Isu Air Galon Sebabkan Pubertas Dini Dinilai Menyesatkan, IAKMI Paparkan Faktanya
Muhamad Syarif Abdussalam June 16, 2026 06:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Anggapan bahwa pubertas dini pada anak dipicu oleh kebiasaan mengonsumsi air minum dari galon guna ulang berbahan polikarbonat dinilai tidak tepat karena belum didukung bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, menegaskan hingga saat ini belum terdapat temuan ilmiah yang mampu menjelaskan secara rasional bahwa air minum dari galon guna ulang polikarbonat menjadi penyebab terjadinya pubertas dini pada anak.

Menurut Hermawan, berkembangnya opini tersebut tidak terlepas dari keberadaan Bisphenol A (BPA) yang digunakan sebagai salah satu bahan dalam proses pembentukan polikarbonat.

"Pubertas dini akibat mengonsumsi air dari galon guna ulang itu probabilitas semu. Kalau BPA-nya sendiri yang dikonsumsi baru bisa memicu genetik karena sifat toxic zat tersebut," kata Hermawan di Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan BPA pada galon guna ulang berbahan polikarbonat telah diatur oleh regulator melalui standar yang ketat. Karena itu, kandungan tersebut tidak dapat langsung dikaitkan dengan munculnya gangguan kesehatan, termasuk pubertas dini.

"Jadi memang galon mengandung BPA tapi dalam kadar yang sangat aman dan terstandar," ujarnya.

Hermawan menerangkan, pubertas dini merupakan kondisi ketika proses kematangan seksual berlangsung lebih cepat dibandingkan rata-rata usia normal. Pada anak perempuan, pubertas umumnya terjadi pada rentang usia 11 hingga 12 tahun. Sementara pada anak laki-laki, proses tersebut lazim terjadi sekitar usia 15 tahun.

Ia menilai, munculnya pubertas dini dipengaruhi oleh beragam faktor yang saling berkaitan. Lingkungan tempat tumbuh, pola interaksi sosial, hingga jenis makanan yang dikonsumsi dapat memengaruhi keseimbangan hormon anak.

"Tapi memang pubertas itu bisa distimulasi oleh berbagai hal. Bisa karena kontak sosial yang terlalu terbuka, tapi bisa juga karena faktor lingkungan, makanan yang mempengaruhi hormonal, dan yang paling pokok juga pergaulan. Ini bisa memicu," katanya.

Hermawan juga menyebutkan bahwa kasus pubertas dini tergolong tidak banyak ditemukan. Kondisi tersebut diperkirakan hanya terjadi pada sekitar satu dari setiap 5.000 anak.

"Tapi pubertas ini memang kasus yang tidak umum karena dia sifatnya lebih cepat dari rata-rata maka disebut kasus yang jarang," ujarnya.

Di sisi lain, Ahli Teknologi Pangan Hermawan Seftiono menjelaskan bahwa BPA dan galon polikarbonat merupakan dua hal yang berbeda. BPA berfungsi sebagai bahan baku pembentuk polikarbonat, namun struktur kimianya berubah ketika melalui proses pembentukan material tersebut.

Ketua Program Studi Ilmu Teknologi Pangan Universitas Trilogi itu mengatakan bahwa BPA tidak mudah berpindah ke dalam air minum apabila tidak terdapat paparan panas dengan intensitas ekstrem.

"Pada suhu tinggi baru komponen BPA bisa lepas dari kemasan polikarbonat. BPA tidak akan bisa lepas dari kemasan pangan tanpa panas atau energi yang besar," kata Hermawan Seftiono.

Ia mengungkapkan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menetapkan ambang batas aman migrasi BPA pada kemasan pangan sebesar 0,6 mg per kilogram.

Menurutnya, hasil temuan yang ada selama ini menunjukkan kadar BPA masih berada di bawah batas maksimum yang telah ditentukan regulator.

"Sebenarnya BPA pada kemasan tidak mudah lepas, karena BPA berinteraksi dengan karbonat membentuk polimer polikarbonat," katanya.

Sebelumnya, BPOM juga telah menegaskan bahwa galon guna ulang berbahan polikarbonat yang beredar di masyarakat tetap aman digunakan sebagai kemasan air minum.

Melalui keterangan resminya, BPOM menyebut pemakaian galon polikarbonat secara berulang tidak meningkatkan risiko perpindahan BPA ke dalam air minum.

"Beberapa penelitian internasional juga menunjukkan penggunaan kemasan polikarbonat termasuk galon AMDK secara berulang tidak meningkatkan migrasi BPA," tulis BPOM.

BPOM turut mengutip hasil kajian Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) yang menyatakan bahwa tingkat paparan BPA dari galon polikarbonat masih terlalu rendah untuk menimbulkan risiko terhadap kesehatan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.