POS-KUPANG.COM - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi El Tari Kupang ( BMKG El Tari Kupang ) menjelaskan penyebab suhu dingin di NTT.
Kepala BMKG El Tari Kupang Sti Nenote'k di Kupang, Jumat (12/6/2026), menegaskan bahwa Suhu dingin yang melanda NTT bukan Fenomena Aphelion.
Penjelasan Sti Nenot'k ini meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat selama ini.
Sti menjelaskan, Suhu dingin yang mulai melanda Sejumlah Daerah di NTT terutama pada malam hingga dini hari fenomena musiman yang normal dan terjadi hampir setiap tahun.
Baca juga: Prakiraan Cuaca NTT, BMKG El Tari Kupang Peringatkan Waspada Angin Kencang Dua Hari Ke Depan
Ia mengatakan, Suhu dingin yang dirasakan masyarakat atau yang dikenal dengan istilah bediding itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor meteorologis yang umum terjadi selama musim kemarau.
"Udara dingin yang terjadi di NTT saat ini merupakan fenomena musiman yang normal. Kondisi ini dipengaruhi oleh masuknya angin Monsun Australia, posisi semu matahari, langit yang lebih cerah dengan sedikit tutupan awan, serta faktor ketinggian wilayah," Jelas Sti.
Menurut Sti, selama periode Juni hingga September, Australia mengalami musim dingin sehingga massa udara dingin dan kering bergerak menuju wilayah Indonesia melalui angin Monsun Timur.
NTT menjadi salah satu daerah yang pertama kali merasakan dampak aliran massa udara tersebut.
Selain itu, posisi semu matahari yang berada di Belahan Bumi Utara menyebabkan wilayah selatan, termasuk NTT, menerima radiasi matahari lebih sedikit dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Pada siang hari, cuaca umumnya tetap terasa panas karena sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi.
Baca juga: Suhu Dingin Hingga 10 Derajat Celcius Mulai Landa Sejumlah Daerah NTT, Begini Penjelasan BMKG
Namun pada malam hingga dini hari, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat lepas ke atmosfer karena minimnya tutupan awan.
"Akibatnya suhu udara pada malam hingga dini hari bisa turun cukup signifikan sehingga masyarakat merasakan udara yang lebih dingin," ujarnya.
Sti menjelaskan kondisi udara dingin biasanya lebih terasa di wilayah dataran tinggi. Salah satu contohnya adalah Ruteng di Kabupaten Manggarai yang berada pada ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut sehingga suhu udara saat puncak musim kemarau dapat turun hingga di bawah 10 derajat Celsius.
Bukan Fenomen Aphelion
BMKG juga meluruskan informasi yang kerap beredar di masyarakat yang menyebutkan fenomena aphelion menjadi penyebab utama udara dingin.
Baca juga: BMKG: Waspada,Dua Hari Ke Depan Sejumlah Wilayah Berpotensi Dilanda Hujan Lebat hingga Angin Kencang
Menurut Sti, aphelion tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kondisi cuaca harian di permukaan bumi.
"Udara dingin yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh faktor meteorologis musiman, terutama Monsun Australia, kondisi langit yang cerah, posisi matahari, dan ketinggian wilayah," katanya.
Meski merupakan fenomena normal, Sti mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan selama periode udara dingin, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya. Masyarakat juga disarankan menggunakan pakaian hangat serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh.
BMKG memperkirakan Suhu dingin masih akan dirasakan masyarakat NTT selama musim kemarau berlangsung, terutama pada malam hingga pagi hari. (*)