Ratusan Ribu Ikan Mati di Sungai Mempawah Sampai Air Berubah Warna, Bagaimana Nasib Air Bersih?
Faiz Iqbal Maulid June 16, 2026 06:24 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Aliran Sungai Mempawah mendadak menjadi kolam bangkai pada Senin 15 Juni 2026.

Di mana kematian ikan secara massal yang terjadi di keramba jaring apung sepanjang aliran Sungai Mempawah.

Kasus ini tengah diselidiki Pemerintah Kabupaten Mempawah.

Melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Mempawah, tim gabungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Barat serta Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Kalbar diterjunkan langsung ke lapangan.

Pada Jumat 12 Juni kemarin, tim mendatangi lokasi keramba milik warga di kawasan Jalan Gusti Muhammad Taufik, Kelurahan Terusan, Kecamatan Mempawah Hilir yang terdampak kematian ikan.

Selain melihat kondisi di lapangan, tim juga berdiskusi dengan para pembudidaya untuk mengumpulkan informasi terkait kejadian tersebut.

Tidak hanya itu, petugas turut mengambil sejumlah sampel air sungai dan ikan yang mati untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium.

• Sebab Ikan Mati Massal di Sungai Mempawah, Hasil Uji Laboratorium Jadi Kunci Jawaban

Hasil pemeriksaan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai faktor yang menyebabkan kematian ikan dalam jumlah besar.

Kepala DPKPP Kabupaten Mempawah, Arifin, mengatakan pemerintah memilih menempuh langkah ilmiah agar penyebab kejadian dapat diketahui secara akurat.

"Tim sudah mengambil sampel air dan ikan untuk diperiksa di laboratorium. Kita tentu harus menunggu hasilnya terlebih dahulu karena proses pengujian memerlukan waktu. Dari sana nanti akan diketahui faktor-faktor yang menyebabkan ikan mati secara massal," ujar Arifin.

Menurutnya, berbagai asumsi yang berkembang di tengah masyarakat saat ini belum bisa dijadikan dasar sebelum hasil pemeriksaan resmi diterbitkan.

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak ingin berspekulasi maupun menyampaikan kesimpulan yang belum didukung data ilmiah.

"Kita ingin mengetahui penyebabnya secara pasti. Karena itu masyarakat diharapkan bersabar menunggu hasil laboratorium sehingga informasi yang disampaikan benar-benar berdasarkan fakta," katanya.

Arifin menambahkan, peristiwa kematian ikan dalam skala besar tersebut menjadi perhatian serius karena tidak hanya berdampak pada para pembudidaya, tetapi juga berkaitan dengan kondisi ekosistem Sungai Mempawah.

"Harapan kami hasil uji laboratorium bisa segera keluar sehingga langkah penanganan maupun upaya pencegahan ke depan dapat dilakukan secara tepat," katanya.

"Yang paling penting adalah menjaga kualitas lingkungan sungai dan melindungi usaha perikanan masyarakat," tutupnya.

Distribusi Air Bersih Tidak Terganggu

Perumdam Tirta Galaherang Mempawah memastikan operasional pengolahan dan distribusi air kepada pelanggan masih berlangsung seperti biasa.

Direktur Perumdam Tirta Galaherang, Muhammad Taufik, mengatakan pihaknya terus mengawasi perkembangan kondisi sungai setelah muncul perubahan warna air yang diduga berkaitan dengan matinya ratusan ribu ikan di sejumlah titik budidaya.

"Kami mengikuti perkembangan yang terjadi di Sungai Mempawah secara intensif. Memang ada perubahan kondisi air yang berdampak pada kematian ikan budidaya, namun sampai saat ini pelayanan air bersih kepada masyarakat masih berjalan normal," ujar Taufik.

Menurutnya, Perumdam tidak bekerja sendiri dalam menyikapi persoalan tersebut.

Koordinasi telah dilakukan bersama instansi terkait untuk menelusuri penyebab perubahan kualitas air yang terjadi di Sungai Mempawah.

"Kami sudah berkoordinasi dengan dinas terkait dan saat ini sampel air juga telah diambil untuk diperiksa di laboratorium. Hasilnya masih kami tunggu agar bisa diketahui secara pasti penyebab kejadian ini," katanya.

• Kematian Massal Ikan di Sungai Mempawah, Perumdam Pastikan Layanan Air Bersih Normal

Ia menjelaskan, hasil pengujian laboratorium nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah dan pihak terkait dalam menentukan langkah penanganan yang diperlukan.

Dengan demikian, potensi dampak terhadap lingkungan maupun pelayanan publik dapat diminimalkan.

Di sisi lain, Taufik mengakui adanya penumpukan bangkai ikan di kawasan Tanjung Berkat sempat menimbulkan aroma tidak sedap.

Kondisi tersebut terjadi karena banyak ikan yang mati mendadak dan dibuang oleh pemilik keramba ke sekitar perairan.

"Memang sempat muncul bau amis akibat banyaknya bangkai ikan yang dibuang. Karena itu kami berharap penyebab utama perubahan kondisi air segera diketahui sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat dan kondisi sungai bisa kembali pulih," tuturnya.

Meski situasi di lapangan masih menjadi perhatian, Perumdam memastikan kualitas layanan kepada pelanggan tetap terjaga.

Hingga saat ini belum ada gangguan pada proses produksi air maupun laporan dari masyarakat terkait kualitas air yang diterima.

"Sampai sekarang belum ada keluhan dari pelanggan mengenai air yang kami distribusikan. Produksi tetap berjalan lancar dan kami terus melakukan pemantauan untuk memastikan pelayanan tetap optimal," tegas Taufik. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.