TRIBUNTRENDS.COM - Tradisi sakral Malam 1 Suro di Keraton Solo kembali menjadi sorotan publik. Di tengah persiapan menyambut pergantian tahun dalam kalender Jawa, muncul perbedaan informasi terkait pelaksanaan Kirab Pusaka yang selama ini menjadi bagian penting dari ritual budaya tersebut.
Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau yang akrab disapa Gusti Moeng, mengungkapkan bahwa salah satu kubu di internal Keraton Solo, yakni kubu PB XIV Purbaya, disebut tetap akan melaksanakan kirab.
Namun, menurut informasi yang diterimanya, kirab tersebut tidak akan disertai dengan keluarnya pusaka dari ruang penyimpanan Keraton.
Pernyataan itu disampaikan Gusti Moeng usai menghadiri pertemuan antara pihak Keraton Solo dan Pemerintah Kota Solo pada Senin (15/6/2026).
Baca juga: Jadwal dan Rute Kirab Malam Selikuran Keraton Surakarta 2026, Simbol Keberkahan di Bulan Ramadan
Gusti Moeng mengaku tidak mengikuti seluruh rangkaian pertemuan yang membahas teknis pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro. Meski demikian, ia memperoleh informasi mengenai rencana pelaksanaan kirab dari pihak-pihak yang mengikuti rapat tersebut.
“Saya enggak ikut yang tadi (pertemuan awal). Pemahaman saya mereka akan kirab tetapi tidak mengeluarkan pusaka,” ujar Gusti Moeng kepada awak media, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, informasi yang diterima menunjukkan bahwa kirab dari kubu PB XIV Purbaya tetap berjalan sebagaimana tradisi tahunan, namun tanpa melibatkan pusaka yang tersimpan di kamar pusaka Keraton.
Di sisi lain, Gusti Moeng menegaskan bahwa pihak Lembaga Dewan Adat telah mempersiapkan pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro dengan membawa pusaka-pusaka Keraton sebagaimana tradisi yang selama ini dijalankan.
Ia menyebut Keraton Solo memiliki banyak pusaka yang dapat diikutsertakan dalam kirab. Bahkan, pusaka yang akan dibawa pada tahun ini disebut telah beberapa kali mengikuti prosesi serupa pada tahun-tahun sebelumnya.
“Sementara saya sampaikan tadi dari Keraton, saya sebagai Ketua Lembaga Dewan Adat, Pengageng Sasana Wilapa, dengan Panembahan sudah siap melaksanakan.
Pusaka Keraton kan banyak. Dan pusaka yang akan kami kirab sudah empat kali ikut juga,” ungkap Gusti Moeng.
Menurutnya, sedikitnya terdapat 14 pusaka Keraton Solo yang telah disiapkan untuk mengikuti kirab yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 00.00 WIB.
Baca juga: Tagihan Listrik Keraton Solo Capai Rp19 Juta, Pemkot Tangguhkan Pembayaran: Anggaran Kami Kurang
Saat ditanya mengenai kemungkinan penyatuan atau penggabungan kirab antara kubu PB XIV Mangkubumi dan PB XIV Purbaya, Gusti Moeng mengaku belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai teknis pelaksanaannya.
Ia menegaskan bahwa informasi yang diterimanya sejauh ini hanya menyebutkan bahwa kubu PB XIV Purbaya akan tetap mengadakan kirab tanpa mengeluarkan pusaka dari ruang penyimpanan.
“Saya enggak tahu, enggak begitu jelas. Hanya tadi pemahaman dari Pak Sekda dan yang ikut seperti Gusti Panembahan, menyampaikan kalau dia (Sasana Putra) akan melakukan kirab. Tetapi tidak mengeluarkan pusaka dari kamar pusaka,” katanya.
Sementara itu, Pelaksana Pelestarian, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Solo, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, mengaku tidak mengetahui informasi mengenai rencana kubu PB XIV Purbaya yang disebut tidak akan mengeluarkan pusaka.
Ketika dimintai tanggapan, Tedjowulan memilih tidak memberikan komentar lebih jauh terkait persoalan tersebut.
“Wah enggak tahu saya. Tanya sana,” ujar Tedjowulan.
Baca juga: Tedjowulan Ajukan Permohonan Audit Dana Hibah Keraton Solo, Jubir PB XIV Purboyo: Hibah Fisik Juga
Meski terdapat perbedaan pandangan mengenai pusaka yang akan dikirab, Tedjowulan memastikan bahwa kedua kubu di lingkungan Keraton Solo tetap akan menyelenggarakan prosesi Kirab Malam 1 Suro.
Menurutnya, tradisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi bagian penting dari warisan budaya Keraton yang terus dijaga.
“Jamnya jam 9 (malam) ya. Ya beriringan. Sudah berjalan bertahun-tahun. Iya menjadi satu (pelaksana),” ujar Tedjowulan.
Ia juga memastikan akan hadir secara langsung untuk mendampingi pelaksanaan kirab yang melibatkan kedua kubu tersebut.
“Hadir noh. Hadir saya. Akan mendampingi (dua kubu di Keraton Solo). Yang penting aman, tertib, guyub rukun,” kata dia.
Terlepas dari polemik mengenai pusaka yang akan dibawa dalam prosesi, Kirab Malam 1 Suro tetap menjadi salah satu tradisi budaya paling penting di Kota Solo.
Ribuan masyarakat biasanya memadati kawasan Keraton untuk menyaksikan ritual yang sarat makna spiritual, sejarah, dan filosofi Jawa tersebut.
Di tengah dinamika internal Keraton yang masih menjadi perhatian publik, harapan besar tetap mengemuka agar pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro tahun ini berlangsung aman, tertib, dan penuh semangat guyub rukun, sebagaimana nilai-nilai yang selama ini diwariskan dalam tradisi Keraton Surakarta.
***
(TribunTrends/Kompas)