Pertamax Naik Rp 17 Ribu per Liter,  Warga di Tana Tidung Lebih Pilih Antre Pertalite
Junisah June 13, 2026 07:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi khususnya jenis pertamax hingga mencapai Rp 17 ribu per liter mulai berdampak terhadap pola konsumsi masyarakat di Kabupaten Tana Tidung Kalimantan Utara ( Kaltara ).

Salah satu dampak yang paling terlihat adalah berkurangnya antrean kendaraan di dispenser pertamax SPBU Tideng Pale Indah, Jalan Jenderal Trans Kaltara, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara (Kaltara).

Pantauan TribunKaltara.com, meskipun masih tersedia BBM di dispenser pertamax yang ada di SPBU Tideng Pale Indah, tak terlihat adanya antrean kendaraan di pengisian tersebut.

Sebaliknya antrean terlihat silih berganti berdatangan di dispenser pertalite yang tersedia di stasiun pengisian tersebut.

Baca juga: Harga Pertamax di Malinau Kini Rp 16.900 per Liter, Warga Pilih Beralih ke Pertalite Rp 10 Ribu

Pengelola SPBU Tideng Pale Indah, Nuryadin menyampaikan kepada TribunKaltara.com, sebelum kenaikan harga, Pertamax kerap menjadi pilihan alternatif masyarakat ketika antrean pertalite terlalu panjang atau stok BBM subsidi terbatas.

Namun kondisi tersebut berubah setelah harga pertamax melonjak dari sekitar Rp 12.500 menjadi Rp 17 ribu per liter.

"Sekarang dijauhkan itu antrean di pompanya kosong. Biasanya kalau dulu orang bilang daripada antre panjang pertalite, alternatifnya ke pertamax karena orang bilang harganya seimbang saja dibandingkan dengan eceran kan Rp 12 ribu sampai Rp 13 ribu, bagus ambil pertamax. Tapi sekarang dengar harga Rp 17 ribu langsung hilang antreannya," ujar Nuryadin, Sabtu (13/6/2026).

Menurutnya, sebagian besar masyarakat mengaku terkejut dengan kenaikan harga yang dinilai cukup signifikan dalam waktu singkat.

"Ya namanya kaget langsung naik drastis kan. Baru naiknya Rp 5 ribuan, awalnya kan harganya di Rp 12,5 ribu tiba-tiba naik di Rp 17 ribu. Jadi pas antrean Pertamax dengar harganya naik mau tidak mau mundur kembali motornya ke Pertalite," katanya.

Nuryadin menjelaskan, tidak sedikit masyarakat yang baru mengetahui adanya kenaikan harga saat tiba di SPBU. Pasalnya, informasi tersebut tidak seluruhnya diterima masyarakat, terutama yang tidak aktif menggunakan media sosial.

Baca juga: Harga Pertamax Naik jadi Rp17.000, Berapa Tiket Terbaru Speedboat Nunukan-Tarakan?

"Memang kan pengumumannya seluruh Indonesia, cuman namanya masyarakat ini kan ada yang tidak pakai media sosial segala macam, taunya datang antre saja. Begitu tahu harga naik Rp 17 ribu tidak jadi mereka antre. Mereka bilang kenapa tidak dikasih tahu pak, saya bilang itu kan pengumuman seluruh Indonesia. Kami aja tahunya jam sekian malam, jadi kami pun hanya mengikuti apa keputusan dari pusat," jelasnya.

Bahkan, pihaknya diminta mendokumentasikan perubahan harga pada dispenser sebagai bukti pelaksanaan kebijakan.

Meski minat masyarakat terhadap pertamax menurun, Nuryadin mengaku keberadaan BBM nonsubsidi tersebut selama ini cukup penting sebagai cadangan ketika stok pertalite mengalami gangguan distribusi.

Menurutnya, pertamax sering menjadi solusi agar masyarakat tetap bisa memperoleh BBM saat kebutuhan meningkat.

"Kami juga kan mengandalkan Pertamax untuk alternatif jaga-jaga kalau semisal Pertalite kosong jadi orang tidak mengeluh tiba-tiba kosong KTT BBM tidak ada. Makanya itu kita adakan Pertamax, tapi kalau kaya gini keadaannya tidak ada yang mau," ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut dapat menjadi tantangan apabila suatu saat terjadi kekosongan Pertalite, karena sebagian masyarakat masih enggan beralih ke Pertamax akibat selisih harga yang cukup jauh.

"Tinggal tunggu kapan Pertalite kosong. Kalau memang mereka mau apa boleh buat tetap kita isi kan namanya pelayanan. Sedangkan Pertamax ini belum naik aja dulu tetap orang hindari, apalagi naik begini harganya. Tapi kalau tidak ada pilihan mau tidak mau sudah," katanya.

Ia berharap harga pertamax dapat kembali stabil sehingga masyarakat tidak terlalu terbebani.

"Mudah-mudahan pertamax bisa kembali netral dari pusat sehingga masyarakat tidak terlalu full kena dampaknya," harapnya.

Diketahui, SPBU Tideng Pale Indah menjadi satu-satunya SPBU di Kabupaten Tana Tidung yang menyediakan layanan BBM lengkap mulai dari Pertalite, Pertamax, Dexlite hingga Biosolar.

"Pertamax ini hanya ada di SPBU ini karena sarprasnya lengkap. Jadi ada pertamax, Pertalite, Dexlite dan ada Biosolar, kalau di tempat lain kan hanya ada jenis subsidi saja sama solar," pungkasnya.

(*)

Penulis : Rismayanti

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.