Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Hamparan sawah seluas 250 hektare di Desa Sri Kuncoro, Kecamatan Pondok Kelapa, yang menjadi areal persawahan terbesar di Kabupaten Bengkulu Tengah, kini menghadapi ancaman serius akibat minimnya pasokan air.
Selama ini, para petani hanya mengandalkan sistem tadah hujan untuk mengairi lahan pertanian mereka. Ketika hujan tak kunjung turun, ribuan bibit padi yang baru ditanam pun terancam mati.
Kondisi itu sempat terjadi dalam dua pekan terakhir. Retakan tanah mulai terlihat di sejumlah petak sawah, sementara tanaman padi muda menunjukkan tanda-tanda kekurangan air.
Beruntung, hujan yang turun dalam dua hari terakhir menjadi penyelamat bagi para petani.
Air hujan yang mengguyur kawasan tersebut membuat bibit padi kembali mendapatkan pasokan air sehingga terhindar dari ancaman gagal tanam.
Meski demikian, para petani menilai hujan bukanlah solusi jangka panjang. Mereka kembali berharap adanya pembangunan sistem irigasi permanen yang dapat mengalirkan air ke areal persawahan Sri Kuncoro.
Kepala Desa Sri Kuncoro, Romadhan mengatakan, pemerintah perlu segera mencari solusi agar lahan pertanian yang menjadi salah satu penopang produksi pangan di Bengkulu Tengah tidak terus bergantung pada cuaca.
"Kalau memang kawasan ini ingin tetap dijadikan sawah, kami berharap aliran sungai dari PLTA Musi bisa diarahkan ke sawah kami," kata Romadhan saat dihubungi TribunBengkulu.com, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, wacana pembangunan infrastruktur pengairan tersebut sebenarnya sudah pernah dibahas sejak beberapa tahun lalu.
Bahkan pada 2017, Pemerintah Provinsi Bengkulu disebut telah membicarakan rencana pembangunan bendungan berikut pembebasan lahan yang akan mendukung sistem irigasi ke kawasan persawahan Sri Kuncoro.
Namun hingga kini, rencana tersebut belum menunjukkan perkembangan yang jelas.
"Dulu sudah ada pembicaraan terkait hal itu. Bahkan sudah sempat akan dilakukan pembebasan lahan dan pembangunan bendungan. Tapi sampai sekarang belum ada kabar lanjutannya," ujarnya.
Romadhan khawatir jika persoalan irigasi tidak segera ditangani, maka ancaman alih fungsi lahan pertanian akan semakin sulit dihindari.
Menurutnya, petani membutuhkan kepastian ketersediaan air agar tetap bisa bertahan mengelola sawah.
Tanpa jaminan air, banyak petani berpotensi meninggalkan sektor pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
"Kalau tidak ada solusi, alih fungsi lahan tidak bisa terhindarkan. Karena kami hanya mengandalkan tadah hujan," ucapnya.
Ia menjelaskan, saat hujan tidak turun hampir dua minggu terakhir, para petani mulai khawatir tanaman yang baru ditanam akan mati.
"Hampir dua minggu kekeringan. Kalau terus dibiarkan bisa mati. Alhamdulillah dua hari ini hujan turun sehingga bibit yang baru ditanam bisa diselamatkan," katanya.
Desa Sri Kuncoro sendiri dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Bengkulu Tengah. Dengan luas sawah mencapai sekitar 250 hektare, kawasan ini menjadi areal persawahan terbesar di kabupaten tersebut.
Karena itu, keberadaan jaringan irigasi dinilai bukan hanya penting bagi petani Sri Kuncoro, tetapi juga berpengaruh terhadap upaya menjaga ketahanan pangan daerah.
Kini, di tengah rasa syukur atas turunnya hujan yang menyelamatkan tanaman padi, para petani masih menyimpan harapan yang sama, hadirnya sistem irigasi permanen agar nasib pertanian mereka tidak lagi ditentukan oleh datang atau tidaknya hujan.