Israel Kecewa Berat, Sebut Kesepakatan Damai AS-Iran sebagai 'Bencana' Keamanan
Rustam Aji June 15, 2026 08:27 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEL AVIV – Pemerintah dan jajaran elit politik Israel menunjukkan kekecewaan mendalam atas kesepakatan damai AS-Iran yang tercapai pada Minggu (14/6/2026).

Tel Aviv merasa ditinggalkan oleh sekutu utamanya, Presiden AS Donald Trump, dalam negosiasi yang dianggap melupakan kepentingan krusial keamanan nasional mereka.

Media harian terkemuka berbahasa Ibrani, Yediot Aharonot, merangkum sentimen negatif publik dengan memasang judul utama yang mencolok: "Bad Deal" (Kesepakatan Buruk).

Kekesalan Israel mencuat karena mereka tidak dilibatkan dalam meja perundingan, padahal Israel telah terlibat dalam dua perang besar melawan Teheran dalam setahun terakhir.

Kritik paling keras datang dari mantan Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Liberman. Melalui akun media sosialnya, ia secara blak-blakan mengecam hasil diplomasi tersebut. "Ini adalah bencana dari perspektif Israel," tegas Liberman, Minggu.

Detail Gencatan Senjata Versi AS-Iran

Dilansir dari The New York Times, para pejabat Amerika Serikat dan Iran membeberkan bahwa poin utama dalam kesepakatan damai ini mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran demi stabilitas ekonomi global.

Sebagai kompensasi balik, pemerintahan Donald Trump dan Iran sepakat agar AS mencabut blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Selain itu, kedua belah pihak sepakat memperpanjang masa gencatan senjata yang sempat dimulai April lalu hingga 60 hari ke depan. Selama masa tenggang ini, Washington dan Teheran berkomitmen menggelar dialog lanjutan perihal sanksi ekonomi dan ancaman nuklir Iran.

Namun, rincian tersebut dinilai sangat mengecewakan bagi Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya berulang kali menegaskan bahwa target mutlak dari perang ini adalah memusnahkan ancaman eksistensial, termasuk menghancurkan total program rudal balistik Iran serta memutus rantai pasokan logistik ke kelompok proksinya seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan Hamas di Gaza.

Baca juga: Dunia Sambut Senang: AS dan Iran Sepakati Damai Permanen, Perang di Semua Lini Resmi Berakhir

Kegagalan Total Diplomasi Luar Negeri

Abainya isu rudal balistik dan jaringan proksi dalam dokumen yang beredar memicu kekhawatiran besar di kalangan pakar militer. Mantan penjabat penasihat keamanan nasional Netanyahu, Jacob Nagel, menilai Trump hanya peduli pada klaim publisitas pribadinya. "Tidak peduli apa yang akan terjadi, Presiden Trump akan menyatakan kemenangan, kemenangan total," sindir Nagel.

Gelombang protes juga datang dari pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid. Ia menyebut runtuhnya pengaruh Israel dalam kesepakatan ini sebagai tamparan keras bagi kabinet saat ini.

"Jika laporan mengenai kesepakatan itu benar, ini adalah salah satu kegagalan paling mengejutkan dalam politik luar negeri Israel dan keamanan nasional," cetus Lapid.

Saat ini, Pemerintah resmi Israel dilaporkan memilih bersikap ekstra hati-hati dan irit bicara dalam merespons pengumuman ini. Langkah tersebut diduga kuat sengaja diambil guna menjaga stabilitas hubungan bilateral dengan Donald Trump, mengingat Netanyahu sebelumnya selalu mengklaim memiliki kesepahaman penuh dengan Presiden AS tersebut terkait peta politik konflik Timur Tengah. (inas/kps)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.