TRIBUNJAMBI.COM – Kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax 92 per 10 Juni 2026 memicu gelombang migrasi konsumen secara masif di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Jambi.
Lonjakan harga yang cukup signifikan memaksa para pemilik kendaraan mengubah perilaku konsumsi demi menyelamatkan isi dompet.
Pantauan riil di lapangan menunjukkan fenomena unik.
Di SPBU Pal 7 Kota Jambi, seorang pengendara Honda Beat awalnya sudah bersiap di depan mesin pengisian Pertamax.
Namun, setelah matanya tertuju pada angka tarif terbaru di papan dispenser, ia serta-merta menutup kembali tangki motornya, memutar balik kendaraan, lalu memilih masuk ke barisan antrean Pertalite yang mengular.
Pergeseran drastis ini diakui langsung oleh Ari, petugas pengisian Pertamax di SPBU Pal 7 Kota Jambi.
Ia mengungkapkan volume penjualan Pertamax anjlok tajam, terutama dari lini pengguna kendaraan roda dua.
“Ada lebih dari 100 motor yang tidak jadi beli Pertamax, mereka pindah ke Pertalite,” kata Ari.
Menurut pemantauannya, mayoritas kendaraan yang putar haluan adalah jenis motor yang selama ini rutin menenggak Pertamax, mulai dari Honda Scoopy, Yamaha NMax, hingga Kawasaki Ninja.
Baca juga: Warga Jambi Protes Pertamax Naik, Seskab Teddy: Di Indonesia Jauh Lebih Murah
Baca juga: Skandal BGN: Komisaris PT YAT Ditahan Korupsi Motor Listrik MBG
Sebaliknya, pemandangan berbeda terlihat dari konsumen roda empat yang perpindahannya belum terlalu mencolok.
Aksi migrasi ini dinilai sangat rasional secara ekonomi.
Di SPBU Pal Merah Kota Jambi, antrean di barisan Pertalite mengular hingga 30 motor, sementara jalur Pertamax lengang.
Cak Bas, seorang pengendara Scoopy asal Jerambah Bolong, menghitung cermat pengeluarannya yang membengkak.
"Selisihnya banyak juga, hampir Rp4000. Kalau isi 3 liter, tambahnya lebih dari Rp10 ribu," ujar Cak Bas.
Bagi pria yang biasa menyisihkan Rp300 ribu per bulan untuk konsumsi BBM ini, selisih tersebut sangat berarti untuk dialokasikan ke kebutuhan lain.
Meski begitu, faktor kenyamanan tetap membuat sebagian kecil warga bertahan.
Seorang ibu berpakaian adat Melayu di lokasi yang sama bersikeras tetap mengisi Pertamax demi menghindari drama antrean.
“Malas antre, panjang nian,” ujarnya singkat.
Efek kenaikan tarif ini merembet cepat ke wilayah kabupaten.
Di Kabupaten Merangin, tepatnya SPBU Kelurahan Pematang Kandis, Kecamatan Bangko, harga Pertamax 92 meroket dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter.
Baca juga: Pemotor di Jambi Tutup Lagi Tangki, Hari Kedua Pertamax Naik
Baca juga: KPK Geledah Kantor Hingga Rumdis Bupati Muara Enim, Sita Dokumen Dugaan Manipulasi Audit BPK
Pengawas SPBU setempat, Hendra Wijaya, membenarkan lini antrean Pertamax menyusut hingga 50 persen sejak hari pertama kebijakan berlaku.
Kondisi tersebut dikeluhkan oleh Endang Sophia, warga Merangin yang terkejut karena biaya full tank motornya melonjak dari Rp45 ribu menjadi Rp60 ribu.
“Pengeluaran jelas bertambah. Uang yang seharusnya bisa dipakai beli kebutuhan rumah tangga lain, sekarang habis untuk BBM,” katanya.
Nada protes juga dilayangkan Nofrizal, seorang pengendara mobil, serta Jonlesvik Sinaga yang cemas kenaikan ini akan memicu efek domino berupa inflasi bahan pokok.
Kelesuan serupa melanda SPBU 24.366.90 Pal 3, Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari.
Harga Pertamax yang nangkring di angka Rp16.250 per liter dari harga semula Rp12.300 membuat lajur pengisian kerap kosong melompong.
Apriyani (27), seorang pekerja lokal, memilih langsung beralih ke Pertalite demi memangkas biaya operasional harian di tengah lesunya nilai tukar rupiah.
“Harapannya jangan naik lagi. Kalau bisa turun atau setidaknya stabil karena harga kebutuhan lain juga sudah banyak yang naik,” tutupnya.
Menanggapi kepanikan publik terkait potensi kelangkaan Pertalite akibat lonjakan konsumsi ini, PT Pertamina Patra Niaga langsung mengeluarkan pernyataan resmi.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, membantah keras isu miring tersebut dan menegaskan bahwa ketahanan stok nasional dalam posisi aman terkedali.
“Selain memastikan stok Pertalite dalam kondisi tersedia dan distribusi ke seluruh SPBU berjalan normal, Pertamina Patra Niaga juga terus melakukan pemantauan secara real-time terhadap kondisi stok dan penyaluran BBM di seluruh wilayah agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik,” kata Roberth.
Pertamina kini mengoptimalkan integrasi rantai pasok energi mulai dari infrastruktur terminal BBM hingga armada distribusi di 8 Cabang Kantor Wilayah (Regional 1-8).
Perusahaan plat merah ini juga telah menyiapkan skema penguatan distribusi taktis jika terjadi lonjakan permintaan mendadak di suatu daerah.
“Kami mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan energi dengan membeli BBM sesuai kebutuhan dan sesuai dengan peruntukannya, serta sesuai dengan jenis kendaraan yang digunakan."
"Pertamina Patra Niaga akan terus menjalankan tugas penyaluran energi dengan optimal serta memastikan ketersediaan Pertalite bagi masyarakat tetap terjaga,” ujar Roberth menutup keterangannya.
Baca juga: Berapa Harga Sawit di Petani Jambi? Di Pabrik Naik Jadi Rp3.706 per Kg
Baca juga: Wabup Abdul Khafidh Dampingi Gubernur Al Haris Hadiri Haflah Akhirussanah Ponpes Di Merangin
Baca juga: 53 Ribu Ekstasi dan 897 Vape Narkoba Digagalkan di Sarolangun Jambi, Jaringan Riau-Madura Terbongkar
Baca juga: 3 Yayasan Pengelola MBG Milik Polisi di Jambi Dilaporkan ke Polda, Diduga Palsukan Dokumen