TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Ketukan alat musik tradisional terdengar di tengah permukiman Padukuhan Kaliberot, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta pada Selasa (16/6/2026) siang.
Berdasarkan pantauan Tribunjogja.com, suara tersebut datang dari pasukan bregada. Pasukan tersebut terlihat tertib berjalan dari area permukiman penduduk menuju Sendang Sumur Gedhe Kaliberot.
Tepat di bagian belakang barisan tersebut terdapat penari, pembawa air sumur tujuh sumber, dan gunungan hasil bumi. Kehadiran mereka menandakan Upacara Adat Nawu Sendang Sumur Gedhe yakni tradisi membersihkan sumur secara turun temurun.
Dukuh Kaliberot, Supardi, berujar, tradisi itu menjadi bagian untuk menyambut 1 Suro. Namun, Sendang Sumur Gedhe dahulunya menjadi sumber kehidupan yakni mandi, masak, cuci, pengairan pertanian, dan sebagainya. Apalagi, sendang tersebut terdapat mata air alami, sehingga airnya bersih.
"Luasannya sekitar 100 meter dan dalamnya ada sekitar tiga meter. Dari saya lahir, sedang itu sudah ada. Tapi, sekarang hanya tinggal untuk pengairan lahan pertanian. Karena sekarang, kalau kebutuhan masyarakat dalam mandi, cuci, minum, dan memasak sudah pakai air PDAM," ucapnya, di sela-sela Upacara Adat Nawu Sendang Sumur Gedhe.
Dikatakannya, air dalam Sendang Sumur Gedhe sendiri tidak pernah surut. Walau musim kemaru panjang tiba, debit air tersebut tidak banyak surut. Maka dari itu, melalui gelaran Upacara Adat Nawu Sendang Sumur Gedhe, pihaknya ingin melestarikan tradisi yang sudah ada.
Ia pun mengaku senang, tradisi itu terus diketahui oleh masyarakat dalam setiap tahunnya. Bahkan, pada saat ini, tidak hanya dari kalangan orang tua saja, namun terdapat orang berbagai kalangan usia yang turut serta menonton dan memeriahkan tradisi tersebut.
"Melalui tradisi ini, tentu saja kami ingin melestarikannya. Kami juga ingin memberikan pendidikan kepada adik-adik atau anak-anak bahwa terdapat pendidikan sekaligus sejarah yang ada di lingkungan sekitar," kata Supardi.
Lebih lanjut, di akhir acara tersebut juga terdapat proses penanaman pohon sebagai upaya untuk menjaga lingkungan setempat maupun menjaga keseimbangan alam. Selain itu, terdapat gelaran produk UMKM yang diharapkan dapat mengangkat potensi produk lokal.
Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul, Yanatun Yunadiana, berujar, Upacara Adat Nawu Sendang Sumur Gedhe sudah dijalankan sejak puluhan tahun lalu.
"Ini adalah salah satu upaya pelestarian adat istiadat yang ada di masyarakat. Kemudian yang kedua adalah upaya dalam rangka pelestarian lingkungan yaitu pelestarian sumber daya air," ujarnya.
Yanatun berujar bahwa Sendang Sumur Gedhe itu sendiri menjadi sumber mata air Pamsimas dan mengairi lebih dari 200 KK warga setempat. Dengan adanya Upacara Adat Nawu Sendang Sumur Gedhe ini menjadi pengingat kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan setempat.
"Selain kebersihan lingkungan juga menjadi upaya penanaman dengan menanam pohon. Kami sangat mengapresiasi acara seperti ini, karena selain melestarikan budaya juga untuk melestarikan lingkungan," papar dia.
Sebagai bentuk dukungan kebudayaan setempat, pihaknya turut memberikan fasilitas berupa kesenian jathilan. Pihaknya berharap, fasilitas itu tidak hanya sebagai sarana hiburan kepada masyarakat, tetapi juga melestarikan adat dan lingkungan setempat.
Agenda itu pun dihadiri oleh Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta. Aris turut menyampaikan, bahwa Upacara Adat Nawu Sendang Sumur Gedhe menjadi tradisi yang digelar dalam setiap tahunnya.
"Ini suatu tradisi yang setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat Kaliberot. Kali ini, kita didampingi oleh sejumlah pihak dan tokoh masyarakat yang menunjukkan bahwa tradisi ini selalu dilaksanakan untuk mencerminkan bahwa masyarakat yang guyub rukun dan kompak," tandas dia.(nei)