TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Muhammad Dahlan menakhodai Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Komisariat Daerah (Komda) Sulawesi Selatan masa bakti 2026–2031.
Pengukuhan di Grand Maleo Hotel Makassar, Sabtu (13/6/2026).
Dahlan terpilih melalui Musyawarah Daerah (Musda) Asmindo Sulsel.
Pengukuhan dilakukan pengurus pusat Asmindo dipimpin Ketua Umum Asmindo, Dedy Rochimat.
Momentum ini menandai dimulainya kepemimpinan baru Asmindo Sulsel memperkuat daya saing industri mebel dan kerajinan berbasis hasil hutan di Sulawesi Selatan.
Ketua Umum Asmindo, Dedy Rochimat, mengatakan Muhammad Dahlan telah mendapat mandat penuh dari anggota memimpin organisasi dan menggerakkan para pelaku usaha mebel di Sulsel.
"Hari ini kami dari pusat datang untuk pengukuhannya,” katanya usai pelantikan.
Dahlan diminta segera bekerja mengonsolidasikan para pengusaha mebel dan pelaku UMKM di Sulsel agar lebih berkembang dan mampu meningkatkan daya saing usaha.
Dedy menilai Sulawesi Selatan memiliki potensi besar dalam pengembangan industri berbasis hasil hutan yang selama ini belum dimaksimalkan.
"Kita harus memproduksi produk-produk yang berkualitas dan bertanggung jawab sehingga bisa menyuplai kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri,” ujarnya.
Asmindo siap memberikan dukungan dan fasilitasi bagi para pelaku usaha di daerah untuk meningkatkan kapasitas produksi serta memperluas pasar.
Sekretaris Jenderal DPP Asmindo, Prof Agustinus Purna Irawan, mengingatkan sejumlah pekerjaan rumah yang harus menjadi perhatian pengurus baru Asmindo Sulsel agar industri mebel daerah dapat berkembang lebih cepat dan mampu bersaing di tingkat nasional.
Aspek pertama yang harus diperkuat adalah legalitas usaha.
Legalitas menjadi syarat penting agar perusahaan dapat masuk ke dalam ekosistem industri yang lebih luas, memperoleh pembinaan pemerintah, serta memanfaatkan berbagai program pengembangan usaha.
“Pengusaha-pengusaha yang ada di Sulawesi Selatan harus memenuhi legalitas perusahaan supaya bisa masuk ke industri, kemudian mendapatkan bantuan pemerintah dalam pembinaan dan pengembangan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya mendorong produk-produk anggota Asmindo masuk ke dalam sistem e-katalog pemerintah melalui pemenuhan persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Selain legalitas, Prof Agustinus menilai peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan juga menjadi faktor penting.
Pelatihan tersebut terutama berkaitan dengan pengembangan desain produk agar sesuai dengan kebutuhan pasar dan permintaan instansi pemerintah maupun sektor swasta.
“Kalau desainnya tidak sesuai, kita tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Karena itu pelatihan terkait desain menjadi sangat penting,” jelasnya.
Keberhasilan industri mebel Sulsel tidak dapat dicapai secara individual.
Para pelaku usaha perlu membangun kolaborasi yang kuat, baik antaranggota Asmindo di Sulsel maupun dengan pengurus daerah Asmindo di berbagai provinsi lainnya.
"Kita tidak bisa membuat produk sendiri, tetapi harus saling mendukung antar pengusaha di Sulawesi Selatan dan juga dengan komda-komda lain di seluruh Indonesia,” kata dia.
Ketua Asmindo Komda Sulsel, Muhammad Dahlan, menegaskan komitmennya untuk menjadikan industri mebel sebagai salah satu sektor yang berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan daerah.
Menurut Dahlan, salah satu fokus kepengurusannya adalah memperkuat usaha anggota sekaligus memperluas penyerapan produk mebel lokal oleh instansi pemerintah maupun sektor swasta.
"Selain itu, bagaimana mengembangkan usaha-usaha yang ada dan kalau bisa semua hasil produk anggota dapat diserap oleh instansi pemerintah maupun swasta,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan industri mebel ke depan akan semakin berat karena persaingan yang semakin ketat.
Karena itu, pelaku usaha dituntut untuk terus meningkatkan kualitas produk, berinovasi, dan menghadirkan harga yang kompetitif.
"Persaingan ke depan sangat ketat, sehingga kualitas harus terus diperbaiki dan harga yang ditawarkan tetap kompetitif,” jelasnya.