BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) I Majelis Ulama Indonesia juga dirangkai dengan Dialog Kebangsaan tema “Meperkuat Soliditas Kebangsaan di Era Ketidakpastian”, Senin (15/6/2026)
Dialog mengahadirkan Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh, Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Bidang Pangan RI, Dr Hanif Faisol Nurofiq, dan Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag RI, Dr KH Muchlis M Hanafi.
Pada kesempatan itu, Wamenko Hanif berbicara terkait ketahanan pangan khususnya di Kalimantan Selatan.
Menurutnya, Kalsel menjadi salah satu sasaran dari Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2015 tentang Kawasan Swasembada Pangan, Energi dan Air.
Baca juga: Update Pembebasan Lahan Bendungan Riam Kiwa Kabupaten Banjar, Kini Tahap Penilaian Ganti Rugi
Kawasan ini diharapkan menjadi bantalan dari segala kondisi sehingga mampu mempertahankan ketahanan pangannya.
“Jadi ketahanan pangan itu meliputi meliputi kemandirian, kecukupannya, kemudian kedaulatan menentukannya sendiri, akhirnya kepada kedaulatan pangan, ketahanan pangan,” ujar Hanif.
Mengingat keterbatasan luas lahan sawah, wilayah Kalsel disebut akan berfokus pada intensifikasi lahan dengan mengoptimalkan saluran irigasi primer dan sekunder menjadi saluran tersier yang langsung menyentuh sawah warga.
Adapun langkah konkrit yang akan dilakukan yaitu pembentukan sawah baru, mempercepat penanganan Bendungan Riam Kiwa di Kalsel untuk mencegah banjir yang merusak panen, serta memberdayakan pangan lokal.
Baca juga: Pengerjaan Konstruksi Bendungan Riam Kiwa Ditarget Mulai 2026, Tunggu Proses Ganti Tanaman Warga
“Sawah di Kalimantan Selatan paling banter bisa dibangun baru hanya 30.000 hektar. Hari ini terus dikonstruksi. Kemudian menghadirkan bendungan-bendungan yang meningkatkan kuantitas panen. Jadi bendungan Riam Kiwa itu, kalau enggak kita segera tangani, maka pada saat terjadi curah hujan, terjadi banjir, yang kemudian mengurangi kemampuan kita untuk panen,” ujarnya.
Di sisi lain, lanjut Hanif, pemerintah merangkul MUI sebagai mitra komunikasi guna menyosialisasikan pentingnya program ketahanan pangan kepada masyarakat menggunakan pendekatan yang mudah dipahami. (Banjarmasinpost.co.id/Rizki Fadillah)