Mal Plaza Marina, Jumat (12/6/2026) malam.
Akibatnya, sang istri mengalami luka parah pada bagian kepala, dan dinyatakan meninggal dunia oleh petugas medis yang mendatangi lokasi.
Jenazah EL dievakuasi menggunakan mobil ambulans menuju ke kamar mayat RS Bhayangkara Surabaya.
Pantauan SURYA.co.id di RS Bhayangkara Surabaya, sekitar pukul 22.30 WIB, Edy tampak duduk di samping jenazah sang istri LE yang terbujur kaku di atas ranjang salah satu kamar mayat.
Kedua jemari tangannya memegang pinggiran ranjang tempat tubuh sang istri dibaringkan.
Baca juga: Kronologi Kecelakaan Maut Pasutri di Proyek Box Culvert Margorejo Surabaya
Tampak dari teras depan kamar mayat, Edy cuma bisa menatap kosong ke arah tubuh sang istri yang diselimuti kain warna abu-abu.
Selama berada di ruang utama kamar mayat, sesekali tampak mulut Edy seperti sedang berucap sesuatu. Nadanya lirih. Kalimatnya agak panjang.
Kepalanya juga bergerak-gerak perlahan tapi konstan, seperti sedang mengobrol dengan sang istri berdua di dalam rumah atau di atas motor tatkala bepergian.
Siapa sangka, beberapa menit sebelumnya Edy sedang asyik mengobrol dengan sang istri tercinta sembari berboncengan motor sepulang melakukan pemeriksaan medis rutin dari RS Islam Jemursari Surabaya.
Tak lama kemudian, laju motornya tiba-tiba terperosok ke dalam lubang gorong-gorong tersebut, dan sang istri tak sadarkan diri dengan luka parah di kepala akibat benturan, lalu meninggal dunia.
Takdir tersebut benar-benar memisahkan Edy dengan sang istri.
Momen romantisnya bersama sang istri adalah saat mengobrol dan mempercakapkan banyak hal sepanjang hari.
Tatkala di rumah atau sedang berboncengan motor menuju ke suatu tempat.
Sang istri melengkapi hidupnya selama puluhan tahun. Edy belum bisa membayangkan terlalu jauh, bagaimana nantinya setelah kembali tiba di rumah tanpa suara sapaan hangat dan senyuman manis sang istri.
Itulah mengapa, Edy memilih membiarkan selimut pada anggota tubuh bagian atas sang istri tetap tersingkap, selama di kamar mayat RS.
Agar ia dapat memandangi wajah sang istri selama mungkin, sebelum nantinya dimakamkan.
Sepanjang menceritakan sosok sang istri semasa hidup, beberapa kali kerutan kulit di pipi dan pinggiran kedua mata Edy tampak menandai senyumannya yang merekah.
"Dan saya lihat jenazahnya itu. Senyum. Iya, benar sekali. Saya enggak saya tutup kok malah saya tungguin. Senang gitu lihat, saya. Enggak takut sama sekali aku perasaan. Senang pokoknya lihat," ujarnya saat ditemui awak media di teras kamar mayat RS Bhayangkara Surabaya, Jumat (12/6/2026) malam.
Sepanjang hidupnya, sang istri tak pernah bermasalah dengan dirinya, kerabat, atau pun para tetangga di Kelurahan Alun-alun Contong, Bubutan, Surabaya.
Edy meyakini sang istri meninggal dunia dalam keadaan yang baik.
Mengenai adanya firasat atas kepergian sang istri. Edy sebenarnya tidak merasa tidak memilikinya.
Namun jika mengingat obrolan terakhir dengan sang istri selama perjalanan di atas motor, tadi, Edy merasa, tema obrolan yang dipilih sang istri, seperti sebuah petanda akan peristiwa ini.
"Enggak, tapi firasat bukan ya. Ngomong-ngomong sudah tua. Kita sudah tua, gimana? yang meninggal kamu dulu? apa saya? Istri sangat baik. Ya, istilahnya enggak pernah punya musuh sama orang. Baiklah," ungkapnya.
Mengenai kronologi kejadian kecelakaan tersebut, Edy menceritakan, dirinya baru saja mengantarkan sang istri berobat rutin di RS Islam Jemursari Surabaya, lalu melintasi ruas jalan tersebut untuk pulang ke rumah di kawasan dekat Monumen Tugu Pahlawan.
"Namanya orang tua ya. Di tengah kami cerita-cerita, pelan-pelan. Itu di tengah-tengah itu, saya enggak tahu kok gelap. Enggak pas belokan, kan terus masih lurus itu. itu tengah-tengah itu," jelasnya.
Tubuh Edy dan sang istri langsung terperosok masuk ke dalam lubang gorong-gorong tersebut.
Motornya terjungkal hingga menimpa dan menindih tubuhnya.
Namun, ia tak peduli, di pikirannya cuma nasib sang istri.
Ternyata, sang istri terbentur beton di dalam gorong-gorong, wajahnya terluka, dan tak sadarkan diri cukup lama.
Setelah tim medis tiba dan memeriksa kondisi mereka, sang istri dinyatakan meninggal dunia.
"Nah, itu saja ada itu langsung sudah saya sadar. Loh. Jatuh saya terus saya cari istri saya; ma, ma, enggak ada. Ternyata saya kan kendaraan itu ada di atas saya," katanya.
"Jadi saya enggak bergerak, enggak bisa bergerak. Saya cari; lho istri saya di tempat mana. Terus ada yang ngomong gitu. Lalu istri saya dibantulah," tambahnya.
Sepanjang mengendarai Motor Honda Supra X itu, laju kecepatannya tidak terlalu kencang. Ia mengingat-ingat, barang kali, tak lebih dari 30 Km/Jam.
Namun, di ruas jalan tersebut, Edy merasa lampu penerangan jalannya kurang. Selain itu, penanda kondisi lubang proyek gorong-gorong tersebut, terbilang samar.
"Enggak ada (penutup atau pembatas). Mestinya kan ada petugasnya di sana. Enggak ada. Jadi lom lempeng aja saya. Lurus aja. jadi enggak ada nabrak apa enggak ada," tuturnya.
"Langsung jatuh, ya sudah. Istri saya lihat, tapi kok masih hangat. Saya tungguin lama ya sudah setengah jam atau 1/4 jam, atau 20 menit lah. Baru bantuan datang," tambahnya.
Edy merasa, kondisi tersebut merupakan keteledoran petugas.
Di sekitar area lubang tidak terdapat banyak penanda yang membuat pengendara lain mengetahuinya.
Apalagi, di area proyek tersebut juga tidak terpantau adanya petugas pekerja proyek.
"Di keteledoran kayaknya keteledoran dari bentuk Galiannya. Jelas itu, galiannya. malam. Gelap. Terus dan enggak ada petugas. Di situ enggak ada petugas sama sekali yang menggali itu," katanya.
Ia meminta pekerja proyek memasang penutup besar, sejenis dinding anyaman bambu (gedek) yang bisa dibongkar pasang.
Paling tidak pemasangan benda tersebut, dapat menjadi penanda jelas untuk pengendara yang akan melintas.
"Iya barier, dan dijaga mestinya, atau gedek atau apa, jadi enggak sampai nyelonong dalam," pungkasnya.
Sementara itu, Anggota Tim TPTKP Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Surabaya, Aiptu Nurul Hambali mengatakan, pihaknya memperoleh laporan dari Anggota Polsek Wonocolo atas kejadian tersebut.
Kemudian, saat memeriksa lokasi, ternyata korban merupakan pasangan suami istri. Dan salah satu diantarnya; sang istri, mengalami luka parah dan meninggal dunia.
Mengenai kronologi kecelakaan secara pasti. Nurul masih melakukan penyelidikan atas kejadian kecelakaan tersebut. Sejumlah saksi masih menjalani pemeriksaan.
Dan barang bukti kendaraan, serta surat menyurat identitas korban seperti KTP dan STNK pengendara, sudah diamankan sementara.
"Sementara penyebab kecelakaan masih Penyelidikan dan kronologi kejadiannya kami belum tahu betul kami masih melakukan pemeriksaan kepada saksi-saksi di TKP," ujarnya di RS Bhayangkara Surabaya.