Palu (ANTARA) - Basarnas dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiapkan tenda darurat di kawasan Rumah Sakit (RS) Undata Palu, Sulawesi Tengah setelah gempa magnitudo 6,7 mengguncang Kota Palu dan sekitarnya.
"Langkah ini dilakukan guna mengantisipasi kondisi mendesak, sekaligus langkah mitigasi oleh pemerintah," kata Kepala Kantor SAR Pencarian dan Pertolongan (Kansar) Palu atau Basarnas Muh Rizal di Palu, Selasa.
Ia mengemukakan dari hasil pemantauan lapangan dilakukan pihaknya dan BPBD setempat, terjadi kerusakan pada bagian plafon bangunan auditorium Universitas Tadulako Palu dampak dari guncangan.
Dari koordinasi dengan para pihak, dilaporkan sejauh ini tidak terdapat kerusakan material yang signifikan di Kota Palu dan kondisi masyarakat dalam keadaan aman.
"Belum ada laporan korban jiwa dari peristiwa itu. Pendataan warga terdampak gempa terus dilakukan oleh tim reaksi cepat (TRC)," ujarnya.
Berdasarkan rilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) titik koordinat gempa 1,04 LS - 120,23 BT atau 42 kilometer arah Tenggara Kota Palu dengan kedalaman 10 kilometer.
BMKG menegaskan bahwa gempa tidak berpotensi tsunami, karena pusat gempa berada di darat, gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah terdampak yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una, guncangan menyebabkan kepanikan masyarakat yang berhamburan keluar rumah, maupun bangunan untuk menyelamatkan diri.
"Kami meminta masyarakat tidak panik dan selalu memperbaharui informasi dari pemerintah. Kami juga meminta masyarakat menyaring informasi di media sosial supaya tidak terjebak hoaks," ucap Rizal.
Data sementara dirilis BPBD Sulawesi Tengah sekitar delapan orang menjadi korban, dua diantaranya luka berat patah tulang dan benturan kepala warga Desa Kamarora, kemudian enam orang mengalami luka ringan di Kabupaten Sigi.





