1.300 Lebih Mahasiswa UIN Bandung Kepung DPRD Jabar karena Pemerintah Hanya 'Iya-iya' Saja
Ravianto June 15, 2026 08:44 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gelombang unjuk rasa menolak kebijakan pemerintah rezim baru meledak serentak di berbagai wilayah Jawa Barat, mulai dari Purwakarta, Cirebon, hingga Kota Bandung. 

Di ibu kota provinsi, ribuan mahasiswa kembali turun ke jalan mengepung Gedung DPRD Jawa Barat di Jl. Diponegoro No.27, Citarum, Kec. Bandung Wetan akibat merasa aspirasi dan kajian ilmiah yang mereka berikan selama ini selalu diabaikan oleh pemerintah, Senin (15/6/2026).

Demonstrasi digelar menyikapi situasi buruk yang dirasakan oleh masyarakat setelah harga BBM naik, rupiah merosot, harga sembako melambung, harga obat naik program Makan Bergizi Gratis yang bermasalah serta pemborosan anggaran negara.

Dampak buruk dari kenaikan BBM jenis pertamax, penggunaan mulai beralih ke pertalite.

BBM subsidi ini memang tidak naik, tapi di sejumlah SPBU di Jawa Barat sulit didapatkan.

Di Majalengka, pembeli Pertalite harus keliling ke sejumlah SPBU.

Namun, dia tak menemukannya hingga akhirnya terpaksa membeli Pertamax.

DEMO MAHASISWA - Massa aksi membakar ban bekas saat berunjuk rasa di depan Kantor DPRD Purwakarta, Senin (15/6/2026).
DEMO MAHASISWA - Massa aksi membakar ban bekas saat berunjuk rasa di depan Kantor DPRD Purwakarta, Senin (15/6/2026). (Tribun Jabar/Deanza Falevi)

Di Kota Bandung dan sejumlah daerah lain, antrean di jalur Pertalie mengular panjang.

Abdurahman Mohammed Abdulmalik Albarakati mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, mengatakan kembali digelarnya aksi demontrasi karena dinilai penyampaian aspirasi yang dilakukan selama ini belum mendapat tanggapan dari pemerintah. 

"Kami sudah membuat kajian. Kami tidak hanya datang untuk menuntut. Kami juga menyiapkan solusi dan jawaban atas tuntutan yang kami sampaikan. Tetapi ketika audiensi hanya diiyakan tanpa tindak lanjut yang jelas, maka aksi menjadi jalan terakhir yang bisa dilakukan mahasiswa," katanya, Senin (15/6/2026). 

Dia mencontohkan sejumlah aksi yang sebelumnya digelar di berbagai daerah maupun di Jakarta. Namun menurutnya, berbagai aksi tersebut belum menghasilkan perubahan kebijakan yang diharapkan.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi yang sedang terjadi dan tidak bersikap apatis terhadap persoalan bangsa.

"Saya memohon kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih aware dan memahami bahwa keadaan bangsa ini tidak baik-baik saja. Karena itu kita harus terus bersuara," ujarnya.

Terkait pelaksanaan demonstrasi, pihaknya memastikan aksi dilakukan secara damai dan mengedepankan penyampaian aspirasi secara tertib. 

Meski demikian, mereka tetap mewaspadai kemungkinan adanya pihak-pihak yang dapat memicu kericuhan di lapangan.

"Kami menginginkan aksi ini berjalan kondusif. Mahasiswa tidak akan melakukan provokasi terlebih dahulu. Kalau ada tindakan yang tidak diinginkan, kami tidak tahu berasal dari mana. Yang jelas kami ingin aksi ini berjalan baik-baik saja," katanya.

Abdurrahman menyebut dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung terdapat sekitar 1.304 mahasiswa yang ikut terlibat dalam mobilisasi massa.

Sedangkan jumlah tersebut diprediksi akan terus bertambah seiring datangnya mahassiswa dari kampus lain di Kota Bandung. 

Sementara jumlah peserta aksi secara keseluruhan dari berbagai kampus belum dapat dipastikan karena proses konsolidasi dilakukan oleh masing-masing organisasi mahasiswa.

Aksi mahasiswa tersebut berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan.

Massa secara bergantian menyampaikan orasi yang berisi kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah seperti pemborosan anggaran negara melalui program, Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Dwifungsi TNI dan ABRI serta kunjungan ke luar negeri. (*)

Baca juga: Gema Teriakan Indonesia Bangkrut di DPRD Kota Cirebon, Mahasiswa Sebut MBG Jadi Ladang Korupsi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.