Muharram Bukan Bulan Naas, Ini Makna dan Pesan Optimisme dalam Tahun Baru Islam
Saldy Irawan June 16, 2026 08:07 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, SIDRAP — Bulan Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriah.

Di balik datangnya bulan pertama dalam Islam itu, tersimpan pesan optimisme, harapan, serta ajakan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Institut Agama Islam (IAI) DDI Mangkoso, Prof. Dr. Muhammad Agus mengenai makna Muharram.

Ia menekankan bahwa Rasulullah SAW telah mencontohkan umatnya untuk menyambut pergantian bulan dengan doa dan harapan baik.

Disebutkan, salah satu tuntunan Nabi Muhammad SAW ketika memasuki bulan baru adalah memanjatkan doa kepada Allah SWT agar bulan yang datang menjadi bulan yang dipenuhi kebaikan dan petunjuk.

"Segala puji bagi Allah yang telah membawa pergi bulan ini dan mendatangkan bulan ini. Jika pergantian itu dari Zulhijjah menuju Muharram, maka Rasulullah mengajarkan doa yaitu Alhamdulillahilladzi zahaba bi syahri Dzulhijjah wa jaa'a bi syahri Muharram," ujarnya Profesor Agus saat dikonfirmasi melalu pesan WhatsApp, Selasa (16/6/2026).

Doa tersebut bermakna segala puji hanya milik Allah yang telah membawa pergi bulan Zulhijjah dan mendatangkan bulan Muharram.

Menurutnya, doa itu bukan sekadar ucapan rutin, tetapi mengandung makna mendalam.

"Di samping kita memohon petunjuk dan kebaikan dari Allah, sebenarnya dalam menyambut bulan baru terdapat doa tafaul, yaitu menjadikan bulan ini sebagai simbol datangnya kebaikan dan petunjuk," katanya.

Ia menjelaskan, penetapan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah juga berkaitan erat dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah yang kemudian dijadikan dasar penanggalan Islam.

Pada masa Rasulullah SAW, umat Islam telah mengenal nama bulan dan tanggal.

Namun, belum ada penetapan tahun sebagaimana kalender Hijriah saat ini.

"Baru pada masa Sayyidina Umar bin Khattab ditetapkan tahun Hijriah. Ketika itu terjadi diskusi yang cukup panjang di antara para sahabat mengenai peristiwa apa yang akan dijadikan patokan," jelasnya.

Prof Agus menjelaskan bahwa ada yang mengusulkan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai awal kalender Islam.

Sebagian lainnya mengusulkan peristiwa Isra Mikraj.

Namun akhirnya, para sahabat sepakat menjadikan hijrah Nabi dari Mekkah ke Madinah sebagai titik awal penanggalan Islam.

"Peristiwa hijrah dipilih karena mengandung makna perjuangan meninggalkan sesuatu yang buruk menuju sesuatu yang lebih baik. Di sana tersirat optimisme agar hari esok lebih baik daripada hari-hari sebelumnya," tuturnya.

Ia juga mengungkapkan fakta menarik mengenai Muharram.

Meski Nabi Muhammad SAW berhijrah pada bulan Rabiul Awal, Muharram justru ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah.

Menurutnya, ada dua hikmah di balik keputusan tersebut.

"Pertama, karena Rasulullah telah berniat untuk berhijrah sejak bulan Muharram meskipun pelaksanaannya terjadi pada Rabiul Awal. Ini menjadi isyarat bahwa niat baik telah dicatat dan dinilai oleh Allah, sekalipun belum sempat diwujudkan," lanjutnya.

Ia mengutip hadis Nabi SAW yang berbunyi, Niyyatul mu'min khairun min 'amalihi, yang berarti niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya.

"Kalau belum mampu melakukan kebaikan, paling tidak jangan berhenti berniat untuk berbuat baik. Sebab niat baik itu sudah memiliki nilai di sisi Allah SWT," ujarnya.

Hikmah kedua berkaitan dengan posisi Muharram yang datang setelah berakhirnya bulan Zulhijjah.

Zulhijjah merupakan bulan pelaksanaan ibadah haji.

Berakhirnya bulan tersebut menandai kembalinya para jamaah haji ke tanah air dalam keadaan suci setelah menunaikan rukun Islam kelima.

"Karena itu, Muharram dijadikan sebagai bulan pertama dengan harapan kita memasuki tahun baru dengan semangat kesucian sebagaimana sucinya para jamaah haji setelah menyelesaikan ibadah hajinya," tuturnya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk meluruskan pemahaman yang masih menganggap Muharram sebagai bulan yang identik dengan kesialan atau musibah.

"Datangnya bulan Muharram bukan datangnya keburukan. Muharram adalah simbol datangnya kebaikan dan keselamatan. Karena itu, anggapan bahwa Muharram merupakan bulan naas harus diubah. Justru bulan ini mengajarkan optimisme, harapan, dan semangat untuk menjadi lebih baik," tutupnya.

 

 

Laporan ReporterSidrap: Hardiyanti Kamaluddin

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.