Doa Sholat Tahajud, Amalan Mustajab di Sepertiga Malam Terakhir agar Hajat Dikabulkan
Bobby Wiratama June 15, 2026 02:34 AM

TRIBUNNEWS.COM - Sholat tahajud merupakan salah satu ibadah sunah yang memiliki keutamaan sangat besar dalam Islam.

Sholat ini dikerjakan pada malam hari setelah tidur terlebih dahulu, sehingga berbeda dengan sholat sunah malam lainnya yang dapat dilakukan tanpa didahului tidur.

Karena keistimewaannya, para ulama menyebut sholat tahajud sebagai salah satu amalan yang paling dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kementerian Agama menjelaskan keutamaan sholat tahajud disebutkan secara jelas dalam Al-Qur'an.

Allah SWT berfirman: "Pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra: 79)

Selain itu, Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa sholat tahajud merupakan sholat sunah yang paling utama setelah sholat wajib. 

"Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat pada tengah malam." (HR. Muslim)

Waktu tahajud, terutama pada sepertiga malam terakhir, juga menjadi salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. 

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: "Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni." (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, banyak kaum muslimin memanfaatkan waktu setelah sholat tahajud untuk memanjatkan doa dan memohon berbagai hajat kepada Allah SWT.

Baca juga: Niat Puasa Senin Kamis, Ketahui Hal yang Dilarang dan Makruh dalam Puasa

Sholat tahajud dapat dikerjakan minimal dua rakaat dan tidak memiliki batas maksimal tertentu, meskipun dianjurkan sesuai kemampuan serta ditutup dengan sholat witir.

"Sholat malam itu adalah dua rakaat, apabila kamu khawatir akan masuknya waktu shubuh maka berwitirlah satu rakaat saja sebagai witirnya (penutupannya) sholat yang telah kamu lakukan sebelumnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Setelah melaksanakan sholat tahajud, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, zikir, dan istighfar dengan penuh keikhlasan dan harapan agar Allah SWT mengabulkan segala permohonan yang dipanjatkan.

Ada beberapa doa yang dapat dibaca sebelum dan sesudah sholat Tahajud agar mendapatkan ampunan Allah SWT.

Mengutip Kementerian Agama dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), berikut doa sholat tahajud.

Doa Sholat Tahajud

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ أَنْتَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Allahumma Rabba Jibrīla wa Mīkā'īla wa Isrāfīla, fāṭiras-samāwāti wal-arḍi, ‘ālim al-ghaibi wasy-syahādah, anta taḥkumu baina ‘ibādika fīmā kānū fīhi yakhtalifūn. Ihdinī limakhtulifa fīhi minal-ḥaqqi bi idznika, innaka anta tahdī man tasyā'u ilā ṣirāṭin mustaqīm.

Artinya: "Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui perkara yang gaib dan yang nyata. Engkaulah yang memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Mu terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukilah aku kepada kebenaran dalam perkara yang diperselisihkan itu dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus."

Niat Sholat Tahajud

أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallî sunnatat tahajjudi rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: “Aku menyengaja shalat sunnah Tahajud dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Doa Setelah Sholat Tahajud

اَللهم رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ واْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاءُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ. اَللهم لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لآ اِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

Allâhumma rabbanâ lakal hamdu. Anta qayyimus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta mâlikus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta nûrus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu antal haqq. Wa wa‘dukal haqq. Wa liqâ’uka haqq. Wa qauluka haqq. Wal jannatu haqq. Wan nâru haqq. Wan nabiyyûna haqq. Wa Muhammadun shallallâhu alaihi wasallama haqq. Was sâ‘atu haqq. Allâhumma laka aslamtu. Wa bika âmantu. Wa ‘alaika tawakkaltu. Wa ilaika anabtu. Wa bika khâshamtu. Wa ilaika hâkamtu. Fagfirlî mâ qaddamtu, wa mâ akhkhartu, wa mâ asrartu, wa mâ a‘lantu, wa mâ anta a‘lamu bihi minnî. Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru. Lâ ilâha illâ anta. Wa lâ haula, wa lâ quwwata illâ billâh.

Artinya: “Ya Allah, Tuhan kami, segala puji bagi-Mu, Engkau penegak langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau penguasa langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau cahaya langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau Maha Benar. Janji-Mu benar. Pertemuan dengan-Mu kelak itu benar. Firman-Mu benar adanya. Surga itu nyata. Neraka pun demikian. Para nabi itu benar. Demikian pula Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam itu benar. Hari Kiamat itu benar. Ya Tuhanku, hanya kepada-Mu aku berserah. Hanya kepada-Mu juga aku beriman. Kepada-Mu aku pasrah. Hanya kepada-Mu aku kembali. Karena-Mu aku rela bertikai. Hanya pada-Mu dasar putusanku. Karenanya ampuni dosaku yang telah lalu dan yang terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan yang kunyatakan, dan dosa lain yang lebih Kau ketahui ketimbang aku. Engkau Yang Maha Terdahulu dan Engkau Yang Maha Terkemudian. Tiada Tuhan selain Engkau. Tiada daya upaya dan kekuatan selain pertolongan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Jumlah Rakaat Sholat Tahajud

Sholat tahajud tidak memiliki batas maksimal jumlah rakaat, sehingga dapat dikerjakan sesuai kemampuan masing-masing. Namun, jumlah paling sedikit yang dapat dikerjakan adalah dua rakaat dengan satu kali salam.

Meski demikian, Rasulullah SAW memberikan teladan dengan melaksanakan sholat malam sebanyak 11 rakaat atau terkadang 13 rakaat, termasuk sholat witir sebagai penutup. Karena itu, jumlah rakaat tersebut sering dijadikan pedoman oleh banyak umat Islam dalam mengerjakan tahajud.

Pelaksanaan sholat tahajud dianjurkan dilakukan dua rakaat demi dua rakaat, kemudian diakhiri dengan salam pada setiap dua rakaat. Anjuran ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, "Shalat malam itu dua-dua rakaat." (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Setelah menyelesaikan sholat tahajud, umat Islam juga dianjurkan menutup ibadah malamnya dengan sholat witir yang berjumlah ganjil. Jumlah rakaat witir dapat disesuaikan dengan kemampuan, mulai dari satu rakaat hingga lebih banyak.

Rasulullah SAW bersabda, "Sholat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika kamu khawatir masuk waktu Subuh, maka kerjakanlah satu rakaat sebagai witir untuk menutup sholat yang telah kamu lakukan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah riwayat dari Aisyah RA disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah jumlah sholat malamnya melebihi sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

"Rasulullah saw. tidak pernah menambah sholat malam di bulan Ramadhan atau di bulan lainnya dari sebelas rakat. Beliau sholat empt, dan jangan kamu tanyakan tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau sholat empat rakaat, dan jangan kamu tanyakan tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau sholat tiga rakaat, maka aku bertanya, 'Ya Rasulullah apakah tuan tidur sebelum sholat Witir? Beliau menjawab, 'Ya sesunguhnya kedua mataku tidur, tapi hatiku tidak pernah tidur.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Waktu Sholat Tahajud

Waktu pelaksanaan sholat tahajud dimulai setelah sholat Isya hingga sebelum masuk waktu Subuh, dengan syarat telah tidur terlebih dahulu meskipun hanya sebentar.

Para ulama membagi waktu tahajud menjadi tiga bagian. Pertama, awal malam, yaitu setelah Isya hingga sekitar pukul 22.00. Kedua, pertengahan malam, yakni sekitar pukul 22.00 hingga pukul 01.00 ketika suasana malam mulai lebih tenang dan sunyi.

Ketiga, sepertiga malam terakhir, yaitu sekitar pukul 01.00 hingga menjelang Subuh. Waktu terakhir ini dianggap sebagai waktu yang paling utama untuk melaksanakan sholat tahajud karena merupakan saat yang paling mustajab untuk berdoa dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Dalam hadis disebutkan bahwa waktu yang paling mulia adalah pada sepertiga malam terakhir, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Abu Muslim bertanya kepada sahabat Abu Dzar, "Di waktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?". Sahabat Abu Dzar menjawab, "Aku telah bertanya kepada Rasulullah saw. sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini." Lalu Rasulullah saw. bersabda, "Perut malam yang masih tinggal adalah sepertiga yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang melaksanakannya." (HR. Ahmad)

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.