Kebiadaban Israel! Pipa Air Bersih di Desa Palestina Dihancurkan, Satu Kampung Tak Bisa Minum
Candra Isriadhi June 16, 2026 02:54 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Situasi di Tepi Barat, Palestina, kembali memanas setelah pendudukan Israel dilaporkan menghancurkan satu-satunya saluran pipa air bersih yang melayani sebuah desa Palestina, Senin (15/6/2026).

Insiden tersebut terjadi di Desa Umm Safa, wilayah yang berada di barat laut Ramallah.

Penghancuran pipa air dilaporkan berlangsung di tengah pengerjaan proyek perluasan permukiman ilegal Israel di kawasan tersebut.

NEGARA PALESTINA - Ilustrasi bendera Palestina yang diambil dari Pexels pada 11 April 2025. Inilah daftar 156 negara, ditambah Vatikan, yang mengakui negara Palestina, terbaru ada Prancis dan Inggris.
NEGARA PALESTINA - Ilustrasi bendera Palestina yang diambil dari Pexels pada 11 April 2025. Inilah daftar 156 negara, ditambah Vatikan, yang mengakui negara Palestina, terbaru ada Prancis dan Inggris. (Pexels)

Akibat peristiwa itu, warga Palestina di Desa Umm Safa kini kehilangan akses terhadap pasokan air bersih yang selama ini menjadi kebutuhan utama mereka.

Dilansir dari Anadolu Agency, sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa pihak pendudukan mengerahkan buldoser untuk meratakan lahan milik warga Palestina di desa tersebut.

Tak hanya melakukan perataan tanah, alat berat yang digunakan juga dilaporkan menghancurkan saluran pipa yang menjadi satu-satunya jalur distribusi air bersih bagi masyarakat setempat.

Penghancuran infrastruktur vital tersebut memicu kekhawatiran akan semakin sulitnya kehidupan warga Palestina di tengah meningkatnya aktivitas permukiman Israel di Tepi Barat.

Baca juga: Sosok Mujazin Investor Dapur MBG yang Marah-marah di Kantor BGN, Mengaku Kena Tipu Rp 218 M

Di sisi lain, perkembangan lain juga mencuat dari Israel pada hari yang sama.

Harian Israel, Yedioth Ahronoth, melaporkan bahwa pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berencana mengalokasikan anggaran negara sebesar 5,5 juta shekel atau sekitar Rp 33 miliar.

Dana tersebut disebut akan disalurkan kepada Hilltop Youth, kelompok pemukim ekstremis yang anggotanya sebagian besar tinggal di pos-pos permukiman ilegal yang tersebar di berbagai wilayah Tepi Barat.

Kelompok ini kerap menjadi sorotan karena dituduh terlibat dalam berbagai aksi kekerasan dan serangan terhadap warga Palestina.

Selain itu, Hilltop Youth juga dikenal sebagai kelompok yang dianggap memiliki keterkaitan ideologis dengan gerakan ekstremis "Price Tag", yang selama bertahun-tahun dikaitkan dengan aksi-aksi balasan terhadap warga Palestina maupun properti mereka.

Laporan mengenai penghancuran saluran air dan rencana dukungan pendanaan terhadap kelompok pemukim tersebut menambah daftar panjang ketegangan yang masih berlangsung di wilayah Tepi Barat hingga saat ini.

Eskalasi serangan di Tepi Barat

Pemukim ilegal Yahudi di pemukiman warga Palestina di Tepi Barat, David Chai Chasdai, dituduh memimpin kerusuhan di kota Huwara yang menjadi titik konflik, di mana rumah-rumah warga Palestina dibakar.
Pemukim ilegal Yahudi di pemukiman warga Palestina di Tepi Barat, David Chai Chasdai, dituduh memimpin kerusuhan di kota Huwara yang menjadi titik konflik, di mana rumah-rumah warga Palestina dibakar. (HO)

Desa Umm Safa sendiri belakangan ini terus menghadapi lonjakan serangan dari para pemukim Israel yang beroperasi dari permukiman dan pos-pos ilegal di sekitarnya. 

Situasi ini kian menyulitkan warga Palestina untuk mengakses lahan pertanian mereka sendiri.

Secara lebih luas, Tepi Barat yang diduduki memang tengah mengalami gelombang serangan yang masif oleh kelompok pemukim dan tentara Israel.

Serangan-serangan tersebut menyasar lahan pertanian Palestina dalam bentuk pembakaran lahan, penggusuran menggunakan buldoser dan pembatasan ketat bagi para petani untuk mengakses properti mereka.

Berdasarkan data resmi dari otoritas Palestina, sejak 8 Oktober 2023, tindakan tentara dan pemukim Israel telah menewaskan sedikitnya 1.169 warga Palestina dan melukai 12.666 orang lainnya. 

Selain itu, sekitar 23.000 warga telah ditangkap dan 33.000 orang terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.

(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com/Danur Lambang Pristiandaru)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.