WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK — Hari pertama pembukaan jalur domisili Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SMP di Kota Depok diwarnai suasana dramatis dan menguras emosi.
Ratusan orang tua siswa berbondong-bondong menyerbu Posko Aduan SPMB di Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Depok, Gedung Dibaleka, Pancoran Mas, pada Senin (15/6/2026).
Pantauan di lokasi sejak pagi hingga sore hari memperlihatkan pemandangan yang memilukan.
Baca juga: SPMB DKI Jakarta 2026 Dibuka, Kuota 245.980 Murid di Sekolah Negeri dan Swasta Gratis
Area posko disesaki massa yang berdesak-desakan, bahkan banyak ibu-ibu yang terpaksa duduk lesehan di lantai tanpa alas demi mengantre giliran.
Suasana yang kian semrawut membuat petugas pelayanan terpaksa berdiri di atas kursi menggunakan pengeras suara agar instruksinya terdengar di tengah riuhnya aduan.
Lelahnya Mengetuk Pintu Sekolah Gratis
Hal yang menyayat hati dirasakan langsung oleh Jihan, salah satu orang tua siswa yang datang sejak pukul 09.00 WIB.
Hingga pukul 15.00 WIB, Jihan masih tertahan memegang nomor antrean di angka 300-an demi memperjuangkan nasib anak perempuannya agar bisa menembus SMP Negeri 27 Depok.
Mantan wali murid SD Negeri Tugu 1 ini mengaku harus melewati proses birokrasi yang melelahkan.
Mulai dari pengurusan surat domisili yang rumit hingga kesalahan fatal pada titik koordinat digital rumahnya.
Bagi masyarakat kecil seperti Jihan, sekolah negeri adalah pertaruhan hidup mati demi masa depan anak.
“Faktor utama karena biaya yang gratis serta kualitas sekolah negeri lebih baik. Sangat melelahkan prosesnya, Mas. Ya mudah-mudahan dipermudah aja, Mas. Diperlancar, enggak dipersulit kayak sekarang,” keluh Jihan dengan raut wajah letih.
Disdik Bantah Sistem Error, Kerahkan 15 Petugas Layanan
Merespons gelombang protes dan kepadatan yang membludak tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Depok, Wahid Suryono, langsung pasang badan.
Wahid menegaskan bahwa aplikasi digital SPMB sama sekali tidak mengalami gangguan teknis (down atau error).
Kepadatan luar biasa ini murni dipicu oleh lonjakan pendaftar di hari pertama yang melampaui prediksi, ditambah banyaknya orang tua yang panik akibat salah menginput data mandiri, seperti titik koordinat rumah dan nomor Kartu Keluarga (KK).
Kendala juga terjadi pada akun pendaftar Rintisan Sekolah Swasta Gratis (RSSG) yang dialihkan ke sistem online namun belum selesai diverifikasi secara utuh.
“Ini memang ada kendala terkait dengan verifikasi akun yang belum semuanya selesai ternyata. Jumlah sekolah yang melayani RSSG tahun ini juga meningkat dari 47 menjadi 52 sekolah tingkat SMP,” jelas Wahid, Senin (15/6/2026).
Guna mengurai benang kusut antrean, Wahid mengambil langkah taktis dengan menambah jumlah petugas di lapangan dari awalnya hanya 6 orang kini dipertebal menjadi 15 personel.
Disdik juga menerapkan sistem pengisian formulir manual untuk perbaikan KK dan koordinat, sehingga orang tua bisa langsung pulang tanpa perlu mengantre berjam-jam.
Wahid menjamin seluruh warga yang sudah datang akan dilayani hingga tuntas, meski petugas harus lembur hingga malam hari.
Selain itu, Disdik sengaja mengosongkan jadwal pendaftaran pada hari Selasa khusus untuk optimalisasi layanan perbaikan data sebelum pendaftaran jalur domisili kembali dibuka pada hari Rabu.