Sosok Dhiya Putri Bupati Kudus, Bagi Kisah Kuliah S2 Sambil Bekerja sebagai HRD di Perusahaan Rokok
muslimah June 13, 2026 12:56 PM

Sosok Dhiya Putri Bupati Kudus, Bagi Kisah Kuliah S2 Sambil Bekerja sebagai HRD di perusahaan rokok

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kesibukan bekerja penuh waktu tak menghalangi Dhiya' Almirra Azzahra (25) untuk terus menambah ilmu.

Putri Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris itu resmi menyelesaikan pendidikan Magister Psikologi di Fakultas Psikologi Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang sambil menjalani profesi sebagai HRD Training di PT Sukun.

Dia menyelesaikan studi magister dengan predikat sebagai lulusan termuda program magister. Ia mencatatkan nilai IPK 3,7 dengan masa kuliah 1,5 tahun. 

Bukan hanya karena latar belakang keluarganya sebagai anak kepala daerah, tetapi juga karena kemampuannya membagi waktu antara pekerjaan dan studi pascasarjana.

Baca juga: Suparman yang Bunuh Bocah Bilqis Sragen Ternyata Sudah Sebulan Survei Lokasi, Terancam Hukuman Mati

Pada Sabtu (13/6/2026) ini, Azza menjalani wisuda yang diikuti 262 lulusan dari jenjang Sarjana, Magister, dan Profesi di Auditorium Agnes Widanti, yang ada di Gedung Albertus, Kampus 1 SCU, Bendan, Semarang.

Azza mengaku keputusan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister berangkat dari kebutuhan pekerjaannya sehari-hari.

Sebagai trainer di perusahaan, ia merasa perlu meningkatkan kompetensi dan memperdalam ilmu psikologi yang relevan dengan dunia kerja.

"Saya memilih lanjut magister karena pekerjaan saya membutuhkan peningkatan keilmuan. Ternyata apa yang saya cari sangat relate dengan pekerjaan saya sekarang. Banyak materi yang bisa langsung diterapkan," kata Azza.

Menjalani kuliah sambil bekerja bukan perkara mudah. Ia harus menyusun jadwal yang disiplin agar seluruh tanggung jawabnya dapat berjalan beriringan.

Ia menceritakan, pada pagi hingga sore hari fokus menjalankan pekerjaan kantor. Sementara perkuliahan biasanya berlangsung mulai pukul 16.00 hingga 20.00 WIB. Setelah kelas selesai, tugas-tugas kuliah langsung dikerjakan pada malam hari.

Kebetulan, kampus juga memberikan kemudahan dalam proses perkuliahan yang bisa dilangsungkan secara hybrid.

"Saya sudah berkomitmen sejak awal. Pagi untuk pekerjaan, malam untuk kuliah dan tugas. Jadi begitu selesai kuliah, tugas langsung saya kerjakan malam itu juga," katanya.

Menurut Azza, salah satu materi yang paling berkesan selama menempuh Magister Psikologi adalah bagaimana seorang trainer muda dapat memberikan pelatihan kepada peserta yang usianya jauh lebih senior.

Sebagai HRD Training, ia kerap berhadapan dengan karyawan yang memiliki pengalaman kerja lebih panjang dibanding dirinya. Situasi tersebut menuntut kemampuan komunikasi dan pendekatan psikologis yang tepat.

"Saya belajar bagaimana masuk ke level mereka tanpa terkesan menggurui. Mereka punya pengalaman yang jauh lebih banyak. Jadi kita harus memahami cara berpikir dan pengalaman mereka terlebih dahulu," tuturnya.

Ia mengakui tantangan terbesar sebagai trainer muda adalah membangun kepercayaan dari peserta pelatihan yang sering kali berusia lebih tua.

"Kadang ada anggapan, pengalaman kita belum sebanyak mereka. Karena itu saya mencoba lebih banyak praktik langsung di lapangan dan memahami kebutuhan mereka terlebih dahulu," ujarnya.

Dukungan keluarga juga menjadi faktor penting dalam perjalanan akademiknya. Meski kedua orang tuanya memiliki kesibukan tinggi, termasuk sebagai pejabat publik, Azza mengaku selalu mendapatkan dorongan untuk terus belajar.

"Sangat mendukung sekali. Saya memang membutuhkan ilmu psikologi untuk menunjang pekerjaan saya, dan orang tua mendukung keputusan itu," katanya.

 (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.