Regenerasi Seniman Cilik Klungkung Unjuk Kualitas di PKB 2026, Angkat Tradisi hingga Dolanan Anak
Ngurah Adi Kusuma June 15, 2026 07:23 PM

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA -  Penampilan Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Candra Nirwana dari Desa Pikat, Kecamatan Dawan, menjadi salah satu sorotan dalam Parade Gong Kebyar Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Minggu (14/6/2026).

Di tengah tantangan regenerasi seniman tradisi di Bali, kelompok yang beranggotakan anak-anak tersebut mampu menampilkan garapan yang memadukan unsur klasik Klungkung dengan kreativitas baru.

Ribuan penonton yang memadati arena pertunjukan memberikan apresiasi sepanjang pementasan berlangsung.

Penampilan Duta Kabupaten Klungkung itu dibuka dengan Tabuh Kreasi Pepanggulan berjudul "Sruwadi Anyar". 

Baca juga: Bupati Bangli Bakal Gelar Nobar Piala Dunia 2026 di Alun-alun, Begini Regulai Gelar Nonton Bareng

Karya tersebut mengangkat pola-pola bebonangan klasik Klungkung yang ditransformasikan ke dalam bentuk musikal baru. 

Garapan ini mengusung filosofi perubahan dan pembaruan, tanpa meninggalkan akar tradisi yang menjadi identitas daerah.

Selain kemampuan teknis para penabuh cilik, karya tersebut menunjukkan bagaimana generasi muda mulai dilibatkan dalam proses pelestarian sekaligus pengembangan seni karawitan Bali.

Pementasan kemudian dilanjutkan dengan Tari Panyembrama, tarian penyambutan yang telah lama dikenal sebagai simbol penghormatan dan ungkapan syukur kepada tamu yang hadir. 

Baca juga: Terungkap Pembuang Bayi di Imam Bonjol, NKSD Masukkan Bayi ke Tas Belanja Setelah Mulut Dilakban

Para penari muda tampil percaya diri membawakan tarian klasik tersebut di hadapan publik PKB.

Pada bagian penutup, Sekaa Gong Candra Nirwana menampilkan dolanan bertajuk "Mikat". 

Garapan ini mengangkat kehidupan anak-anak di Desa Pikat yang masih dekat dengan aktivitas tradisional seperti bermain di alam, belajar menari, hingga berbagai permainan rakyat yang diwariskan turun-temurun.

Melalui pertunjukan tersebut, para seniman muda tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga ruang tumbuh budaya di tengah perubahan zaman. 

Baca juga: 14 Kampus di Bali Bentuk Konsorsium Pendidikan, Wamendiktisaintek Beri Peringatan Ini

Bupati Made Satria mengatakan, dolanan "Mikat" menggambarkan, lingkungan sosial dan budaya yang sehat masih menjadi faktor penting dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus menjaga keberlanjutan warisan seni Bali.

"Melalui pembinaan sejak usia dini, berbagai bentuk kesenian warisan leluhur tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diberi ruang untuk berkembang sesuai dengan kreativitas generasi penerus," ungkapnya, Senin (15/6/2026). (mit)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.