TRIBUNBENGKULU.COM - Makna tradisi 'Ambik Tanah' dalam ritual Tabut jadi penanda Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H/2026 di Bengkulu
Festival tabut dimulai 1 Muharram atau tahun baru Islam 1447 Hijriah, yang bertepatan pada hari Selasa 16 Juni 2026 kalender masehi.
Rangkaian prosesi upacara Tabut pada Senin (15/6/2026) terdiri dari, Doa bersama (dzikir) Ba'da Salat Ashar di kediaman Tabut Imam Pasar Melintang, Proses Tabut Ambik Tanah 17 keluarga keturunan diawali kumpul bersama Ba'da Salat Isya di lokasi tugu Dhol simpang Polres, Prosesi Ambik Tanah di lokasi Pantai Nala (bawah Horizon) untuk keluarga Tabut Imam dan Tapak Paderi untuk keluarga Tabut Bangsal.
Kemudian di hari berikutnya, duduk penja, menjara, meradai, arak Penja, arak sorban, gam, tabut naik pangkek, arak gedang, soja, tabut tebuang, cuci penja dan doa penutup.
Tradisi prosesi 'ambik tanah' atau ambil tanah merupakan pertanda datangnya bulan Muharram di Bengkulu.
Baca juga: Festival Tabut 2026 Ditargetkan Dongkrak Perputaran Ekonomi hingga Rp25 Miliar, Lapak UMKM Ludes
Selain itu, prosesi ambil tanah juga menjadi tanda dimulainya ritual tabut dan Festival Tabut Bengkulu 2025.
Festival Tabut Bengkulu dimulai 16 Juni hingga 26 Juni, selama 10 hari atau mulai tanggal 1-10 Muharram di Kota Bengkulu .
Menyambut 1 Muharam yang jatuh pada Selasa (16/6/2026), pada Senin (15/6/2026) Keluarga Kerukunan Tabut (KKT) Bengkulu mengawali doa bersama (dzikir) Ba'da Salat Ashar di kediaman Tabut Imam Pasar Melintang, Proses Tabut Ambik Tanah 17 keluarga keturunan diawali kumpul bersama Ba'da Salat Isya di lokasi tugu Dhol simpang Polres, Prosesi Ambik Tanah di lokasi Pantai Nala (bawah Horizon) untuk keluarga Tabut Imam dan Tapak Paderi untuk keluarga Tabut Bangsal/ di Gerga Tabut Imam yang berada di kawasan Pantai Panjang Bengkulu.
Ritual ambik tanah kemudian digelar dengan membawa beberapa peralatan atau sesaji.
Sesaji yang dibawa yaitu berupa bubur merah putih dan lima jenis campuran air, antara lain air jeruk, air jahe, dan air cendana, ada juga sebanyak 7 lembar daun sirih 7 batang rokok.
Ritual dimulai dengan menyiram 5 campuran air yang telah mereka bawa ke tanah yang dianggap keramat tersebut.
Selanjutnya tanah yang sudah disiram tersebut diambil menggunakan potongan kain putih.
Pengambilan tanah tersebut menurut KKT merupakan simbol kain kafan yang membungkus manusia ketika ia meninggal.
Makna dari pengambilan tanah ini bermakna bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali lagi ke tanah.
Setelah prosesi ritual pengambilan tanah atau ambik tanah, masih banyak prosesi ritual yang akan dilakukan oleh KKT sampai dengan tanggal 10 Muharam mendatang.
Di antaranya ritual Duduk Penja, ritual Duduk Penja II, ritual upacara Menjara, ritual upacara Menjara II, ritual Meradai, ritua Arak Sorban, ritual Gham, ritual Tabut Naik Puncak, Tabut Besanding, ritual Soja, dan Arak Tabut Tebuang.