SURYA.CO.ID - Terungkap kelakuan S, warga Dusun Pajaran, Desa Peterongan, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa TImur saat menganiaya adik kandungnya hingga tewas pada Jumat (12/6/2026).
S ditangkap jajaran Polres Jombang atas dugaan penganiayaan yang menyebabkan kematian adiknya, Khoiriah alias Puji.
Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Dimas Robin Alexander mengungkapkan penangkapan S dilakukan setelah pihaknya mendalami keterangan saksi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
"Kami sudah mengamankan terduga pelaku, yaitu kakak kandung daripada korban,” kata Dimas, saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin (15/6/2026).
Korban dan kakak kandungnya yang tinggal di kos wilayah Jogoroto itu sebenarnya warga Dusun Pajaran, Desa Peterongan, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang.
Baca juga: Misteri Kematian Perempuan di Kos Jombang, Makam Dibongkar Usai Muncul Dugaan Penganiayaan
Meski telah mengamankan terduga pelaku, penyidik belum bisa mendalami motif di balik aksi kekerasan tersebut.
Kondisi psikologis terduga pelaku yang belum stabil menjadi kendala dalam proses pemeriksaan.
"Untuk saat ini belum maksimal untuk diambil keterangan karena masih kondisi tidak stabil, sehingga kami belum bisa mengambil keterangan banyak dan belum bisa mendalami motif dari terduga pelaku tersebut," ujar dia.
Mengenai penyebab pasti kematian korban, Dimas menyatakan bahwa berdasarkan hasil ekshumasi dan otopsi yang dilaksanakan pada Minggu (14/6/2026) kemarin, dokter forensik menemukan indikasi kuat adanya kematian yang tidak wajar.
“Untuk penyebab kematian, kemarin sudah kami lakukan otopsi. Memang menurut keterangan dokter forensik, kematian disebabkan oleh alasan yang tidak wajar,” katanya.
“Namun untuk saat ini, kami masih menunggu laporan lengkap dari dokter forensik, akan disampaikan kemudian,” ujar Dimas.
Selain mengamankan terduga pelaku, polisi menyita sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian, salah satunya adalah sebuah sapu yang diduga digunakan oleh pelaku untuk menganiaya korban.
Kelakuan S sempat diungkap sejumlah tetangga kos-nya kepada surya.co.id.
N, salah satu tetangga mengaku sempat curiga saat mendapati kondisi jasad Khoiriah yang banyak memar di beberapa bagian tubuh, termasuk di sekitar mata dan pergelangan tangan.
"Saat membantu mengangkat korban, saya melihat ada lebam di sekitar mata dan bagian pergelangan tangan. Kondisinya sudah meninggal dunia," ucap N kepada surya.co.id, Minggu (14/6/2026)
Kecurigaan N beralasan karena beberapa jam sebelum kejadian, korban disebut sempat terlibat pertengkaran dengan kakak kandungnya, S.
Perselisihan itu diduga dipicu persoalan sepele di dalam kos.
N mengaku sempat mendengar keributan dari kamar korban pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.
Ia bahkan dua kali mendatangi kamar tersebut untuk meminta agar pertengkaran dihentikan karena khawatir berujung fatal.
"Saya sempat menegur agar tidak diteruskan. Waktu itu korban masih sadar dan terdengar beberapa kali meminta ampun," ujarnya melanjutkan.
Sementara itu, K, Ketua RT setempat mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari warga sekitar, korban diduga mengalami pemukulan berulang menggunakan beberapa benda yang berada di dalam kamar kos.
Akibatnya, tubuh korban mengalami banyak memar.
"Warga yang mengetahui kejadian menyebut korban dipukul berkali-kali hingga mengalami lebam di berbagai bagian tubuh," katanya melanjutkan.
Selain pemukulan, korban juga diduga mengalami kekerasan dengan cara dibenturkan ke dinding kamar.
Dugaan tersebut muncul dari keterangan sejumlah saksi yang berada di sekitar lokasi saat insiden terjadi.
Beberapa warga disebut sempat mengetahui adanya keributan dari dalam kamar kos. Karena bagian pintu menggunakan material kaca, aktivitas di dalam ruangan dapat terlihat dari luar.
"Ada tetangga yang melihat langsung. Posisi pintunya memang memungkinkan orang di luar melihat ke dalam kamar," ujar K.
Korban diketahui tinggal bersama kakak kandungnya di rumah kos tersebut.
Selama tinggal di lingkungan itu, warga mengaku tidak pernah mendengar adanya konflik besar di antara keduanya.
Namun, korban disebut kerap mendapat teguran karena kondisi disabilitas yang membuatnya membutuhkan perhatian khusus.
Berdasarkan informasi yang beredar di lingkungan sekitar, dugaan kekerasan itu dipicu persoalan sepele. Korban disebut menghabiskan bumbu pecel milik kakaknya sehingga memicu kemarahan.
"Dari cerita yang saya terima, masalahnya berawal dari bumbu pecel yang habis dimakan korban. Setelah itu terjadi pemukulan," ungkapnya.
K bahkan menyebut korban sempat berusaha menyelamatkan diri. Korban diduga mencoba keluar melalui jendela kamar kos, namun gagal karena kembali dibawa masuk ke dalam ruangan.
"Korban sempat mencoba keluar lewat jendela. Tetapi kemudian ditarik masuk lagi," tuturnya.
Beberapa jam setelah kejadian, warga diminta membantu mengevakuasi tubuh korban dari kamar mandi.
Saat itu keluarga menyampaikan bahwa korban hanya pingsan. Namun warga mulai merasa ada kejanggalan setelah melihat kondisi fisik korban.
"Waktu diminta membantu mengangkat, keluarga mengatakan korban hanya tidak sadarkan diri. Tetapi warga melihat ada sejumlah luka pada tubuhnya," kata K.
Ia menambahkan, pihak keluarga sempat membawa jenazah korban untuk dimakamkan tanpa melalui pemeriksaan medis di rumah sakit maupun pelaporan ke aparat kepolisian.
"Saya sempat menyarankan agar korban dibawa ke rumah sakit terlebih dahulu, tetapi keluarga memilih langsung memulangkan jenazah," ujarnya.
Kepolisian membongkar makam (ekshumasi) terhadap jenazah Khoiriah alias Puji, perempuan yang ditemukan meninggal dunia di sebuah rumah kos di Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.
Langkah tersebut dilakukan untuk kepentingan penyelidikan setelah muncul dugaan korban meninggal akibat tindak kekerasan.
Proses ekshumasi dilaksanakan di tempat pemakaman umum Dusun Pajaran, Desa Peterongan, Kabupaten Jombang, Minggu (14/6/2026). Polisi melibatkan tim forensik dari Rumah Sakit Bhayangkara Kediri guna melakukan otopsi dan memastikan penyebab kematian korban.
Kapolsek Peterongan AKP Solihin Budi Santosa mengatakan, pembongkaran makam dilakukan untuk melengkapi alat bukti dalam penyelidikan kasus yang diduga berkaitan dengan penganiayaan.
"Ekshumasi dilakukan terhadap jenazah Khoiriah untuk kepentingan penyidikan. Kami perlu memastikan penyebab kematian korban melalui pemeriksaan forensik," ucapnya kepada Tribunjatim.com di lokasi pemakaman.
Menurut Solihin, tindakan tersebut merupakan bagian dari prosedur hukum karena terdapat indikasi kuat adanya tindak pidana yang berujung pada kematian korban.
"Hasil otopsi nantinya akan menjadi dasar bagi penyidik dalam mengungkap rangkaian peristiwa yang sebenarnya terjadi," katanya melanjutkan.