Kisah Suporter Fanatik Belanda di Sindulang Manado, Rumah Berwarna Oranye dan Pernah Dikunjungi KNVB
Gryfid Talumedun June 15, 2026 01:36 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Wilayah Indonesia Timur mendadak berubah menjadi lautan warna oranye setiap kali timnas sepak bola Belanda berlaga. 

Pemandangan ikonik ini kembali tersaji secara masif saat tim berjuluk Oranje tersebut ditahan imbang 2-2 oleh pasukan Samurai Biru Jepang dalam laga penyisihan grup Piala Dunia 2026 pada Senin (15/6/2026).

Di Kota Ambon, Maluku, hasil imbang tersebut sama sekali tidak menyurutkan gairah warga. 

Baca juga: MEP Jagokan Inggris di Piala Dunia 2026, Ini Alasannya

Ratusan pendukung fanatik langsung turun ke jalan untuk berkonvoi, menaburkan warna oranye ke setiap aspal jalan dan lorong sempit yang mereka lalui dalam suasana perayaan yang meriah.

Manado pun tak kalah oranye. 

Meski euforia jalanannya tidak seluap di Ambon, fanatisme para pencinta Der Oranje di ibu kota Sulawesi Utara ini tetap menyala-nyala di tingkat akar rumput. 

Salah satu bukti autentik fanatisme itu ada pada sosok Asman. 

Warga Kelurahan Sindulang Satu, Kecamatan Tuminting ini dikenal luas sebagai salah satu fans die-hard Belanda dengan reputasi legendaris yang tidak hanya diakui di Manado, melainkan terdengar hingga ke negeri kincir angin.

Saking terkenalnya, delegasi resmi dari KNVB (Federasi Sepak Bola Kerajaan Belanda) bahkan pernah meluangkan waktu khusus untuk berkunjung ke rumah sederhananya di Sindulang. 

Lewat loyalitas tanpa batas itu pula, Asman telah mengecap "surga idaman" yang diimpikan oleh setiap suporter sepak bola di dunia, terbang dan menonton langsung aksi para penggawa Timnas Belanda dari pinggir lapangan. 

Tribunmanado.com berkesempatan mengunjungi kediaman Asman di Sindulang Satu pada Minggu (14/6/2026) sore.

Rumahnya berdiri di antara deretan lorong padat yang membelah kawasan Pasar Bersehati dan Boulevard Tuminting.

"Oh, rumah suporter Belanda itu? Di sebelah sana," ujar seorang wanita paruh baya ramah sembari menunjuk sebuah rumah beton. 

Dari luar saja, identitas rumah itu sudah berbicara banyak. 

Bendera triwarna Belanda, merah, putih, dan biru, terpasang gagah di bagian atap rumah. 

Ornamen jendela pun dicat dengan kombinasi warna serupa, sementara pintu utamanya mencolok dengan balutan warna oranye terang.

"Bahkan dinding bagian dalam rumahnya penuh dengan warna merah, putih, dan biru," bisik seorang pria yang berdiri di depan rumah Asman. 

Begitu pintu depan dibuka, ucapan pria itu terbukti benar. 

Di dinding ruang tamu, menempel rapi aneka dokumentasi foto perjalanan Asman dalam kapasitasnya sebagai loyalis utama Belanda.

Tak lama kemudian, Asman keluar dari bagian belakang rumah. "Wah, saya sudah bersiap-siap mau pergi ibadah ke gereja," sapanya hangat.

Bahkan dari potret kesiapannya ke gereja sore itu, aura suporter Belanda sulit disembunyikan. 

Ia mengenakan kemeja rapi berwarna oranye khas.

Bagi Asman, mengibarkan bendera Belanda ukuran raksasa setiap kali perhelatan Piala Dunia dimulai sudah bertransformasi menjadi ritual tradisi personal. 

Jika pada gelaran empat tahun lalu ia menancapkan benderanya di sepanjang tanggul Boulevard Tuminting, tahun ini ia menggeser posisinya lebih dekat ke tepi pantai.

Berdasarkan amatan di lokasi pada Minggu sore, bendera-bendera berukuran masif tersebut tampak melambai-lambai megah diterpa angin laut.

Tiga di antaranya merupakan bendera murni merah-white-blue, sementara tiga bendera lainnya memiliki tambahan aksen garis oranye di bagian tepinya.

Uniknya, di tengah jajaran enam bendera tersebut, terselip sebuah bendera putih polos yang seolah menyimbolkan bendera Belanda di siang hari; susunan warna merah dan putih kain yang berpadu kontras dengan birunya langit Tuminting.

Demi menjaga nyala api dukungannya pada Belanda, Asman tidak pernah segan merogoh kocek dalam dalam. 

Biaya pembuatan dan pemasangan bendera raksasa itu saja menghabiskan dana hingga jutaan rupiah. 

"Saya juga pernah bela-belain pergi ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta hanya untuk menonton langsung saat Timnas Belanda datang bertanding," kenangnya.

Asman mengungkapkan bahwa dukungannya terhadap Belanda memiliki akar sejarah keluarga yang sangat kuat. 

Ayahnya dahulu merupakan seorang prajurit KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger). 

Ia juga memiliki garis saudara jauh yang kini menetap di Belanda.

Lingkungan tempat tinggalnya di Sindulang pun sejak lama banyak dihuni oleh keluarga para keturunan Belanda-Minahasa yang menyandang nama keluarga seperti Lefrandt, Antoni, hingga Vanderslot.

Faktor genealogi dan ikatan historis inilah yang membuat kampungnya selalu menjelma menjadi arena festival yang riuh setiap kali Frenkie de Jong dan kawan kawan turun bertanding.

Suasana di dalam lorong seketika berubah layaknya pesta rakyat yang komunal.

Namun, suasana kontras yang sepi mencekam akan merayap di lorong-lorong Sindulang apabila Belanda tersingkir lebih cepat, atmosfer kelam seolah menegaskan bahwa panggung Piala Dunia telah usai bagi mereka.

Menatap sisa laga di Piala Dunia 2026, Asman optimistis bahwa Belanda memiliki momentum besar untuk tampil maksimal. 

Ia menilai materi skuad Oranje saat ini sangat komplet karena mengombinasikan kematangan para pemain berpengalaman dengan ledakan energi para pemain muda.

Di sana ada nama Cody Gakpo, Frenkie de Jong, Virgil van Dijk, hingga Memphis Depay yang sudah kenyang asam garam turnamen internasional, ditopang oleh talenta muda menjanjikan sekelas 

Crysencio Summerville dan Donyell Malen."Saya sangat yakin kali ini mereka mampu tampil konsisten dan keluar sebagai juara," pungkas Asman optimis. 

Ia mengimbau kepada seluruh pencinta sepak bola di Manado, terutama warga keturunan yang memiliki keterikatan sejarah, untuk bersatu memberikan energi positif bagi perjuangan skuad Der Oranje di lapangan hijau. (Art) 

-

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.