Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon
POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Antonius Anton (59) sibuk menata makanan ringan dan kain tenun yang tersimpan di etalase di dalam sebuah ruangan berukuran 5×6 meter. Di depan bangunan sederhana itu dipancang sebuah spanduk bertuliskan Industri Kecil dan Menengah (IKM) Suka Maju Napan.
Antonius merupakan ketua sekaligus pengelola IKM Suka Maju. Lokasi bangunan IKM ini terletak di RT 004, RW 002, Desa Napan, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tepat tepi jalan negara Indonesia-Timor Leste Distrik Oecusse. Desa Napan merupakan desa yang berada tepat di wilayah perbatasan RI-RDTL.
"Minta maaf, saya juga sedang sakit-sakitan," ujarnya membuka percakapan dengan suara serak, Senin, 11 Januari 2026.
Wajah pria itu sudah tak muda lagi. Tangan yang kian keriput tidak menghalangi tekad Antonius menghidupkan geliat ekonomi dan asa kaum perempuan di desa itu.
IKM Suka Maju, Kelompok Usaha yang Berdiri karena Keresahan
Antonius memiliki 5 orang anak. Ia merupakan salah satu petani di Desa Napan. Selain petani, ia juga fokus dengan usaha IKM Suka Maju yang
Sebagai seorang petani Antonius pada mulanya cemas dengan kondisi ekonomi masyarakat setempat yang hanya berharap dari komoditas pertanian lahan kering. Penghasilan masyarakat dari hasil kebun tergantung curah hujan.
Tidak jarang masyarakat setempat mengalami gagal panen akibat curah hujan yang tidak menentu. Hal ini menjadi penyebab mayoritas masyarakat di desa itu memutuskan merantau ke luar daerah (Pulau Kalimantan, Papua dan Jawa) bahkan ke luar negeri.
Ia mengakui bahwa, banyak sekali potensi di desa seperti tenun, madu lokal dan hasil pertanian seperti ubi, pisang dan jahe yang belum dimanfaatkan secara maksimal saat itu. Potensi hasil pertanian tersebut menjadi alasan bagi Antonius untuk menolak merantau ke luar daerah.
Kain tenun milik warga setempat waktu itu hanya dijual di pasar dan di Kota Kefamenanu (ibukota Kabupaten TTU). Kain tenun sangat sulit dibeli secara intens lantaran konsumen tidak mengetahui dengan pasti lokasi penjual atau produsen.
Tidak jarang, satu helai kain tenun yang diproduksi masyarakat membutuhkan waktu 4 sampai 5 bulan untuk laku terjual. Fenomena ini menyebabkan mayoritas kaum perempuan di desa itu tidak melanjutkan usaha menenun kain.
Baginya, potensi tersebut merupakan kesempatan dan sumber pendapatan jika dikelola secara baik. Berangkat dari keresahan ini, Antonius kemudian mulai mendirikan Kios Suka Maju sejak tahun 2007.
Saat itu, Kios Suka Maju ini hanya fokus pada produk kain tenun, madu, minyak kelapa yang dibuat secara manual serta berjualan sembako.
Perjalanan Usaha IKM Suka Maju
Sejak berdiri pada tahun 2007, Kios Suka Maju melewati perjalanan yang tidak mudah. Bidang usaha yang digelutinya semula hanya fokus pada produk kain tenun, madu, minyak kelapa yang dibuat secara manual serta berjualan sembako.
Oleh karena itu, konsumen atau pembeli hanya berasal dari wilayah desa itu. Mengingat jangkauan pembeli yang cukup terbatas waktu itu, Antonius akhirnya mengalami kerugian yang cukup signifikan.
Sejumlah barang yang dijual seperti sembako, minyak kelapa dan madu terpaksa harus dibuang karena sudah melewati masa expired. Nyaris sebagian produk yang dijual di kios miliknya habis karena ketiadaan biaya untuk membeli lagi.
Masa-masa sulit itu, kata Antonius, merupakan momentum yang tidak akan pernah dilupakan. Nyaris 7 tahun Antonius bergelut dengan situasi ini.
Ia terpaksa harus meminjam uang di bank untuk kembali membangkitkan usaha yang sedang terpuruk. Pinjaman di lembaga keuangan ini tidak selamanya berjalan mulus.
Beberapa kali ia harus menunggak pembayaran dan meminjam uang dari tetangga hanya untuk membayar cicilan. Hal ini disebabkan oleh jumlah pembeli yang stagnan.
Ia kemudian memutuskan untuk merubah metode bisnisnya. Produk-produk langka seperti madu mulai diperkenalkan ke wilayah Kota Kefamenanu dan sejumlah kecamatan lainnya ketika ia mengikuti kegiatan di wilayah itu.
Memperkenalkan atau mempromosikan produk merupakan cara baru Antonius mempertahankan eksistensi usahanya. Ia juga menggandeng perbankan untuk mempromosikan produk-produk UMKM miliknya.
Antonius juga rajin mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Pelatihan ini meliputi metode fermentasi minuman yang berasal dari bahan lokal, pelatihan pembuatan makanan ringan atau snack dan ia juga mulai belajar menenun.
Lewat beragam pelatihan itu, ia kemudian mulai memproduksi sendiri jamu herbal, tenun ikat, minuman yang difermentasi seperti anggur pisang dan anggur jahe, snack yang dibuat dengan bahan dasar makanan lokal, minyak kelapa murni (disuling mandiri) dan madu.
Madu Suka Maju dan Kain Tenun, Produk Andalan
Dikatakan Antonius, ada dua jenis madu yang menjadi komoditas andalan di IKM Suka Maju. Produk Madu tersebut yakni dari madu yang dipanen di pohon dan di lubang batu atau di dalam gua-gua di wilayah itu.
Madu tersebut dibeli dari tangan para petani madu di wilayah Desa Napan. Hal ini merupakan cara Antonius menghidupi ekonomi petani madu di desa itu.
Selain madu, Antonius juga membeli obat herbal yang diproduksi anggota kelompok IKM Suka Maju. Menariknya, bahan dasar pembuatan makanan ringan atau snack dibeli dari tangan petani di desa itu juga.
Madu dijual dengan harga bervariasi sesuai ukuran wadah. Madu dijual dengan harga Rp. 20.000 (ukuran botol kecil), Rp. 50.000 (ukuran botol sedang) dan Rp. 100.000 (ukuran botol besar).
Ia bisa memperoleh pendapatan berkisar Rp. 15.000.000 hingga Rp. 20.000.000 dalam sebulan dari semua produk yang dihasilkan. Pendapatan tersebut dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga dan pendidikan anak-anak.
Pada tahun 2013 sampai 2015, permintaan Madu Suka Maju mulai meningkat. Tidak hanya di wilayah Kabupaten TTU dan Provinsi NTT, permintaan mulai datang dari beberapa misionaris (Imam dan Suster Katolik yang berisi di luar negeri seperti Brasil, Italia, Spanyol, Malaysia, Australia dan Timor Leste.
Kendati demikian, pengiriman produk madu tak bisa dilakukan karena keterbatasan jasa pengiriman. Madu hanya bisa dibeli ketika para misionaris berlibur di Kabupaten TTU.
Kolaborasi dengan JNE Cabang Kefamenanu dan Usaha Berjalan Pesat
Antonius mulai mengenal Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE Express ketika jasa pengiriman ini mulai membuka kantor cabang di Kota Kefamenanu. Saat itu, ia beberapa kali melakukan pengiriman kain tenun ke beberapa pembeli yang berdomisili di Pulau Kalimantan dan Papua.
Seiring berjalannya waktu, usaha ini mulai berkembang baik. Ia kemudian mengirim produk madu ke wilayah negara Timor Leste dan Malaysia sejak tahun 2022 lalu.
Pengiriman melalui JNE dinilai sangat membantu IKM Suka Maju berkembang pesat. Nyaris setiap bulan, Antonius mengirim madu dalam jumlah banyak ke beberapa negara. Dalam sekali transaksi Antonius bahkan mengirim 30 sampai 40 botol madu.
Ia bahkan, mendapat support luar biasa melalui kolaborasi konten bersama JNE Cabang Kefamenanu. Permintaan perlahan meningkat tajam.
Ia mengakui bahwa, pengiriman paling sering dilakukan ke Negara Timor Leste, Italia dan Brasil. Biasanya pengiriman memakan waktu singkat dan kualitas barang tetap terjaga.
Intensitas permintaan dari Negara Timor Leste paling tinggi. Dalam sepekan, dilakukan 4 kali Madu Suka Maju ke Negara Timor Leste. Tidak jarang ia juga mengirim kain tenun ke negara-negara tujuan itu melalui jasa pengiriman JNE.
Berkat dukungan dan usaha IKM Suka Maju, Antonius sukses menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Anak pertamanya sudah menjadi seorang ASN.
Anak kedua sudah menuntaskan pendidikan di tingkat perguruan tinggi di Kota Kupang, sementara anak ketiga dan keempat sedang mengenyam pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Anak terakhir saat ini sedang duduk di bangku SMA.
Geliat UMKM di Desa Napan Desa
Kepala Desa Napan, Wendelinus Kefi mengatakan, sebanyak 322 kepala keluarga dari 1267 jiwa yang berdomisili di desa itu. Desa Napan terdiri dari 6 RT dan 3 dusun. Geliat ekonomi di Desa Napan meningkat. Hal ini disebabkan oleh jumlah UMKM yang naik signifikan di tahun 2026 ini.
Pada tahun 2024 sebanyak 28 UMKM di Desa Napan, pada tahun 2025 meningkat menjadi 33 dan tahun 2026 menjadi 39 pelaku UMKM. Jumlah tersebut terdiri dari, 32 UMKM pemilik kios, 6 UMKM Tenun Ikat dan 1 IKM yakni IKM Suka Maju yang fokus ke sejumlah produk seperti madu, kain tenun, obat-obatan herbal, makanan lokal atau snack, minuman lokal seperti jus dan lain-lain.
Kendati demikian, perputaran ekonomi di wilayah itu, tidak sesignifikan 4 tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh aktivitas Pasar Batas (terletak di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, Distrik Oecusse) di wilayah Desa Napan yang ditutup sejak pembangunan PLBN Napan.
Pasar Batas itu merupakan urat nadi perekonomian warga perbatasan. Banyak warga dari Negara Timor Leste yang datang ke pasar itu untuk membeli produk masyarakat Indonesia.
Pasar Batas ini diharapkan bisa kembali dibuka agar komoditas masyarakat di wilayah perbatasan bisa dibeli oleh masyarakat dari Negara Timor Leste. Pasar tersebut beroperasi sekali dalam sebulan.
IKM Suka Maju tersebut juga mengakomodir para penenun lanjut usia. IKM Suka Maju adalah harapan besar para petani, penenun, petani madu, dan masyarakat Desa Napan bertumbuh dalam ekonomi.
JNE Cabang Kefamenanu
Kepala Cabang JNE Express Kefamenanu, Kurniawan Naga Bay, Jasa pengiriman barang JNE Express Cabang Kefamenanu pertama kali hadir di Kabupaten Timor Tengah Utara 1 Juni 2015 lalu. Dengan demikian, JNE Express Cabang Kefamenanu telah berkarya di Kabupaten TTU selama 11 tahun. JNE bernaung di bawah perusahaan PT Emsinayu.
Dalam sebulan, data penjualan (pengiriman dan penerimaan) barang di JNE Cabang Kefamenanu mencapai 500 sampai 600 kali. Jumlah tersebut fluktuatif.
Namun, data setiap bulan menunjukkan penjualan barang minimal dilakukan 500 kali. Dengan demikian, dalam setahun pengiriman dan penerimaan barang melalui jasa JNE sebanyak 6000 kali.
Pengiriman barang dari Kabupaten TTU, Provinsi NTT bervariasi. Barang yang paling sering dikirim meliputi dokumen, makanan ringan atau snack, pakaian, madu, kain tenun, kendaraan roda dua, batu giok dan cinderamata khas Kabupaten TTU.
JNE bertekad menjadi lumbung jasa pengiriman nomor satu di NTT. Secara khusus di Kabupaten TTU, JNE juga meminta visi menjadi barometer pengiriman dan penerimaan barang. JNE Kefamenanu terus mendorong peningkatan pelayanan kepada konsumen.
Gebrakan Sales Point
Demi meningkatkan ekspansi pelayanan, JNE Kefamenanu mencanangkan program sales point. Mereka membangun mitra dengan pelaku usaha di sejumlah kecamatan di Kabupaten TTU.
Para agen atau mitra ini akan menjadi lokasi penerimaan maupun pengiriman paket. Sistem bagi hasil diimplementasikan dalam kerja sama ini.
Sampai saat ini, sebanyak 9 pelaku usaha yang sudah dipercayakan sebagai agen. Mayoritas agen atau mitra ini adalah pemilik kios di setiap kecamatan.
Mitra JNE ini berlokasi di Kecamatan Miomaffo Barat, Miomaffo Timur, Kecamatan Insana Utara, Kelurahan Kefamenanu Tengah, dua titik di Kecamatan Bikomi Selatan, Kecamatan Noemuti, Kecamatan Biboki Utara, dan Kecamatan Insana.
Gebrakan Program Sales Point ini diterapkan lantaran sejumlah wilayah di Kabupaten TTU belum terjangkau jaringan telekomunikasi dan akses jalan yang rusak parah. Setiap titik agen itu akan dijangkau dengan kendaraan mobil yang disiapkan oleh JNE.
Langkah ini untuk mendekatkan pelayanan serta mengurangi biaya transportasi yang dikeluarkan oleh konsumen atau pelanggan. Di bawah gaung slogan" Connecting Happiness" (menghubungkan kebahagiaan) JNE Kefamenanu berikhtiar memberikan edukasi dan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
JNE memegang teguh tagline; berbagi, melayani dan menyantuni. Sebagai perusahaan jasa pengiriman barang asli Indonesia, JNE tidak hanya fokus pada bisnis tetapi juga menyantuni dan berbagi dengan masyarakat.
Aplikasi My JNE
Iwan menyebut, dalam upaya menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, JNE juga fokus mendorong digitalisasi dalam pelayanan, melalui kehadiran aplikasi My JNE.
Aplikasi ini membantu konsumen mengecek harga ongkos kirim, cek titik lokasi agen JNE, cek resi kiriman dan sejumlah fitur lainnya tanpa harus datang ke kantor. Aplikasi My JNE ini diharapkan bisa membantu konsumen memperoleh pelayanan secara detail.
"Aplikasi My JNE ini tersedia di play store dan masyarakat bisa mengaksesnya," ujarnya
Selain itu, JNE juga menyediakan website JNE.co.id. Website tersebut membantu konsumen mengakses sejumlah informasi yang dibutuhkan.
JNE juga hadir melalui sejumlah media sosial seperti, Instagram, Facebook, WhatsApp dan TikTok. Media sosial ini menyajikan informasi mengenai aktivitas-aktivitas JNE.
Pengiriman ke Luar Negeri
Iwan menyebut, pengiriman dan penerimaan barang di JNE Kefamenanu tidak hanya menjangkau wilayah Negara Indonesia. Proses pengiriman dan penerimaan barang di JNE Kefamenanu menjangkau luar negeri.
Pengiriman dan penerimaan barang di JNE Cabang Kefamenanu menjangkau negara Timor Leste, Negara-negara di Benua Eropa, Negara Asean, Benua Amerika. Sejauh ini, pengiriman barang ke negara konflik ditunda untuk beberapa waktu ke depan. Pengiriman ke luar negeri biasanya meliputi barang seperti paspor, jagung, kain tenun, obat-obatan herbal, madu, makanan ringan atau snack, handphone, dan buku sering dilakukan ke luar negeri.
Menurutnya, pengiriman ke luar negeri yang paling sering adalah pengiriman komoditas madu dari UMKM Suka Maju dari Desa Napan. Kualitas pelayanan pengiriman ke luar negeri dipastikan sesuai harapan para konsumen.
Secara khusus pengiriman Madu UMKM Suka Maju, kata Iwan, JNE Kefamenanu memberikan perlakuan khusus atau proses pembungkusan paket sesuai standar keamanan. Pasalnya, madu merupakan komoditas sensitif.
Menariknya Madu Suka Maju cukup terkenal karena sudah memiliki brand. Intensitas pengiriman dilakukan beberapa kali dalam sepekan.
Sebelum dilakukan pengiriman ke luar negeri, pihak JNE meminta pengelola IKM Suka Maju untuk memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditetapkan. Pasalnya, pengiriman ke luar negeri membutuhkan waktu yang cukup lama.
Promo Pengiriman bagi UMKM dan Promosi Brand UMKM
Sejauh ini, komoditas unggulan dari Kabupaten TTU yang paling sering dikirim ke luar daerah dan luar negeri yakni komoditas kain tenun dan madu. Demi mendukung geliat pelaku UMKM, JNE menyediakan promo pengiriman.
Promo pengiriman ini berupa diskon biaya pengiriman 10 persen. Selain itu, JNE Kefamenanu juga menggalang kegiatan kolaborasi dengan UMKM. JNE memfasilitasi pengurusan brand dan lain-lain sejumlah tenun ikat. Mereka juga memfasilitasi promosi brand tersebut.
Promosi brand UMKM ini dilaksanakan melalui kolaborasi pembuatan konten bersama JNE. Semua konten ini akan diupload di semua media sosial JNE.
Bagi Iwan, geliat UMKM di Kabupaten TTU cukup baik. Oleh karena itu, JNE menginisiasi pelayanan mobil pikap gratis. Mobil tersebut akan menjemput dan mengantar kiriman ke rumah pelanggan dalam Kota Kefamenanu.
Dukungan JNE kepada pelaku UMKM di Kabupaten TTU sudah menjadi buah bibir. Jasa pengiriman ini menyiapkan gudang mini bagi pelaku UMKM yang hendak mengirimkan barang dalam jumlah banyak ke luar daerah.
Barang-barang tersebut akan ditampung di gudang sambil menanti pelaku UMKM memenuhi permintaan jumlah pesanan konsumen sebelum dikirim ke luar wilayah. Selama masa produksi memenuhi permintaan konsumen, barang itu disimpan di gudang milik JNE.
"Supaya pengiriman dilakukan dalam sekali pengiriman. Kalau dilakukan berkali-kali kan nanti mereka harus mengeluarkan biaya transportasi ke kantor dan lain-lain jadi kita sediakan gudang mini ini," kata Iwan.
JNE juga menyediakan voucher ongkos kirim, voucher belanja, Voucher Pertamina, Telkomsel bagi konsumen dengan hadiah menarik seperti perabot rumah tangga dan barang lainnya.
Selain membangun kolaborasi bersama UMKM dan masyarakat, JNE Cabang Kefamenanu juga membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, pengusaha, perusahaan dan sejumlah pihak lainnya.
JNE Menyambung Asa IKM Suka Maju dari Pelosok NTT Bersaing di Pasar Global
Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Yosep Falentinus Delasalle Kebo mengatakan, dalam upaya mendukung dan menjaga eksistensi UMKM dan IKM di Kabupaten TTU, Kementerian UMKM melalui Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten TTU menggelar berbagai macam kegiatan pendampingan dan pembinaan. Pendampingan dan pembinaan ini seputar edukasi kepada mereka tentang teknik-teknik berusaha seperti; pencatatan keuangan dan pelatihan-pelatihan teknis.
"Kita buat pelatihan-pelatihan supaya mereka punya keterampilan teknis untuk mengolah usaha yang mereka geluti," ungkapnya.
OPD terkait juga fokus mengedukasi dan memfasilitasi agar UMKM di Kabupaten TTU secara legal memiliki izin usaha. Sehingga mereka memiliki akses untuk mendapatkan modal di lembaga keuangan.
Sebelumnya, Kementerian UMKM juga mengalokasikan anggaran kepada pelaku UMKM melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Pemkab TTU untuk pelaksanaan kegiatan pelatihan dan sebagai stimulus untuk modal usaha pelaku UMKM.
Falentinus menjelaskan, persoalan perekonomian masyarakat di perbatasan RI-RDTL khususnya di wilayah Kabupaten TTU, masih menjadi topik hangat yang harus dibicarakan secara komperhensif. Wilayah Kabupaten TTU yang berada tepat di perbatasan RI-RDTL Distrik Oecusse merupakan salah satu wilayah strategis pertumbuhan IKM dan UKM.
Berdasarkan data BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur, jumlah industri Mikro dan Kecil di Kabupaten TTU tahun 2021 sebanyak 5.549. Pada tahun 2022, jumlah ini mengalami peningkatan signifikan yakni 10.806 UKM.
Dalam upaya memastikan eksistensi UMKM, salah satu cara yang dilakukan Pemkab TTU untuk mendukung pasar pelaku UMKM adalah menghidupkan kembali Car Free Day serta menghadirkan UMKM di lokasi pelaksanaan Car Free Day tersebut.
Selain itu, berbagai upaya jangka panjang dilaksanakan Pemkab TTU mendorong peningkatan kesejahteraan petani melalui penyaluran bantuan alsintan, pupuk dan bibit demi meningkatkan produksi pertanian. Pasalnya, mayoritas mata pencaharian masyarakat di Kabupaten TTU adalah petani.
"Semua ini nantinya akan bermuara pada daya beli dan dukungan terhadap pelaku UMKM. Jadi kalau petani kita sejahtera maka, daya beli itu tidak akan diragukan lagi," ujarnya.
Kehadiran JNE Cabang Kefamenanu merupakan berkat bagi masyarakat Kabupaten TTU. JNE juga intens berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menyelenggarakan sejumlah kegiatan bagi UMKM.
JNE telah menjadi penyambung kebahagiaan dan asa pamungkas IKM Suka Maju bersama petani, penenun dan petani madu di perbatasan RI-RDTL, menembus pasar internasional, menata hidup dan ekonomi yang lebih baik.
Ketika tulisan ini dipublikasikan, Ketua Kelompok IKM Suka Maju Desa Napan, Antonius Anton telah berpulang ke hadapan Sang Khalik pada Senin, 15 Juni 2026 pukul 00.45 WITA karena sakit. Kepergian Antonius merupakan duka terdalam bagi petani madu, penenun, dan petani kecil di perbatasan RI-RDTL Distrik Oecusse. (bbr)