Kesepakatan Damai AS-Iran Picu Ledakan Reaksi Global: PBB Puji, Israel Murka
Whiesa Daniswara June 16, 2026 02:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu reaksi global beragam, dari dukungan diplomatik hingga penolakan keras negara-negara kunci dunia.

Washington dan Teheran secara resmi mengumumkan tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri perang AS, Israel vs Iran, Minggu (14/6/2026).

Kesepakatan damai ini mencakup penghentian eskalasi militer yang melibatkan Israel serta pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan energi strategis dunia.

Pengumuman tersebut pertama kali disampaikan oleh pihak mediasi yang dipimpin oleh Pakistan, sebelum kemudian dikonfirmasi oleh Presiden AS, Donald Trump.

Trump menyebut kesepakatan ini sebagai “akhir dari perang”.

Dirinya pun menegaskan kalau langkah kesepakatan damai tersebut akan membawa stabilitas baru bagi kawasan Timur Tengah.

lihat foto
TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump marah dengan tanggapan proposal perdamaian dari Iran. Terkini, soal kesepakatan damai AS-Iran, Trump menyinggung pentingnya pembukaan kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Dalam pernyataannya, Trump juga menyinggung pentingnya pembukaan kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Seiring berjalannya kesepakatan damai, Trump menuturkan kapal-kapal global dapat kembali beroperasi tanpa hambatan.

Arus minyak dunia juga akan kembali normal setelah periode gangguan yang panjang.

Baca juga: Iran Merasa Dipersulit di Piala Dunia 2026, Mehdi Taremi: Kegembiraan Sepak Bola Berkurang

Di sisi lain, pejabat Iran menyatakan kesepakatan ini adalah bagian dari proses bertahap menuju perundingan lanjutan.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabad menyebut salah satu agenda yang akan dibahas dalam fase berikutnya adalah kemungkinan pencabutan sanksi ekonomi terhadap Teheran.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada dokumen final yang secara rinci memuat seluruh isi kesepakatan.

Beberapa aspek penting seperti masa depan program nuklir Iran, mekanisme verifikasi internasional, serta batas waktu implementasi masih menjadi tanda tanya besar yang belum dijelaskan secara terbuka oleh kedua pihak.

Isi Umum Kesepakatan dan Poin-Poin yang Disebutkan

Berdasarkan informasi yang beredar dari berbagai sumber diplomatik dan media internasional, kesepakatan AS–Iran ini mencakup beberapa poin utama.

Pertama, penghentian sementara seluruh operasi militer antara pihak yang terlibat dalam konflik, termasuk eskalasi yang melibatkan wilayah Lebanon.

Kedua, rencana pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap dengan pengaturan teknis yang masih akan dibahas lebih lanjut.

Ketiga, adanya pembicaraan lanjutan mengenai status sanksi ekonomi terhadap Iran, yang diperkirakan akan menjadi bagian dari negosiasi lanjutan selama masa gencatan senjata.

Keempat, komitmen awal untuk melanjutkan dialog diplomatik terkait isu nuklir Iran, meski belum ada kesepakatan final mengenai pembatasan atau penghentian program pengayaan uranium.

Baca juga: Trump: Iran Boleh Memperkaya Uranium, tapi Bukan untuk Militer

Namun, sejumlah analis internasional menilai bahwa ketidakjelasan detail ini membuka ruang interpretasi yang luas dan berpotensi menimbulkan perbedaan implementasi di lapangan.

Reaksi Dunia Internasional

  • Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres menyambut kesepakatan ini sebagai “langkah penting” menuju penyelesaian konflik secara damai.

PBB menegaskan bahwa semua pihak harus menahan diri dan memastikan implementasi kesepakatan dilakukan secara konsisten untuk mencegah eskalasi baru di kawasan.

  • Qatar

Pemerintah Qatar menyatakan apresiasi terhadap kedua pihak yang memilih jalur diplomasi.

Kementerian Luar Negeri Qatar menegaskan bahwa dialog merupakan satu-satunya cara berkelanjutan untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah, serta mendorong semua pihak untuk melanjutkan proses negosiasi secara konstruktif.

lihat foto
PAKISTAN DAN AS - Tangkap layar YouTube The White House menampilkan PM Pakistan Shehbaz Sharif dan Presiden AS Donald Trump saat menandatangani piagam Dewan Perdamaian pada 22 Jan 2026. 
  • Pakistan

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif menyebut kesepakatan ini sebagai “terobosan besar” setelah periode konflik yang telah menewaskan ribuan orang dan memicu krisis regional.

Pakistan juga menegaskan bahwa peran mediator internasional, termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Turki, sangat penting dalam mencapai kesepakatan ini.

  • Turki

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menyambut baik kesepakatan tersebut dan menyebutnya sebagai perkembangan penting bagi stabilitas kawasan.

Turki menegaskan akan terus mendukung setiap upaya diplomatik yang bertujuan menciptakan perdamaian jangka panjang di Timur Tengah berdasarkan hukum internasional.

  • Uni Eropa

Uni Eropa (UE) menyoroti pentingnya implementasi cepat dari kesepakatan ini, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Menurut Brussels, jalur tersebut memiliki peran vital dalam rantai pasok energi global, dan setiap gangguan dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dunia.

Baca juga: Israel Tak Senang dengan Kesepakatan AS-Iran, Tak Mau Mundur dari Lebanon

  • Britania Raya

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menyebut kesepakatan ini sebagai langkah yang sangat penting dalam mengakhiri konflik.

Namun ia menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus disertai jaminan kuat bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir.

Inggris juga menyatakan kesiapan untuk membantu operasi teknis seperti pembersihan ranjau di wilayah perairan strategis jika diperlukan.

  • Perancis

Presiden Perancis, Emmanuel Macron menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa syarat.

Ia menegaskan bahwa kebebasan navigasi merupakan elemen fundamental bagi stabilitas global.

Prancis juga menyatakan kesiapan untuk mendukung upaya politik dalam memperkuat stabilitas di Lebanon.

  • Jerman

Kanselir Jerman, Friedrich Merz menyambut positif kesepakatan tersebut dan menyebutnya sebagai peluang untuk memperkuat stabilitas ekonomi global.

Namun ia menekankan bahwa keberhasilan kesepakatan ini sangat bergantung pada implementasi yang ketat dan konsisten di lapangan.

  • Bangladesh

Pemerintah Bangladesh menyatakan harapan agar kesepakatan ini dapat dijalankan dengan itikad baik oleh semua pihak.

Dhaka menegaskan bahwa penyelesaian damai yang berkelanjutan sangat penting untuk mencegah krisis kemanusiaan dan ekonomi lebih lanjut di kawasan.

  • Israel Menolak Keras: “Tidak Terikat Kesepakatan”

Di tengah gelombang dukungan internasional, Israel menjadi pihak yang secara terbuka menolak kesepakatan tersebut.

Pejabat Israel menyatakan bahwa negara mereka tidak menjadi bagian dari perundingan dan oleh karena itu tidak terikat oleh isi kesepakatan damai antara AS dan Iran.

Baca juga: Usai Sepakat Damai, Trump Ultimatum Iran dan Ancam Bombardir Teheran Jika Negosiasi Nuklir Mandek 

Menteri pertahanan Israel bahkan menegaskan bahwa operasi militer di Lebanon, Suriah, dan Gaza akan tetap dilanjutkan tanpa batas waktu.

Selain itu, sejumlah pejabat politik Israel dari sayap kanan mengecam kesepakatan ini dan menyebutnya sebagai langkah yang berbahaya bagi keamanan nasional Israel.

Mereka menilai kesepakatan tersebut dapat memperkuat posisi Iran di kawasan dan melemahkan tekanan internasional terhadap Teheran.

Pernyataan keras juga muncul dari sejumlah politisi yang menuntut agar kampanye militer terhadap kelompok yang dianggap ancaman di kawasan tetap dilanjutkan, termasuk terhadap Hizbullah di Lebanon.

Dampak Ekonomi Global: Minyak Turun, Bursa Menguat

Pasar global merespons cepat kabar kesepakatan ini.

Harga minyak dunia dilaporkan mengalami penurunan tajam setelah adanya ekspektasi bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka dan jalur distribusi energi global kembali normal.

Sementara itu, bursa saham di Asia dan Eropa mencatat penguatan signifikan, dipimpin oleh sektor energi, transportasi, dan keuangan.

Investor menyambut positif potensi stabilisasi geopolitik yang dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi global.

Baca juga: AS-Iran Nyatakan Damai, Kesepakatan Masih Tentatif

Sejumlah analis mengingatkan bahwa volatilitas masih mungkin terjadi jika implementasi kesepakatan tidak berjalan sesuai rencana atau jika terjadi eskalasi baru di lapangan.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.