TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Gubernur Jambi, Al Haris, menghadiri Puncak Peringatan Hari Adat Melayu Jambi Tahun 2026 yang diselenggarakan di Balairung Sari, Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi, Selasa (16/6/2026).
Kegiatan tersebut dilaksanakan bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah dan menjadi puncak rangkaian Pekan Adat Melayu Jambi Tahun 2026.
Turut hadir Ketua Umum Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi Hasan Basri Agus (HBA), unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pengurus LAM Provinsi Jambi, para bupati dan wali kota atau yang mewakili, ketua LAM kabupaten/kota se-Provinsi Jambi, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur masyarakat lainnya.
Dalam sambutannya, Al Haris menegaskan bahwa Hari Adat Melayu Jambi merupakan momentum penting untuk memperkuat identitas, jati diri, serta nilai-nilai budaya yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Jambi.
Menurutnya, adat memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat sekaligus menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman. Karena itu, keberadaan lembaga adat harus terus diperkuat dan didukung agar mampu berjalan beriringan dengan pemerintah dan ulama dalam membangun daerah.
“Kalau pemerintah, lembaga adat, dan ulama berjalan bersama, maka kuatlah kita membangun negeri ini,” ujar Al Haris.
Ia menyampaikan bahwa kemajuan pembangunan daerah harus tetap berpijak pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Modernisasi dan perkembangan teknologi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar budaya serta identitas kemelayuannya.
Untuk itu, Al Haris mengajak seluruh pemangku adat, tokoh masyarakat, dan generasi muda untuk terus menjaga, melestarikan, serta mengembangkan adat Melayu Jambi sebagai warisan yang sangat berharga bagi daerah.
Pada kesempatan tersebut, Al Haris juga mengemukakan pentingnya penyusunan Kamus Bahasa Daerah Melayu Jambi sebagai upaya pelestarian bahasa daerah yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Melayu Jambi.
Menurutnya, bahasa daerah merupakan kekayaan budaya yang harus dijaga keberlangsungannya agar tetap hidup dan digunakan oleh generasi mendatang.
Selain itu, Al Haris turut menyoroti pentingnya menjaga situs-situs sejarah yang memiliki nilai budaya dan adat, salah satunya Bukit Siguntang.
Ia berharap kawasan tersebut dapat dilengkapi dengan tugu atau prasasti sebagai penanda sejarah yang memperkuat eksistensi dan perjalanan adat Melayu Jambi.
“Nilai sejarah yang dimiliki Bukit Siguntang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah adat Melayu Jambi. Karena itu perlu dijaga dan diperkenalkan kepada masyarakat luas,” katanya.
Al Haris juga memberikan perhatian terhadap penggunaan bahasa adat dalam berbagai prosesi adat, termasuk pada acara pernikahan. Ia berharap bahasa yang digunakan dalam kegiatan adat dapat semakin diperhalus dan disampaikan dengan lebih santun, indah, serta mencerminkan kemuliaan nilai-nilai adat Melayu Jambi.
“Adat ini mulia. Maka bahasa yang digunakan juga harus baik dan halus,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum LAM Provinsi Jambi, Hasan Basri Agus, mengatakan Hari Adat Melayu Jambi bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan adat serta budaya Melayu Jambi.
Menurut Hasan Basri Agus, adat Melayu Jambi tidak hanya diwujudkan dalam bentuk pakaian adat, gelar kebesaran, maupun berbagai upacara adat, tetapi juga merupakan sistem nilai yang mengajarkan sopan santun, kejujuran, musyawarah, penghormatan kepada orang tua, serta ketaatan kepada ajaran agama.
Ia menjelaskan tema Hari Adat Melayu Jambi Tahun 2026, yakni “Hijrah Adat, Kembali ke Jati Diri dan Teguh Menjaga Marwah”, sangat relevan dengan kondisi saat ini karena mengajak seluruh masyarakat untuk kembali memperkuat identitas budaya dan menjaga kehormatan negeri Melayu.
“Melalui tema ini, kita ingin mengajak seluruh masyarakat Jambi untuk terus mencintai adat, menjaga marwah daerah, serta menjadikan nilai-nilai adat sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Hasan Basri Agus juga menyampaikan bahwa pelaksanaan Hari Adat Melayu Jambi tahun ini dilaksanakan secara sederhana, namun tetap sarat makna dan nilai budaya.
“Adat tidak dilihat dari megahnya tempat, tetapi dari niat, kebersamaan, dan ketulusan dalam menjaganya,” katanya.
Sebelumnya, Ketua Panitia Pelaksana, Idham Kholik, menyampaikan bahwa peringatan Hari Adat Melayu Jambi merupakan implementasi Keputusan Gubernur Jambi Nomor 538/KEP/GUB/DISBUDPAR-2.3/2023 tentang Perubahan atas Keputusan Gubernur Jambi Nomor 312/KEP.GUB/DISBUDPAR-2.3/2022 tentang Penetapan Hari Adat Melayu Jambi Provinsi Jambi, yang menetapkan tanggal 1 Muharram sebagai Hari Adat Melayu Provinsi Jambi.
Ia menjelaskan seluruh rangkaian kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun dikemas dalam Pekan Adat Melayu Jambi. Pada tahun 2026, kegiatan dimulai sejak 9 Juni dan mencapai puncaknya pada 16 Juni 2026.
Idham Kholik menambahkan, tema Hari Adat Melayu Jambi Tahun 2026 diangkat untuk menginspirasi seluruh pengurus adat dan masyarakat agar terus menjadikan nilai-nilai adat Melayu Jambi sebagai pedoman hidup sebagaimana termaktub dalam seloko adat Melayu Jambi, yakni “Adat Bersendikan Syara', Syara' Bersendikan Kitabullah, Syara' Mengatur Adat Memakai”.
Selain kegiatan puncak, berbagai agenda telah dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Hari Adat Melayu Jambi Tahun 2026, di antaranya ziarah ke makam Datuk Raden Mattaher bersama LAM Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan ziarah ke Makam Nasional Sultan Thaha Syaifuddin bersama LAM Kabupaten Tebo.
Berbagai perlombaan juga digelar sejak pertengahan Mei hingga 15 Juni 2026, meliputi penilaian aspirasi kinerja LAM kabupaten/kota se-Provinsi Jambi, penilaian kelompok belajar adat, serta lomba menyanyikan lagu-lagu Melayu Jambi antar-SLTA se-Provinsi Jambi yang dilaksanakan secara daring hingga semifinal dan dilanjutkan final secara langsung.
Tidak hanya itu, berbagai kegiatan sosial turut dilaksanakan, seperti pembagian 1.000 paket sembako, donor darah, pelayanan pengobatan gratis, serta berbagai kegiatan keagamaan.
Melalui peringatan Hari Adat Melayu Jambi Tahun 2026, diharapkan nilai-nilai adat dan budaya Melayu Jambi semakin kokoh dalam kehidupan masyarakat, menjadi perekat persatuan, memperkuat moral generasi muda, serta mendukung pembangunan daerah yang berlandaskan budaya dan kearifan lokal.
Pemerintah Provinsi Jambi bersama LAM Provinsi Jambi berkomitmen untuk terus bersinergi dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan adat Melayu Jambi agar tetap hidup, berkembang, serta menjadi identitas yang membanggakan bagi masyarakat Jambi di tengah arus globalisasi dan perkembangan zaman.
(*)
Baca juga: Anggaran Belanja Pegawai Melebihi 30 Persen, Pemprov Jambi Usulkan Relaksasi di 2027