TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU – Kelangkaan minyak goreng mulai dirasakan para pelaku usaha kecil di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar).
Salah satunya dialami Juminten (60), pedagang gorengan yang mengaku kesulitan mendapatkan minyak goreng dalam beberapa hari terakhir.
Selain sulit diperoleh, harga minyak goreng juga mengalami kenaikan signifikan.
Baca juga: Dituduh Aniaya Anak Sambung di Tapalang Mamuju, Ibu Tiri Bantah: Saya Difitnah
Baca juga: 2 Pemuda Terekam CCTV Gasak Kakao Jemuran Warga di Sarjo Pasangkayu, Modus Pura-pura Belanja
Untuk minyak goreng merek Minyakita, harga yang sebelumnya sekitar Rp17 ribu per liter kini mencapai Rp25 ribu per liter.
Kondisi tersebut memaksa Juminten menaikkan harga dagangannya.
Tahu isi yang sebelumnya dijual Rp1.000 per biji kini dibanderol Rp5.000 dapat empat biji.
Menurutnya, kenaikan harga minyak goreng bukan satu-satunya penyebab.
Sejumlah bahan baku lain juga ikut mengalami kenaikan harga, termasuk kol yang menjadi bahan utama isi gorengan.
"Harga kol naik dari sekitar Rp8 ribu per kilogram menjadi Rp15 ribu per kilogram. Plastik juga naik. Semua serba mahal," kata Juminten kepada wartawan, Jumat (12/6/2026).
Ia mengaku baru kali ini merasakan kondisi ekonomi yang begitu berat selama menjalankan usaha gorengan.
Meski berat hati menaikkan harga jual, langkah tersebut terpaksa dilakukan agar usahanya tetap bisa bertahan di tengah melonjaknya biaya produksi.
"Sebenarnya saya tidak rela menaikkan harga karena takut pelanggan tidak lagi membeli. Tapi kalau tetap bertahan dengan harga lama, saya bisa rugi dan usaha tidak jalan," ujarnya.
Bahkan beberapa ritel dan penjual minyak goreng itu membatasi untuk membeli, hanya bisa membeli dua liter saja.
Juminten berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk mengatasi kelangkaan minyak goreng dan menstabilkan harga kebutuhan pokok.
Ia juga berharap kondisi ekonomi dapat kembali membaik sehingga pelaku usaha kecil seperti dirinya tidak semakin terbebani oleh kenaikan harga bahan baku.
"Semoga ada solusi dari pemerintah dan harga-harga bisa kembali normal," tuturnya.