Crystal Palace telah mengumumkan penunjukan Pierre Sage sebagai manajer tim utama mereka yang baru, setelah pelatih asal Prancis tersebut meninggalkan Lens. Sage menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun di Selhurst Park, menyusul perjalanan karier luar biasa yang membuatnya mampu mengubah nasib dua klub besar Ligue 1 dalam waktu singkat.
Era baru dimulai di Selhurst Park
Pelatih berusia 47 tahun itu datang ke London dengan reputasi sebagai salah satu pelatih paling cemerlang di Eropa, setelah baru saja dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Ligue 1. Sage menandatangani kontrak tiga tahun untuk memimpin The Eagles, dengan proses kepindahannya masih menunggu konfirmasi akhir dari visa kerjanya.
Penunjukan ini menjadi sinyal kuat dari manajemen klub atas ambisi mereka untuk terus berkembang. Ketua klub Steve Parish menyampaikan rasa senangnya karena berhasil merekrut pelatih yang selama setahun terakhir telah mencuri perhatian sepak bola Prancis. “Saya sangat bersemangat menyambut Pierre, yang datang setelah musim luar biasa di Lens, memenangkan trofi dan finis di posisi kedua Ligue 1,” ujar Parish. “Saat kami bersiap menghadapi kompetisi Eropa lainnya setelah keberhasilan kami di Leipzig, saya yakin ia akan memberikan segalanya untuk membawa lebih banyak kesuksesan bagi klub sepak bola yang luar biasa ini.”
Menggantikan sosok pemenang sejati
Sage datang ke Selhurst Park untuk menggantikan Oliver Glasner, pelatih sebelumnya yang meninggalkan klub setelah masa kepemimpinan yang sangat sukses. Fondasi yang ditinggalkan Glasner di Palace sangat kuat dan menjadi modal penting bagi penerusnya.
Reputasi Glasner mencapai puncaknya setelah berhasil mengubah The Eagles menjadi tim yang haus akan gelar. Pelatih asal Austria itu membawa Palace meraih tiga trofi bersejarah: Piala FA, Community Shield, dan UEFA Conference League.
Ambisi tinggi bagi The Eagles
Sage kini mengambil alih tongkat kepemimpinan dari Glasner dan bertekad melanjutkan kesuksesan yang telah dirintis pendahulunya. Dalam pernyataan perdananya setelah resmi ditunjuk, Sage menekankan semangat positif yang sedang berkembang di klub. “Luar biasa bisa berada di Crystal Palace. Saya terinspirasi oleh sejarah klub ini dan prestasi beberapa musim terakhir. Oliver Glasner telah mencapai hal-hal luar biasa, dan sekarang saya harus melakukan hal yang sama. Itulah sebabnya kami datang dengan ambisi besar,” ungkapnya.
Pelatih asal Prancis itu ingin membawa kebiasaan menangnya dari Prancis ke Premier League. “Energi di sini sangat positif, dan kami datang dengan semangat yang sama. Kami menang tahun lalu – dan kami ingin melanjutkannya di klub baru, proyek baru, tetapi dengan kebiasaan menang yang sama,” tambahnya. Pengalaman luas Sage, termasuk saat menangani Lyon-Duchère dan Red Star, telah mempersiapkannya menghadapi tantangan besar di Inggris.
Kenaikan pesat Pierre Sage
Perjalanan karier Sage dalam setahun terakhir sungguh luar biasa. Namanya mulai menonjol saat ditunjuk sebagai pelatih interim Olympique Lyon pada November 2023. Saat itu, Lyon berada di dasar klasemen, namun Sage berhasil membalikkan keadaan secara dramatis. Di bawah arahannya, Les Gones memenangkan 15 dari 20 pertandingan liga berikutnya, mengamankan tiket ke Liga Europa dan mencapai final Coupe de France.
Momentum tersebut berlanjut ketika ia memimpin Lens, di mana ia mempersembahkan trofi Coupe de France pertama dalam sejarah klub serta membawa mereka lolos ke Liga Champions. Di bawah asuhannya, Lens mencatat peningkatan enam posisi dan tambahan 18 poin di klasemen Ligue 1 hanya dalam satu musim, bahkan sempat memimpin klasemen selama enam pekan. Masa kepelatihan Sage di Lens berakhir dengan persentase kemenangan mengesankan sebesar 67,5 persen di semua kompetisi.