Sebagai aset sumber daya alam, mestinya komoditas-komoditas penting dunia itu bisa memberikan nilai tambah yang lebih besar kepada perekonomian
Jakarta (ANTARA) - Pengamat pasar modal Fendi Susiyanto menilai keputusan pemerintah memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam melalui pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) memiliki relevansi dengan kondisi lalu lintas ekspor.
Fendi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin, mengatakan lalu lintas ekspor komoditas SDA belum sepenuhnya transparan dan masih membutuhkan penguatan akuntabilitas.
Padahal, SDA merupakan aset strategis bagi perekonomian Indonesia.
“Batu bara, sawit dan nikel sangat strategis dan volume ekspornya sangat tinggi. Sebagai aset sumber daya alam, mestinya komoditas-komoditas penting dunia itu bisa memberikan nilai tambah yang lebih besar kepada perekonomian,” katanya.
Ia menilai pembentukan DSI dapat menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memperkuat pengawasan terhadap transaksi ekspor komoditas SDA, terutama karena masih banyak eksportir yang memiliki perusahaan afiliasi di luar negeri.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat aspek transparansi dan akuntabilitas dalam perdagangan komoditas perlu terus diperbaiki.
Fendi menambahkan sebagai produsen kelapa sawit (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia, Indonesia semestinya memiliki posisi yang lebih kuat dalam perdagangan CPO internasional, baik dari sisi harga maupun volume.
Dengan mekanisme pengawasan yang lebih terintegrasi, pemerintah dinilai dapat mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor komoditas.
“Jika DSI mampu melakukan monitoring dan menertibkan transaksi ekspor melalui mekanisme satu pintu, rasanya akan banyak dampak positif yang bisa dinikmati pemerintah dan rakyat Indonesia dari sumber daya alamnya ini,” ujar dia.
Selain itu, Fendi menyoroti potensi pengelolaan devisa hasil ekspor atau DHE. Ia mengatakan selama ini pemerintah masih menghadapi tantangan dalam menarik kembali hasil transaksi ekspor ke sistem perbankan dalam negeri.
Jika DHE komoditas dapat dikelola lebih optimal oleh bank-bank domestik, hal itu dinilai dapat membantu memperkuat cadangan devisa dan mendukung stabilitas rupiah.
“Indonesia harus berani mengambil kebijakan yang mendukung penguatan rupiah melalui aset-aset strategis seperti ekspor komoditas ini,” tuturnya.





