Massa Non-Almamater Bertahan, 2 Penyusup Bom Molotov Demo BBM Ditangkap
Darwin Sijabat June 13, 2026 12:48 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM - Gelombang unjuk rasa raksasa menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di ibu kota, Jakarta pada Jumat (12/6/2026) sempat diwarnai ketegangan tinggi hingga malam hari. 

Di tengah eskalasi massa yang memanas, aparat kepolisian berhasil menggagalkan upaya anarkisme dengan menangkap dua pria non-mahasiswa yang kedapatan membawa bom molotov.

Aksi yang dimulai sejak pukul 10.00 WIB di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan silang selatan Monumen Nasional (Monas) ini awalnya digerakkan oleh aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) lintas fakultas se-Universitas Indonesia (UI), BEM IPB, Universitas Gunadarma, Politeknik Negeri Jakarta, UIN Jakarta, UPN Veteran Jakarta, hingga Universitas Pancasila. 

Elemen masyarakat seperti Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), Front Mahasiswa Nasional (FMN), hingga ratusan pengemudi ojek online (ojol) turut melebur di jalur protokol.

Kronologi Tensi Tinggi dan Provokasi terhadap Aparat

Memasuki malam hari, situasi di Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat sempat memanas. 

Pemicunya adalah blokade pagar betis berlapis dari aparat gabungan TNI-Polri yang menutup akses menuju ring satu. 

Tensi tinggi memuncak sekitar pukul 19.00 WIB ketika massa mahasiswa berjaket almamater berdiri tegak hanya beberapa jengkal dari perisai polisi.

Baca juga: Jakarta Ramai Demo, Aktivis Mahasiswa di Jambi Belum Bergerak, Masih Urus Internal dan Pemira

Baca juga: Warga Jambi Protes Pertamax Naik, Seskab Teddy: Di Indonesia Jauh Lebih Murah

Suasana kian membakar emosi massa saat orator dari atas mobil komando melayangkan sindiran keras menggunakan pengeras suara yang diarahkan langsung ke barisan petugas di lapangan.

"Bapak ingat baju seragam, baju dalam, hingga tali sepatunya pun itu dibiayai oleh siapa teman-teman?" teriak orator dari atas mobil komando.

Pertanyaan tersebut langsung disambut gemuruh kompak oleh ribuan massa, "Rakyat!".

Tak lama setelah itu, massa secara serempak menyanyikan lagu nasional "Maju Tak Gentar" sambil bergerak maju secara perlahan menekan barikade.

Massa Non-Almamater Bertahan dan Pelemparan Botol

Meskipun massa resmi mahasiswa UI telah membubarkan diri secara berkala dan mundur teratur sejak pukul 18.00 WIB melintasi Jalan MH Thamrin menuju Semanggi, situasi tidak langsung mereda.

Hampir dua jam lebih setelahnya, sekelompok massa berpakaian bebas tanpa almamater—banyak di antaranya mengenakan kaos, jaket ojek online, hingga helm—tetap bertahan di lokasi. 

Kelompok ini terus berteriak menuntut agar blokade aparat dibuka. 

Kondisi sempat tak terkendali saat mulai terjadi aksi pelemparan botol dari arah kerumunan massa ke arah barikade petugas.

Setelah melalui proses negosiasi dan diskusi yang alot dengan pihak kepolisian, sisa massa akhirnya sepakat membubarkan diri secara damai. 

Baca juga: Peta Perlawanan BBM Naik dan Rupiah Melemah: Dari Aksi Jahit Mulut hingga Isu Reformasi Jilid II

Baca juga: Pembebasan Lahan Tol Palembang-Betung Buntu, Akses Menuju Jambi Terhambat

Blokade Jalan MH Thamrin pun resmi dibuka kembali oleh aparat pada pukul 20.13 WIB.

Penyusup Bersenjata Molotov Berhasil Diringkus

Di luar titik konsentrasi utama, Satgas Gakkum Polda Metro Jaya berhasil mengendus pergerakan berbahaya dari kelompok perusuh. 

Dua orang pria yang membawa bom molotov berhasil diringkus petugas di sekitar kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengonfirmasi kedua pria tersebut bukan bagian dari civitas akademika melainkan kelompok luar yang ingin menyusup ke tengah demonstrasi mahasiswa UI.

”Satgas Gakkum Polda Metro Jaya sudah mengidentifikasi beberapa kelompok orang yang akan bergabung dengan kelompok aksi mahasiswa dan ini membawa molotov. Dan sudah diamankan dua orang saat ini oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya,” kata Budi dalam konferensi pers darurat di Pos Polisi Bundaran Hotel Indonesia, Jumat (12/6/2026) malam.

Kedua pelaku langsung digelandang ke Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan intensif guna mendalami dalang di balik kepemilikan bom molotov tersebut.

Fakta Utama dan 5 Tuntutan Besar Demonstrasi

Gerakan moral ini membawa lima tuntutan utama yang ditujukan langsung sebagai kritik terhadap kebijakan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto:

- Menghentikan pemborosan APBN.

- Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM (pasca-Pertamax melambung ke kisaran Rp15.250–Rp17.000/liter).

- Menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.

- Menghentikan militerisme di ranah sipil.

- Meminta Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan pemerintah.

Sinyal perlawanan ini dipastikan terus menjalar. Pada hari yang sama, ratusan mahasiswa di Solo, Jawa Tengah, sukses memblokir Jalan Adi Sucipto di depan Gedung DPRD Solo sejak pukul 16.30 WIB. 

Sementara itu di Yogyakarta, Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM bersama Forum Cik Di Tiro (FCD) menyatakan siap menggebrak dan menggelar aksi kolektif serupa bertajuk "Rakyat Memanggil" di kawasan Gejayan pada Sabtu (13/6/2026) ini.

Baca juga: Pakar Hukum Soroti Foto Ijazah Jokowi Tak Identik: Wajib Hadir di Sidang

Baca juga: Mengenal Hibnu Nugroho: Guru Besar Unsoed yang Kuliti Kasus Ijazah Jokowi

Baca juga: Dugaan Pemalsuan Dokumen, Tiga Yayasan Pengelola MBG Dilaporkan ke Polda Jambi

Baca juga: Gubernur Al Haris Tegaskan Dukungan terhadap Kontigen PESPARAWI Provinsi Jambi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.