Sejarah Sedekah Bumi di Desa Bogor Baru Kepahiang yang Bertahan Lebih dari Seabad
Ricky Jenihansen June 16, 2026 04:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Tradisi Sedekah Bumi di Desa Bogor Baru, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, menjadi salah satu warisan budaya yang terus dijaga masyarakat hingga Selasa (16/6/2026).

Tradisi yang telah berlangsung sejak tahun 1908 tersebut tetap digelar setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat dan rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Kegiatan yang telah berusia lebih dari satu abad itu merupakan tradisi yang diwariskan oleh para leluhur masyarakat Desa Bogor Baru yang berasal dari wilayah Bogor, Jawa Barat.

Tradisi Dilaksanakan Sejak 1908

Pemilik Paguyuban Seni Sunda Mustika Jaya, Iin Ratnasari (53), mengatakan tradisi Sedekah Bumi selalu dilaksanakan secara rutin dari generasi ke generasi meski terdapat beberapa perubahan dalam rangkaian acaranya.

"Alhamdulillah setiap tahun dari sebelum saya lahir, dari nenek moyang dulu dilaksanakan terus rutin. Hanya ada beberapa rangkaian yang berubah sejak dahulu," ucap Iin.

Ia menjelaskan, pada masa lalu kegiatan Sedekah Bumi dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharam.

Namun, seiring perkembangan waktu, pelaksanaannya kini dipusatkan setiap 1 Muharam atau Tahun Baru Islam.

"Setiap tahun dahulu dalam 10 Muharam, sekarang sudah digelar setiap 1 Muharam," kata Iin.

Menurut Iin, suasana Sedekah Bumi pada masa lampau juga terasa lebih sakral.

Selain ritual adat dan doa bersama, masyarakat biasanya menggelar hiburan rakyat yang kental dengan nuansa budaya Sunda, seperti pertunjukan tari jaipongan dan wayang golek.

"Dahulu sangat sakral dengan sedekah bumi, siang dan malamnya hiburan menggunakan kesenian Sunda seperti tari jaipongan dan wayang golek, karena kita asli transmigrasi dari Bogor, Jawa Barat. Kalau sekarang sudah digabung dengan adat Kutai Rejang," ungkap Iin.

Perpaduan Budaya Sunda dan Rejang

Perpaduan budaya Sunda yang dibawa para transmigran dengan budaya lokal Rejang, lanjut Iin, menjadi warna tersendiri dalam pelaksanaan Sedekah Bumi saat ini.

Meski mengalami penyesuaian, nilai-nilai utama yang terkandung dalam tradisi tersebut tetap dipertahankan.

Ia menuturkan, Sedekah Bumi bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan wujud rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian, kesehatan, serta berbagai rezeki yang diterima sepanjang tahun.

"Makna dari kegiatan ini adalah bentuk rasa syukur kita terhadap Tuhan atas nikmat dan rezekinya," jelas Iin.

Karena memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, Iin berharap tradisi Sedekah Bumi di Desa Bogor Baru dapat terus dilestarikan oleh generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.

"Harapan kita kegiatan ini terus berlanjut, berjalan dan jangan sampai hilang," pungkas Iin.

Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.