Guru Besar ITS Manfaatkan Limbah Aluminium Menjadi Sumber Energi Hidrogen
Titis Jati Permata June 16, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan tantangan pengelolaan limbah industri, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Jawa Timur, Prof Dr-Ing Doty Dewi Risanti ST MT, menghadirkan terobosan yang mengubah cara pandang terhadap limbah aluminium.

Dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai Guru Besar ke-237 ITS, Prof Doty memperkenalkan hasil penelitiannya yang memanfaatkan limbah aluminium untuk menghasilkan gas hidrogen sebagai sumber listrik ramah lingkungan.

Inovasi tersebut menawarkan solusi ganda, yakni mengurangi limbah sekaligus menyediakan energi berkelanjutan.

Dampak Ekologis

Menurut dosen Departemen Teknik Fisika ITS ini, penggunaan sumber energi konvensional selama ini tidak hanya bergantung pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga menimbulkan dampak ekologis yang besar. 

Sementara itu, proses daur ulang logam yang dilakukan saat ini belum sepenuhnya optimal karena sering kali menurunkan kualitas material.

“Banyak material yang sebenarnya masih memiliki nilai tinggi, tetapi tidak dimanfaatkan secara maksimal dalam proses daur ulang konvensional,” ujarnya kepada SURYA.co.id, Selasa (16/6/2026).

Baca juga: ITS Surabaya Gelar Forum COMSATS 2026, Fokus AI dan Mobil Listrik

Berangkat dari persoalan tersebut, tim peneliti mengembangkan pendekatan fisika-metalurgi untuk mengolah limbah aluminium menjadi hidrogen.

Gas hidrogen yang dihasilkan kemudian dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik yang lebih bersih dan efisien.

Aluminium dipilih karena memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari ketersediaannya yang melimpah, kemampuan didaur ulang secara berulang, hingga kerapatan energi yang tinggi. 

Melalui pendekatan ekonomi sirkular, material yang sebelumnya dianggap limbah dapat kembali memiliki nilai guna yang lebih besar.

Proses Penelitian

Dalam penelitiannya, Lulusan doktor RWTH Aachen University, Jerman, ini memanfaatkan reaksi antara aluminium dan air untuk menghasilkan hidrogen. 

Namun proses tersebut tidak sederhana karena aluminium memiliki lapisan oksida alami yang berfungsi melindungi permukaannya sehingga menghambat pelepasan energi.

"Berbagai metode sebelumnya telah digunakan untuk mengatasi hambatan tersebut, mulai dari penggunaan katalis, perlakuan mekanis, hingga modifikasi kimiawi. Namun, metode yang ada dinilai belum mampu menghasilkan efisiensi produksi hidrogen secara optimal dan stabil,"ungkapnya.

Karena itu, tim peneliti ITS mengembangkan rekayasa proses yang mencakup pemodelan termodinamika, modifikasi permukaan aluminium, serta pengendalian reaksi secara lebih terukur. 

Salah satu inovasi yang diterapkan adalah penggunaan co-solvent yang berfungsi sebagai pengatur suhu alami saat reaksi berlangsung.

Langkah tersebut mampu menekan lonjakan temperatur yang muncul akibat pelepasan panas selama proses produksi hidrogen sehingga aliran hidrogen dapat tetap stabil.

Kolaborasi Internasional dan Lintas Sektor

Penelitian ini juga melibatkan kolaborasi internasional dan lintas sektor.

Sejumlah mitra yang terlibat antara lain University of Exeter Inggris, Universitas Kristen Petra Surabaya, perusahaan pengolahan limbah logam Aeramine Ltd, Gringgo Indonesia, serta PLN Nusa Power.

"Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam upaya mengembangkan teknologi dari skala laboratorium menuju implementasi yang lebih luas di sektor industri dan energi,"tegasnya.

Bagi Indonesia, inovasi ini membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah limbah logam sekaligus memperkuat transisi menuju energi hijau. 

"Melalui pemanfaatan limbah aluminium sebagai sumber hidrogen, konsep daur ulang tidak lagi sekadar mengurangi sampah, tetapi juga menjadi bagian dari rantai penyediaan energi masa depan," paparnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.