Terpilih Aklamasi, Hidayat Abdurrahman Kembali Pimpin KONI Meranti, Fokus Persiapan Porprov 2027
Nolpitos Hendri June 15, 2026 08:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI - Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) KONI Kepulauan Meranti menetapkan Hidayat Abdurrahman, SE sebagai Ketua Umum KONI Kepulauan Meranti periode 2026-2030.

Hidayat Abdurrahman terpilih secara aklamasi dalam Musorkablub KONI Kepulauan Meranti yang digelar di Grand Meranti, Selatpanjang, Minggu (14/6/2026) malam.

Musorkablub KONI Kepulauan Meranti dibuka oleh Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharuddin.

Dalam sambutannya, ia mengucapkan selamat kepada Hidayat Abdurrahman yang kembali dipercaya memimpin KONI Kepulauan Meranti .

Muzamil menegaskan, amanah tersebut harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab untuk mendorong kemajuan dan prestasi olahraga daerah.

Ia juga mengingatkan agar organisasi olahraga menjadi wadah pengabdian, bukan tempat mencari kepentingan pribadi maupun kelompok.

“Kalau ingin organisasi ini besar, pengurus harus bertekad menghidupkan organisasi, bukan mencari hidup di organisasi. Dengan semangat itu, saya yakin KONI Meranti akan semakin kuat,” ujarnya.

Wabup juga mengajak seluruh cabang olahraga menjaga kekompakan dan mendukung kepengurusan baru dalam menghadapi berbagai agenda pembinaan atlet, termasuk persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Riau 2027.

Menurutnya, peningkatan prestasi olahraga memerlukan sinergi antara KONI, cabang olahraga, pemerintah daerah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Kita harus meninggalkan perbedaan dan fokus pada tujuan bersama, yakni melahirkan atlet-atlet berprestasi yang mampu mengharumkan nama Kepulauan Meranti,” kata Muzamil.

Sementara itu, Hidayat Abdurrahman menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan yang kembali diberikan kepadanya.

Ia mengatakan, kepengurusan yang akan dibentuk nantinya akan fokus memperkuat pembinaan atlet dan meningkatkan prestasi olahraga daerah.

Menghadapi Porprov Riau 2027, Hidayat menargetkan perolehan prestasi yang lebih baik dibandingkan ajang sebelumnya.

Menurutnya, atlet-atlet potensial harus mulai dipersiapkan sejak dini agar mampu bersaing di tingkat provinsi.

“Target kita meningkatkan prestasi olahraga Meranti. Atlet-atlet potensial harus mulai dipersiapkan dari sekarang agar mampu meraih hasil terbaik pada Porprov 2027,” ujarnya.

Hidayat menjadi satu-satunya calon yang lolos dalam proses penjaringan dan penyaringan yang dilakukan Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) KONI Kepulauan Meranti.

Dukungan penuh dari cabang olahraga pemilik hak suara mengantarkannya kembali memimpin KONI Meranti untuk empat tahun ke depan.

Musorkablub tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Umum I KONI Riau Dr. Khairul Fahmi, MT, Wakil Bidang Sarana dan Prasarana KONI Riau Faisal, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kepulauan Meranti Saiful Bakhri, ST, serta para ketua dan perwakilan cabang olahraga se-Kabupaten Kepulauan Meranti.

Tentang KONI

KONI adalah singkatan dari Komite Olahraga Nasional Indonesia, organisasi induk pembinaan olahraga prestasi di Indonesia, didirikan 15 Oktober 1938, dan berlandaskan Undang-Undang No. 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan.

Tugas dan Fungsi Utama

1. Membantu pemerintah merumuskan kebijakan nasional pengelolaan, pembinaan, dan pengembangan olahraga prestasi.

2. Mengoordinasikan seluruh induk cabang olahraga, KONI provinsi/kabupaten/kota, dan organisasi olahraga lainnya.

3. Mengelola, membina, dan mengembangkan atlet mulai usia dini hingga tingkat nasional, menyusun program jangka panjang.

4. Menyelenggarakan dan mengatur ajang utama seperti PON (Pekan Olahraga Nasional), Porda, dan kejuaraan tingkat nasional.

5. Mengirimkan dan mempersiapkan atlet untuk bertanding di kancah internasional (SEA Games, Asian Games, Olimpiade, dll) bekerja sama dengan Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia).

6. Mengawasi, mengevaluasi, serta meningkatkan kualitas pelatih, tenaga teknis, dan sarana prasarana olahraga.

Struktur Organisasi

KONI Pusat: Pimpinan tertinggi, berkedudukan di Jakarta, mengatur seluruh kebijakan nasional.

KONI Provinsi: 38 organisasi di seluruh provinsi, mengelola pembinaan di wilayahnya.

KONI Kabupaten/Kota: Sekitar 514 organisasi, pelaksana langsung di daerah.

Anggota: 82 induk organisasi cabang olahraga (seperti PB Persatuan Sepak Bola, PP Renang, dll).

Tujuan

Menghasilkan atlet berprestasi, membangun karakter bangsa, mengangkat harkat dan martabat Indonesia di dunia olahraga internasional, serta memperkokoh persatuan nasional melalui olahraga.

Perbedaan dengan lembaga lain

Kemenpora: Lembaga pemerintah yang mengatur kebijakan umum, anggaran, dan fasilitas.

KONI: Organisasi mandiri yang fokus pada sisi teknis, pembinaan, dan persiapan atlet.

NOC Indonesia: Khusus mengurus partisipasi Indonesia di ajang Olimpiade dan gerakan Olimpiade internasional.

Sejarah KONI

Berikut sejarah lengkap KONI dari awal berdirinya hingga sekarang, dibagi per tahap penting : 

1. Awal Berdiri: ISI (1938)

8 Oktober 1938: Dibentuk Ikatan Sport Indonesia (ISI) di Batavia (Jakarta), dipimpin Sutardjo Kartohadikusumo. Anggota pendiri: PSSI, PELTI, dan PBKSI (sekarang PERBASI). Tujuannya: menyatukan organisasi olahraga, mengembangkan olahraga, dan memperkuat persatuan bangsa di masa penjajahan.

15 Oktober 1938: ISI menggelar Pekan Olahraga ISI di Surakarta. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari berdirinya KONI.

Masa pendudukan Jepang (1942–1945): ISI berhenti beraktivitas, kegiatan olahraga dibatasi dan dikendalikan penguasa.

2. Masa Kemerdekaan: PORI – POI – KOI (1946–1963)

1946: Dibentuk PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) sebagai wadah tunggal, diketuai Mr. Widodo Sastrodiningrat. Didirikan pula KORI untuk urusan internasional dan Olimpiade.

1950: PORI berubah nama jadi POI, KORI jadi KOI (Komite Olimpiade Indonesia).

1951: POI dan KOI melebur dipimpin Sri Sultan Hamengku Buwono IX, menjadi satu organisasi yang mengurus olahraga nasional dan hubungan luar negeri.

1951: Indonesia ikut serta di Asian Games I di New Delhi, dan mulai aktif di kancah internasional.

3. Masa DORI dan Lahirnya Nama KONI Resmi (1964–1966)

1964: Pemerintah membentuk DORI (Dewan Olahraga Republik Indonesia); semua organisasi olahraga masuk di bawahnya, terpusat dan dikendalikan negara.

1965: Tokoh olahraga mengusulkan mengubah DORI menjadi KONI, agar mandiri dan bebas dari pengaruh politik.

1966: Lewat Surat Keputusan Presiden No. 143A dan 156A Tahun 1966, nama KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) resmi ditetapkan sebagai organisasi induk olahraga Indonesia.

Sampai 2005, KONI berperan ganda: mengelola olahraga prestasi dalam negeri sekaligus berfungsi sebagai Komite Olimpiade Indonesia (NOC) untuk ke luar negeri.

4. Perubahan Besar: Pemisahan KONI dan KOI (2005–2007)

2005: DPR dan Pemerintah mengesahkan UU No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. KONI dipecah menjadi dua:

KONI: khusus pembinaan olahraga prestasi dalam negeri.

KOI: khusus mengurus keikutsertaan di Olimpiade dan gerakan Olimpiade dunia.

2007: Musornas Luar Biasa memisahkan secara resmi; KOI berdiri sendiri, KONI tetap memegang pembinaan nasional.

5. Masa Terkini (2022–Sekarang)

2022: Ditetapkan UU No. 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, mengganti UU 2005. Posisi KONI dipertegas sebagai organisasi mandiri, mitra pemerintah, bertugas membina atlet, mengelola PON, dan persiapan kejuaraan internasional.

Saat ini: KONI berstruktur Pusat – Provinsi – Kabupaten/Kota, menaungi 82 induk cabang olahraga, dan tetap menjadi tulang punggung prestasi olahraga Indonesia.

( Tribunpekanbaru.com / Teddy Tarigan )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.