Laporan Wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz
TRIBUNPALU.COM, PARIGI MOUTONG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong memperbarui data dampak Gempa Bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang terjadi Selasa (16/6/2026) sekitar pukul 11.27 Wita.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Parigi Moutong hingga pukul 17.00 Wita, jumlah rumah warga yang mengalami kerusakan bertambah menjadi 15 unit.
Rumah-rumah yang terdampak tersebar di Desa Boyantongo Kecamatan Parigi Selatan, Desa Tolai dan Desa Torue Kecamatan Torue, serta Desa Sausu Trans Kecamatan Sausu.
Di Desa Boyantongo, kerusakan terjadi pada empat rumah yang berada di Dusun 3, 4, dan 6.
Satu rumah lainnya yang berada di Dusun 5 Desa Tolai juga dilaporkan mengalami kerusakan. Seorang lansia tercatat sebagai warga terdampak di lokasi tersebut.
Baca juga: Gempa, Bayi Baru Lahir Dievakuasi ke Halaman RSUD Torabelo Sigi
Sementara itu, Desa Torue menjadi wilayah dengan jumlah rumah rusak terbanyak.
Sebanyak sembilan rumah yang berada di Dusun 1, 2, 3 dan 5 dilaporkan mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.
Selain itu, satu rumah milik warga di Dusun 6 Desa Sausu Trans, Kecamatan Sausu, turut terdampak.
BPBD Parigi Moutong memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Hingga saat ini, belum terdapat laporan kerusakan fasilitas umum maupun dampak terhadap sektor perkebunan dan pertanian.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Parigi Moutong bersama Babinsa, aparat desa dan masyarakat masih melakukan asesmen dan kaji cepat di lapangan.
Baca juga: Pascagempa M6,7, BPBD Parigi Moutong Tetapkan Status Tanggap Darurat dan Dirikan Posko
BPBD juga terus berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat guna mempercepat pendataan dan penanganan dampak gempa.
Kebutuhan mendesak yang dibutuhkan saat ini berupa logistik penanggulangan bencana serta bahan penutup bangunan seperti terpal.
Hingga laporan dirilis, warga di sejumlah wilayah terdampak masih bertahan di luar rumah dan bangunan.
Gempa susulan masih terjadi sehingga masyarakat belum berani kembali masuk ke rumah masing-masing.(*)