SURYAMALANG.COM, MALANG - Dekorasi berbahan dasar tanah liat dan keramik kembali populer di media sosial. Tika pun tak mau melewatkan momen ini untuk menghias ruangan di kantornya dengan dekorasi berbahan dasar tanah liat dan keramik.
Pegawai bank asal Malang ini sengaja datang ke Kampung Keramik Dinoyo untuk mencari hiasan yang akan dipajang di kantornya.
"Saya mencari pot bunga dari keramik yang bentuknya unik dan lucu-lucu," ujar Tika kepada SURYAMALANG.COM, Sabtu (13/6).
Tika mengetahui pusat kerajinan yang berada di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang ini berkat rekomendasi dari kerabat dekatnya.
Berdasarkan informasi tersebut, Tika tertarik membuktikan sendiri keberagaman dan keunikan bentuk produk yang dihasilkan oleh para perajin lokal asli Malang tersebut.
"Katanya, barang di sini lucu-lucu dan unik. Makanya saya datang ke sini," imbuhnya.
Tika cukup terkejut melihat variasi produk yang dijajakan di Kampung Keramik Dinoyo. Menurutnya, pilihan produk keramik yang tersedia sangat melimpah dan tidak monoton.
Pengunjung memiliki banyak alternatif untuk mencari barang yang memiliki nilai estetika tinggi. "Barangnya banyak sekali pilihannya. Tidak hanya pot bunga, tapi juga ada piring lucu-lucu, dan bentuknya unik-unik," tuturnya.
Kampung Keramik Dinoyo termasuk tempat wisata edukasi sangat legendaris di Kota Malang. Kawasan di Jalan MT Haryono ini dikenal sebagai sentra perajin keramik sejak puluhan tahun lalu.
Kawasan ini menjadi jujugan favorit para orang tua yang ingin mengajak anak-anaknya untuk mengisi waktu libur dengan kegiatan yang produktif dan kreatif.
Kampung Keramik Dinoyo menawarkan beragam produk keramik dengan harga yang sangat variatif. Harga tergantung pada jenis, ukuran, dan tingkat kerumitan pembuatan.
Misalnya pProduk pesanan khusus dari Bali dijual mulai dari harga Rp 2.000 sampai Rp 10.000 per buah. Produk reguler yang ready stock di galeri dijual mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 5.000 untuk item premium.
Saat ini komoditas yang paling laris manis diburu pembeli adalah produk suvenir, gelas (mug), piring hias, dan vas bunga. "Biasanya pesanan vas bunga akan melonjak tajam menjelang dan selama Ramadan," kata Siono Nur Rizky, perajin dan pemilik toko.
Siono menyebut masih banyak kunjungan di Kampung Keramik Dinoyo, mulai dari siswa TK, SD, sampai mahasiswa. "Rata-rata mereka ingin belajar membuat keramik," terang Siono.
Siono menjelaskan tidak ada syarat khusus bagi wisatawan yang ingin berkunjung dan melihat langsung proses pembuatan keramik. Pengunjung bisa langsung datang ke lokasi.
Namun, ada aturan berbeda yang diberlakukan bagi kelompok akademisi. "Kalau mahasiswa yang ingin wawancara atau penelitian harus membawa surat keterangan resmi dari kampus atau fakultasnya," tambahnya.
Selain mahasiswa, pengunjung maupun pelanggan didominasi oleh kelompok ibu-ibu serta wisatawan mancanegara. "Biasanya ibu-ibu membeli suvenir untuk pernikahan," katanya.
Siono memanfaatkan platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas. "Alhamdulillah masih banyak pembeli di tempat saya, karena saya sering mengunggah video di media sosial. Banyak pengunjung yang tahu tempat ini dari media sosial," tambahnya.
Meskipun banyak pengunjung, Siono dan para perajin keramik lainnya harus memutar otak di tengah situasi ekonomi yang dinamis.
Kenaikan harga bahan baku dan kenaikan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang mencapai 25 persen menjadi tantangan berat yang memicu penurunan jumlah kunjungan wisatawan.
Saat ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG, awalnya kondisi penjualan dan kunjungan terbilang stabil.
"Lambat laun pengunjung agak berkurang dibandingkan sebelum kenaikan BBM dan LPG," terang Siono. Yang paling terasa dampaknya itu kenaikan bahan baku dan LPG," ujarnya.