Hasiolan Gultom/Tribunnews.com
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kemampuan berbicara dalam bahasa Mandarin kini tidak lagi menjadi satu-satunya modal untuk bersaing di dunia kerja.
Seiring semakin eratnya hubungan ekonomi dan bisnis antara Indonesia dan Tiongkok, perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menjadi penghubung antara dua budaya yang berbeda.
Hal itu menjadi salah satu pesan utama dalam workshop bertajuk "Beyond Translation: How Language, Communication, and Public Speaking Shape Reputation" yang diikuti mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional Universitas Prima Indonesia (UNPRI).
Praktisi komunikasi Wendelyn Leo menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam komunikasi internasional sering kali bukan soal kemampuan berbahasa, melainkan kemampuan memahami konteks dan cara pandang lawan bicara.
Menurutnya, banyak orang menganggap menguasai bahasa asing sebagai tujuan akhir.
Padahal, di dunia profesional, bahasa hanyalah alat untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan kerja sama.
"Banyak orang mengira kemampuan bahasa adalah tujuan akhir. Padahal di dunia profesional, bahasa hanyalah alat. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakan bahasa tersebut untuk membangun pemahaman, kepercayaan, dan hubungan antara pihak-pihak yang memiliki latar belakang berbeda," ujar Wendelyn, Senin (15/6/2026).
Wendelyn yang pernah berkarier sebagai jurnalis sebelum masuk ke dunia komunikasi korporat menilai bahwa satu kata atau kalimat dapat memengaruhi citra seseorang maupun sebuah organisasi.
Dalam workshop tersebut, mahasiswa diajak mempelajari berbagai studi kasus internasional untuk memahami bagaimana sebuah strategi komunikasi dibangun.
Materinya meliputi penyusunan pesan utama (key message), mengenali target audiens, membaca tren, membangun narasi, hingga menciptakan hubungan yang baik dengan publik.
Ia menilai mahasiswa yang memiliki kemampuan bahasa Mandarin berada pada posisi yang strategis karena mampu memahami dua lingkungan budaya sekaligus.
"Peran kalian bukan hanya menerjemahkan bahasa. Kalian juga bisa menjadi jembatan yang membantu kedua pihak saling memahami cara berpikir, cara berkomunikasi, dan ekspektasi yang berbeda. Kemampuan itulah yang semakin dibutuhkan di dunia kerja saat ini," katanya.
Sekretaris Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional UNPRI, Mei Lisa, B Ed MTCSOL, mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan mahasiswa di luar aspek kebahasaan.
Menurutnya, seseorang bisa saja fasih berbahasa Mandarin, tetapi tanpa kemampuan komunikasi yang baik, pesan yang disampaikan belum tentu dapat dipahami dengan benar dan bahkan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
"Bahasa adalah alat, tetapi komunikasi adalah dampaknya. Seseorang bisa fasih berbahasa Mandarin, tetapi tanpa kemampuan komunikasi yang baik, pesan yang disampaikan bisa kurang tepat, bahkan berisiko menimbulkan miskomunikasi. Karena itu, kemampuan bahasa saja tidak cukup. Mahasiswa perlu mampu menyampaikan pesan secara efektif," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa lulusan bahasa Mandarin memiliki peluang besar untuk berperan sebagai penghubung dalam kerja sama Indonesia dan Tiongkok.
Baca juga: Kritik P2G soal Prabowo Ingin Ada Mapel Bahasa Prancis: Nanti Kunjungan ke Tiongkok, Wajib Mandarin
Tugas mereka tidak hanya menerjemahkan kata-kata, tetapi juga menjembatani perbedaan budaya, cara berpikir, dan kebiasaan berkomunikasi agar kolaborasi lintas negara dapat berjalan lebih efektif.