TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto, kini menjadi sorotan.
Terbaru dirinya mengunggah konten terkait alat pelacak yang ditemukan di kendaraanya.
Tiyo memperlihatkan sebuah alat pelacak tertempel di bawah mobil.
Alat pelacak itu ditemukan Tiyo usai mengikuti aksi di Gejayan, Yogyakarta.
Tiyo mengetahui adanya alat pelacak usai sebuah notifikasi masuk ke smartphone miliknya.
Berawal dari video itu, sejumlah pihak justru menyoroti kendaraan yang digunakan Tiyo.
Nampak Tiyo mengendarai mobil Toyota Fortuner.
Baca juga: MBG Disebut Jadi Modal Konsolidasi Politik 2029, Tiyo: Bahaya Bagi Demokrasi
Beberapa pihak kemudian mempertanyakan kepemilikan mobil tersebut.
Kepemilikan Fortuner oleh seorang mahasiswa dinilai tak lazim.
Tiyo akhirnya mengklarifikasi dengan menyebut kendaraan Fortuner ini merupakan milik keluarganya.
Tiyo menggunakan mobil tersebut sebab trauma dengan kejadian yang dialami aktivis Andre Yunus.
Andre Yunus beberapa Waktu lalu mendapat serangan siraman air keras saat mengendarai motor di jalan.
"Disebut kok mahasiswa udah naik mobil mewah? Karena kebetulan itu memang fortuner. Itu adalah mobil yang dipinjamkan kepada saya sejak saya mengalami berbagai teror, terutama sejak Andre Yunus disiram air keras. Mobil itu oleh saudara saya," kata Tiyo di Etika Studio, Kota Makassar pada Senin (15/6/2026) malam.
Tiyo mengaku khawatir dengan serangan pihak tidak dikenal kepada para aktivis.
Kasus Andre Yunus membuatnya harus lebih menjaga diri.
Mengingat dirinya dalam beberapa bulan belakangan aktif bersuara menyoroti program pemerintah.
"Siapa yang tidak khawatir mas Andre Yunus yang seperti itu saja disiram air keras? Apalagi kita yang berbulan-bulan teriak maling berkedok gizi, berbulan-bulan teriak presiden inkompeten, presiden yang tidak menghargai pengetahuan," jelas Tiyo yang mengenakan kemeja berwarna dark grey.
Tiyo mengaku sorotannya memang tidak sekeras Andre Yunus, tapi dirinya kerap mendapat teror.
Terkait mobil Toyota Fortuner, Tiyo menyebut jika ada mobil lain ia memilih itu.
Namun hanya ada Toyota Fortuner yang dimiliki.
"Saya tidak ngomong bahwa saya lebih keras dari mas Andre Yunus, tidak. Tapi bahwa potensi itu terjadi kembali pada saya itu ada," ujarnya.
Sehingga sangat masuk akal ketika ada saudara yang bersimpati berpihak untuk pinjamkan kendaraannya.
"Dan karena memang adanya cuma itu. Kalau saya berkepentingan untuk pinjam sendiri, saya pasti akan pinjam yang lain," Kata Tiyo sembari tertawa.
"Bagi saya mudah sekali untuk pinjam kendaraan, entah ke dosen UGM, ke jaringan yang mungkin bersimpati pada kita, tapi memang enggak, karena kita tidak punya kepentingan soal itu," jelasnya.
Tiyo melihat ada arus informasi yang dengan sengaja mengarahkan isu terhadap kepemilikan mobil tersebut.
Menurutnya ini menjadi dampak dari digitalisasi yang sulit terbendung, apalagi di media sosial
"Itu yang jadi arus yang digerakkan oleh entah kekuatan apa di media sosial. Nah ini cara-cara kerja yang lebih mutahir daripada sekadar penculikan yaitu pembunuhan karakter," ujar Tiyo.
Dalam diskusi ini, Tiyo banyak membahas tentang kepemimpinan dan program Presiden Prabowo Subianto.
Mulai dari masalah program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih hingga kepemimpinan Prabowo Subianto yang ia pertanyakan.
Sementara itu, Direktur Institute Profetik, Asratillah adanya pola tata kelola ekonomi yang membuat distribusi manfaat sumber daya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
"Tapi beberapa pakar ekonomi politik mengatakan Indonesia punya tata Kelola sumber daya unik, bersifat patronasi," lanjutnya.
Pandangan tersebut merujuk pada kritik ekonomi politik yang menyebut pengelolaan sumber daya di Indonesia kerap terjebak dalam relasi patronase.
Dalam sistem ini, keuntungan ekonomi yang semestinya mengalir kepada publik melalui kebijakan negara justru berpotensi terkonsentrasi pada kelompok-kelompok tertentu.
Tentunya kelompok yang dekat dengan kekuasaan.
Akibatnya, keberadaan sumber daya alam yang melimpah tidak selalu menghasilkan efek ganda bagi masyarakat luas.
Pertumbuhan ekonomi memang tercipta, namun distribusi manfaatnya dinilai tidak merata.
"Indoensia antara tata Kelola di drive negara tapi tidak menciptakan critical effect down ke sasaran. Di Indonesia tidak semua daerah miliki sumber daya mineral. Ada yang kaya sumber daya mineral, ada tidak memiliki sama sekali. Pajak sumber daya mineral dikumpul pemerintah pusat lalu di redistribusi merata berdasarkan kebutuhan tiap daerah, apakah memiliki cadangan atau tidak," ujar Asratillah disambut tepuk tangan.
Secara teoritis mekanisme tersebut dirancang untuk menciptakan keadilan fiskal antarwilayah.
Daerah yang tidak memiliki sumber daya tetap dapat menikmati manfaat dari penerimaan negara yang berasal dari sektor ekstraktif.
Namun dalam praktiknya, ia menilai proses redistribusi tersebut tidak selalu mencapai kelompok masyarakat yang menjadi sasaran utama kebijakan.
Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz