TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang mengukuhkan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI, M. Fanshurullah Asa sebagai Guru Besar Kehormatan Fakultas Teknik dalam bidang Manajemen Konstruksi.
Pengukuhan tersebut menjadi bentuk penghargaan atas kontribusi dan pemikiran Fanshurullah Asa dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang manajemen konstruksi.
M Fanshurullah Asa selama tiga dekade terakhir terlibat dalam berbagai kebijakan strategis nasional di bidang energi, migas, ekonomi, konstruksi, dan dunia usaha. Selain itu, dia juga aktif sebagai akademisi.
Rektor Unissula Prof H Gunarto menyebut pengangkatan guru besar kehormatan mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 38 Tahun 2023 tentang Penetapan Guru Besar.
Gelar itu diberikan kepada tokoh yang memiliki prestasi luar biasa bagi bangsa dan negara atau menghasilkan gagasan baru yang bermanfaat bagi kepentingan Republik Indonesia.
“Di bawah kepemimpinan Prof. Fanshurullah Asa, KPPU hadir sebagai pengawas persaingan usaha yang adil. Beliau berjasa memastikan sektor energi, pangan, dan ekonomi digital tumbuh dalam iklim persaingan yang sehat,” ujar Gunarto dalam rilisnya kepada tribunjateng.com, Selasa (16/6/2026).
Selain itu, ia menilai Prof. Fanshurullah Asa konsisten mengawal kemitraan antara pelaku usaha besar dan UMKM agar berlangsung secara berkeadilan. Pengalaman internasional yang diperoleh melalui berbagai forum dan pendidikan di lebih dari 24 negara juga dinilai memperkaya perspektifnya dalam pembangunan nasional.
Baca juga: Detik-detik Tabrakan Horor Truk vs Motor, Seorang Ibu Tewas
Pengukuhan yang berlangsung Senin kemarin itu juga turut menghadirkan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto. Dalam kesempatan itu dia menegaskan bahwa seorang guru besar harus menjadi penjaga moral dan teladan integritas bagi masyarakat.
“Kalau akademisi boleh salah, tapi tidak boleh bohong. Mungkin teorinya salah atau tidak relevan, mungkin prediksinya tidak akurat. Tetapi ketika akademisi berbohong, maka ia kehilangan legitimasi akademiknya karena publik mengharapkan adanya otoritas moral di sana,” ujar Bima Arya.
Sementara dalam orasi ilmiahnya, Prof. Fanshurullah Asa memperkenalkan konsep “Konstanta Asa”, sebuah model yang dikembangkannya dari penelitian sejak menempuh program doktoral.
Ia menjelaskan bahwa teori tersebut merupakan pengembangan model ekonomi Cobb-Douglas dengan memasukkan unsur sistem manajemen terintegrasi berbasis Project Management Body of Knowledge (PMBOK), ISO 21500, serta berbagai instrumen manajemen modern lainnya.
“Melalui perhitungan Konstanta Asa, pertumbuhan ekonomi sektor konstruksi berpotensi meningkat hingga tiga kali lipat,” kata Fanshurullah Asa.
Ia menilai penerapan manajemen konstruksi yang baik tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mampu mencegah praktik persekongkolan, pengaturan harga, dan kartel dalam proses pengadaan maupun lelang proyek konstruksi.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendorong percepatan pembentukan Dewan Insinyur Indonesia (DII) sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran.
“Pembentukan Dewan Insinyur Indonesia merupakan amanat undang-undang yang harus segera diwujudkan,” tegasnya.
Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Prof. Agus Taufik Mulyono menilai gagasan yang disampaikan Prof. Fanshurullah Asa menghadirkan perspektif baru dalam pengembangan ilmu teknik sipil.
Menurutnya, teknik sipil saat ini tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai ilmu keteknikan, tetapi harus terintegrasi dengan aspek manajemen, ekonomi, hukum, energi, dan teknologi.
“Pemikiran Prof. Fanshurullah Asa membuka perspektif baru bahwa pengembangan ilmu teknik sipil tidak dapat dipisahkan dari jaringan ilmu pengetahuan lain,” ujarnya.
Agus menambahkan, profesionalisme tenaga ahli konstruksi ke depan perlu diperkuat melalui pemenuhan standar praktik keinsinyuran, termasuk kepemilikan Sertifikat Kompetensi Insinyur dan Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI).