TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Lampung Selatan- Program Studi Arsitektur Lanskap Institut Teknologi Sumatera (ITERA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan ruang publik yang inklusif melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).
Melalui program bertajuk Perancangan Taman Lansia Berdasarkan Perspektif Pengguna di PKK Agropark Lampung, tim dosen dan mahasiswa menghadirkan konsep desain taman yang mengutamakan kebutuhan, kenyamanan, dan keamanan bagi kelompok lanjut usia.
Kegiatan yang diketuai Dr. Rizka Nabilah, S.Si., M.Si. ini dilaksanakan di kawasan PKK Agropark Lampung, Kabupaten Lampung Selatan.
Dalam pelaksanaannya, tim (Septi Maulidyah, S.T., M.T., Martin Muljana, S. T., M.Ars.L., Cipta Vidyana, S.Pd.,M.Ars., Dr. Eng. Dadang Hartabela, S.T., M.Si., Ananda Amelia Pandani, S.T., M.R.K, Fransiska Rona Violetta, S.P., M.Si., Valshya Sahira Safwa) melakukan observasi lapangan, inventarisasi kondisi biofisik kawasan, serta wawancara partisipatif bersama pengelola dan Komunitas Lansia Jalur Dua Way Halim untuk menggali kebutuhan pengguna secara langsung.
Dr. Rizka Nabilah menjelaskan, penyediaan ruang terbuka hijau yang ramah lansia menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan kota dan kawasan publik saat ini.
Lansia memerlukan ruang yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga aman, mudah diakses, dan mampu mendukung aktivitas fisik maupun sosial.
"Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan konsep taman yang benar-benar berangkat dari kebutuhan pengguna. Harapannya, desain yang dihasilkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan ruang publik yang inklusif dan mampu meningkatkan kualitas hidup lansia," ujarnya.
Berdasarkan hasil identifikasi lapangan, kawasan Agropark Lampung memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai taman lansia karena telah menjadi lokasi aktivitas rutin masyarakat, khususnya komunitas lansia yang memanfaatkan area tersebut untuk berjalan pagi, olahraga ringan, dan kegiatan sosial.
Namun, kawasan ini masih memiliki keterbatasan fasilitas pendukung, seperti jalur pedestrian yang aman, area duduk ergonomis, ruang berkumpul, dan elemen aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan lansia.
Menjawab tantangan tersebut, tim PkM Program Studi Arsitektur Lanskap ITERA mengusung konsep "Taman Lansia Aktif dan Menyegarkan", yaitu desain ruang terbuka yang mengintegrasikan aspek kesehatan, interaksi sosial, dan keberlanjutan lingkungan.
Konsep ini diwujudkan melalui pembagian kawasan ke dalam beberapa zona utama, meliputi area komunal, area aktivitas, area relaksasi, welcoming area, dan area bunga aromatik yang dirancang untuk memberikan stimulasi visual dan sensorik bagi pengunjung.
Selain menyediakan ruang untuk senam dan aktivitas fisik ringan, desain taman juga dilengkapi dengan jalur pedestrian yang aman dan aksesibel, gazebo, bangku ergonomis, jalur refleksi kaki, taman bunga aromatik, area relaksasi dengan elemen air, serta penambahan vegetasi peneduh untuk meningkatkan kenyamanan termal.
Seluruh elemen tersebut dirancang berdasarkan prinsip universal design agar dapat digunakan secara nyaman oleh lansia maupun kelompok masyarakat lainnya.
Proses penyusunan desain dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat dan komunitas lansia sebagai pengguna utama.
Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan rancangan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan nyata di lapangan sekaligus memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap ruang publik yang akan dikembangkan.
Sebagai luaran kegiatan, tim Program Studi Arsitektur Lanskap ITERA menghasilkan dokumen perencanaan berupa site plan, visualisasi tiga dimensi (3D), serta rekomendasi teknis pengembangan kawasan yang dapat dimanfaatkan sebagai acuan oleh pengelola dan para pemangku kepentingan.
Hasil perancangan tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan PKK Agropark Lampung sebagai ruang terbuka hijau yang inklusif, edukatif, dan ramah lansia.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Arsitektur Lanskap ITERA menegaskan perannya dalam mengimplementasikan keilmuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pengelola kawasan, dan komunitas lansia diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mewujudkan ruang publik yang lebih sehat, nyaman, dan berkelanjutan bagi semua kelompok usia.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/rls)